Selamat datang di website Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama

27 April 2020

MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI

MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET

(Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)

 

 

Oleh : AHMAD FAQIH, SP.

Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur

 

PENDAHULUAN

Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca.

Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50.

Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif.

Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %).

Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.

 

PEMBAHASAN

Definisi budaya literasi

Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia.

Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis.

Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset.

Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi

Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan.

Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah.

Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat.

Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset.

Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal yang menyangkut permasalahan sekolah, perbaikan pelayanan belajar mengajar, pengembangan kebijakan baru, upaya peningkatan motivasi belajar dan sejenisnya. Karenanya SBR sejatinya adalah merupakan konsep pengembangan sekolah.

Ide untuk melibatkan guru dalam kegiatan penelitian pendidikan dan dalam pengembangan kurikulum telah dikampanyekan oleh beberapa pakar pendidikan, misalnya Lawrence Stenhouse pada tahun 1960-1970an, yang merupakan pakar pendidikan Inggris, Jean Rudduck pada tahun 1980an, dan Donald McIntyre pada era 1990an, dimana keduanya dari Cambridge University (Wilson, 2010).

Istilah yang sedikit berbeda dengan Sekolah Berbasis Riset  adalah Sekolah Riset (SR).  Dalam konsep SR, siswa menjadi motor utama penelitian yang bertemakan keilmuan sesuai dengan mata pelajaran yang diperolehnya. Gelar sebagai sekolah riset harus dibuktikan dengan banyaknya hasil penelitian siswa yang dihasilkan bahkan diikutkan dalam kompetisi.

Baik konsep SBR maupun SR, kedua-duanya memiliki ruh yang sama, yaitu membudayakan penelitian di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraannya, keduanya dapat berjalan secara seiring, selaras dan saling menunjang. Apabila konsep Sekolah Riset pada umumnya dikembangkan pada jenjang pendidikan menengah, karena skill meneliti dan metode penelitian umumnya mulai diajarkan di level ini, maka konsep Sekolah Berbasis Riset dapat diterapkan di semua jenjang pendidikan. Sederhananya, SBR berperan sebagai payung kegiatan penelitian di sekolah, dan SR menjadi salah satu komponennya.

Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar sejak pertengahan tahun 2014, menekadkan diri untuk menjadi istitusi pendidikan dengan keunggulan science dan riset. Keunggulan science dalam hal ini dimaknai bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar (KBM) didesain dengan menggunakan pendekatan saintific.

KBM dengan pendekatan scientific secara sederhana dapat dimaknai bahwa dalam KBM yang dirancang mengandung unsur aktifitas mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating) dan mengkomunikasikan (communicating). Diantara yang tergolong aktifitas mengamati adalah melihat, mengamati, membaca, mendengar, menyimak (tanpa dan dengan alat).

Sementara yang tergolong aktifitas menanya adalah mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke yang berhipotesis, diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan). Sedangkan aktifitas menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan yang diajukan, menentukan sumber data (benda, dokumen, buku, eksperimen) dan mengumpulkan data dapat digolongkan sebagai contoh aktifitas mencoba (experimenting).

Sedangkan contoh kegiatan yang tergolong dalam aktifitas menalar antara lain menganalisa data dalam bentuk kategori, menentukan hubungan data/kategori, menyimpulkan dari hasil analisa data. Lalu kegiatan menyampaikan hasil konseptualisasi, dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya, dalam kerangka pendekatan scientific tergolong ke dalam jenis aktifitas mengkomunikasikan. Sementara itu jenis model pembelajaran yang kental dengan pendekatan scientific antara lain; research based learning, project based learning, discovery learning dan collaborative learning.

Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar meyakini bahwa implementasi KBM dengan pendekatan saintific akan secara signifikan memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembangnya budaya literasi di kalangan warga sekolah (siswa dan guru). Hal ini terutama dipicu oleh aktifitas experimenting dimana siswa harus membaca buku dan referensi lain, aktifitas associating dimana siswa membutuhkan bahan bacaan untuk menganalisa, menghubungkan dan menyimpulkan data dan informasi serta pada aktifitas communicating dimana peserta didik harus menulisakan hasil belajarnya untuk disampaikan kepada pihak lain.

Sementara itu keunggulan riset secara singkat dimaknai dengan mengimplementasikan kegiatan riset sebagai salah satu metode belajar mengajar pada setiap mata pelajaran.  Sejatinya, implementasi nyata dari keunggulan riset di Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar adalah wujud dari research based learning atau pembelajaran berbasis riset (PBR).  Harapannya, keunggulan ini dapat meningkatkan penguasaan konsep, keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan berfikir secara sistematis dan ilmiah. Dengan begitu, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif.

Secara teoritik, PBR didasarkan pada filosofi konstruktivisme yang mencakup 4 (empat) aspek yaitu: pembelajaran yang membangun pemahaman peserta didik, pembelajaran dengan mengembangkan prior knowledge, pembelajaran yang merupakan proses interaksi sosial dan pembelajaran bermakna yang dicapai melalui pengalaman nyata. Dengan adanya kegiatan riset pada setiap mata pelajaran di Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar, secara ideal diharapkan akan tercipta proses pembelajaran yang mengarah pada aktifitas analisis, sintesis, dan evaluasi serta meningkatkan kemampuan peserta didik dan guru dalam hal asimilasi dan aplikasi pengetahuan.

Menurut Roach M. (dalam Yunus, 2014, hal 83)  Secara ringkas, Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan metode pembelajaran yang menggunakan authentic learning (harus ada contoh nyata), problem-solving (menjawab kasus dan konstektual), cooperative learning (bersama), contextual (hands on & minds on), dan inquiry discovery approach (menemukan sesuatu) yang didasarkan pada filosofi konstruktivisme (yaitu pengembangan diri siswa yang berkesinambungan dan berkelanjutan).

Implementasi pembelajaran berbasis riset membutuhkan modal berupa kreativitas. PBR membutuhkan sosok aktor-aktor yang memiliki keterampilan berpikir kreatif serta gairah literasi yang baik. Pengembangan keterampilan berpikir kreatif dan penerapan pendekatan saintifik pada peserta didik  yang dimulai sejak awal didukung dengan gairah membaca dan menulis, akan membentuk kebiasaan cara berpikir sistematis dan  ilmiah dalam diri peserta didik  yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya di kemudian hari.

Beberapa literatur menyetarakan PBR dengan project-based learning karena hampir tidak ada proyek yang tidak melibatkan penelitian (yaitu evaluasi). Namun demikian “research in classroom” belum banyak diadopsi sebagai metode pembelajaran. Diantara manfaat yang dapat diperoleh ketika mengimplementasikan PBR adalah :

  1. Peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi dan lebih aktif di dalam proses pembelajaran dikarenakan kegiatan belajar mengajar menjadi kontekstual, lebih nyata dan lebih bermakna.
  2. Peserta didik memiliki kemandirian, kritis, dan kreatif sehingga memberikan peluang munculnya ide dan inovasi baru.
  3. Peserta didik mengalami pengembangan dan peningkatan kapabilitas dan kompetensi dalam hal berpikir secara kritis, sitematis dan analitik, identifikasi  dan pemecahan masalah
  4. Peserta didik terlatih dengan nilai-nilai disiplin, mendapatkan pengalaman praktik dan etika khususnya etika profesi misalnya menjauhkan diri dari perilaku buruk misalnya plagiarisme
  5. Peserta didik terasah untuk menumbuhkan budaya literasi karena dibiasakan untuk membaca referensi dan membuat karya tulis.

Pada titik ini, kegiatan riset di Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar merupakan instrumen penting dalam akselerasi peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar pada setiap mata pelajaran. Kegiatan riset yang dijalani siswa juga bagian tak terpisahkan dari upaya menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya budaya literasi di Sekolah. Karena dalam menjalani tugas risetnya, siswa secara tidak langsung pasti akan melakukan aktifitas membaca dan menulis (literasi).

Kegiatan membaca bahan referensi mereka butuhkan untuk mampu menyusun proposal seperti menulis latar belakang penelitian, kajian pustaka maupun metodologi penelitiannya. Belum lagi disaat mengolah dan menganalisis data, menuliskan pembahasan serta menyimpulkan hasil penelitian.

Secara faktual, berdasarkan dokumen laporan hasil riset siswa diketahui bahwa rata-rata siswa mencantumkan 4 (empat) judul referensi yang terdiri dari  2 buah judul buku  dan 2 buah artikel yang dibaca dari internet. Bila dihitung secara keseluruhan, terdapat 7 mata pelajaran yang mengagendakan tugas riset dalam kegiatan belajar mengajarnya, maka berarti setiap peserta didik setidaknya telah membaca 14 judul buku dan 14 judul artikel dalam rangka penyelesaian tugas-tugas penelitiannya.

Fakta diatas nampaknya selaras dengan data kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan sekolah. Sebelum tahun ajaran 2014/2015 rata-rata kunjungan siswa ke perpustakaan hanya berkisar antara 15 sd 20 % dr keseluruhan populasi siswa. Angka peminjamannya pun sangat rendah, hanya berkisar antara 20-35% dari jumlah pengunjung perpustakaan. Semenjak dicanangkannya keunggulan science dan riset, angka kunjungan melonjak menjadi 35-40% dan angka peminjaman naik pada kisaran 40-45% dari jumlah pengunjung perpustakaan.

Di sisi lain, jumlah laporan hasil penelitian pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 20 judul penelitian, sedangkan pada tahun 2016/2017 naik menjadi 27 judul penelitian. Fakta-fakta diatas mengindikasikan bahwa budaya literasi sudah mulai bersemi di Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.

Penerapan sistem KBM dengan pendekatan saintific dan KBM yang memasukkan kegiatan riset (PBR) sebagai salah satu metode belajar mengajar pada setiap mata pelajaran, telah memperlihatkan indikasi korelasi yang cukup signifikan dalam mendorong pertumbuhan budaya literasi di Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar Jombang. Dengan kedua keunggulan tersebut peserta didik secara tak langsung masuk kedalam lingkungan yang mendorong dirinya untuk merasa “butuh membaca” serta menghasilkan karya tulis.

 

PENUTUP

Kesimpulan dan harapan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset, akan mendorong tersedianya ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Diluar itu, keunggulan science dan riset memberikan bonus ekstra berupa tersemainya budaya literasi di kalangan peserta didik. Hal ini dikarenakan keunggulan science dan riset dapat mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya budaya literasi di Sekolah.

Secara jujur harus diakui, proses pembelajaran yang didesain oleh kebanyakan guru saat ini terkadang masih mengebiri potensi siswa didik. Alih-alih berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan dan menantang, proses pembelajaran seringkali berlangsung monoton dan membosankan bahkan memiliki kecenderungan mematikan benih-benih literasi yang ada dalam diri siswa.

Semoga konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset diharapkan dapat menjadi “oase” untuk menyelesaikan problem ini. Wallahu a’lam bisshowab.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://www.kompasiana.com/iswararusniady0177/5e3bf079d541df5d8e5ed573/pisa-2018-kemampuan-literasi-membaca-pelajar-indonesia-jeblok-berada-di-10-besar-terbawah-dari-79-negara, diakses tanggal 23 April 2020

 

Lukman Solihin dkk., , 2019, Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

 

https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1524, Indikator Sosial Budaya 2003, 2006, 2009, dan 2012,  diakses tanggal 8 Nopember 2016.

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, Budaya, diakses tanggal 7 Nopember 2016.

 

http://www.triniharyanti.Id/2014/02, Membangun Budaya Literasi dengan Pendekatan Kultural Di Kultural Di Komunitas Adat, diakses tanggal 10 November 2016

 

https://murniramli.wordpress.com/2012/03/10, makalah pengembangan sekolah berbasis riset, diakses pada 18 Agustus 2016

 

http://susantronika.blogspot.co.id/2011/08, model pembelajaran inovatif berbasis riset, diakses pada 18 Agustus 2016

 

Koran Replubika, 2014, Literasi Indonesia Sangat Rendah, terbit tanggal 15 Desember 2014

 

Pusat Pengembangan Pendidikan, Kantor Jaminan Mutu, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, 2010, Pedoman  Umum Pembelajaran Berbasis Riset (PUPBR), Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta

 

Tim Broad Based Education Depdiknas, 2002, Kecakapan Hidup Life Skill Melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas, Surabaya : SIC.MBA

 

Wilson, Elaine, 2010, School based Research, A Guide for education Students, London, SAGE, Ebook diakses dari https://books.google.co.id

 

Yunus A, 2014, Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Melalui Pengembangan Budaya Kampus Berbasis Riset (Research-Based University), Jurnal Menara Tebuireng, Vol. 10, No. 01 September 2014, Jombang.

 

 

 

Kemendikbud Sesuaikan Juknis Dana BOS di Masa Darurat Covid-19
Men-silent-kan Ibadah

Comment(1)

  1. Reply
    comment Mofid says

    Josss

Post a comment