Selamat datang di website Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama

Profil Pelajar Pancasila Wewujudkan Program Nawacita

24 May 2021

Dr. Romi Siswanto, M.Si.*

  1. PENDAHULUAN

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bagian akhir bagian Pembukaan mengamanatkan agar melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, inti dari kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa adalah penyelenggaraan pendidikan. ... 

Read more

Beasiswa Pendidikan Guru, Siapa Yang Bertanggungjawab?

24 May 2021

Dr. H. Heri Kuswara, M.Kom*

Pagi hari sambil seruput kopi manis sedikit pahit, saya sangat terenyuh membaca informasi pada detik.com (Rabu, 19 Mei 2021 07:25 WIB) dengan headline news yang sangat memprihatinkan yaitu “Komisi X Prihatin Guru Dipecat Gegara Pinjol: Potret Buram Pendidikan di RI!”. Keprihatinan itu sangat beralasan mengingat alasan pinjol tersebut digunakan untuk  menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) yang disyaratkan tempatnya mengajar. Huda (Syaiful Huda)  selaku Ketua Komisi X DPR yang salah satunya membidangi pendidikan  mengatakan “Kasus ini harus ditangkap sebagai potret buram pendidikan di Tanah Air, terutama bagaimana masih minimnya perhatian pemerintah kepada nasib guru honorer,”. Bahkan huda akan memperjuangan beberapa hal diantaranya: (1) kemungkinan pemberian beasiswa agar yang bersangkutan bisa menyelesaikan pendidikan S1-nya, (2) Mencarikan skema terbaik untuk membantu proses penyelesaian utang guru tersebut dan (3) berharap pemerintah segera merealisasikan pengangkatan sejuta guru honorer menjadi ASN. ... 

Read more

Puasa dan Kesenangan

27 March 2021

PUASA DAN KESENANGAN

Oleh : Erik Alga Lesmana*

Pada dasarnya manusia tidak ingin merasa lapar, ia ingin selalu makan agar terjaga dari rasa kenyang. Manusia tidak bisa lari dari kesenangan, kesukaan, selera, kemauan, keinginan dan kepentingan pribadinya. Bahkan semua yang kita lakukan terikat kuat untuk memenuhi kesenangan pribadi kita. ... 

Read more

Refleksi Hari Guru|Pergunu Kota Depok

22 November 2020
Guru adalah orang pertama sebagai peletak pondasi masa depan bangsa dan negara. Termasuk guru ngaji tradisional yang kehadirannya di tengah masyarakat masih masih sangat dibutuhkan. Merekalah yang memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, terutama cara membaca Al-Quran.   Di antara guru yang berdedikasi dalam mengajar itu adalah Rabiatul Adawiyah. Sudah tiga tahun ini ia aktif menjadi anggota Persatuan Guru NU (Pergunu). Pertama kali ikut kegiatan Pergunu di Kota Depok, walaupun tinggalnya di wilayah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Kesehariannya Wiwi, sapaan akrabnya, menjadi guru di PAUD Al-Kautsar di Citayam.   Guru tamatan SMK Nusantara tiga tahun silam ini, mengabdikan diri mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dengan jadwal sore hari hingga malam, Wiwi tercatat sebagai mahasiswi S1 di Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jurusan Matematika di kawasan Jakarta Selatan.   “Alhamdulillah saya bisa melanjutkan jenjang kuliah saat ini. Berkat dorongan orang tua dan para guru. Tidak banyak dari teman-teman seangkatan yang bisa melanjutkan belajar, karena keterbatasan ekonomi maupun tuntutan keluarga. Di kampung saya, biasanya tamatan SMK harus bekerja utuk membantu ekonomi keluarga,” tutur Wiwi.   Kondisi keluarga tak menyurutkan semangat Wiwi untuk terus belajar. Di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu saja keadaan ekonomi keluarganya ikut terimbas. Salah satunya adalah ayahnya terkena pemutusan hubungan kerja. Wiwi dipaksa berpikir keras, ikut membantu ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan kuliahnya.   Ia mencoba sejumlah cara. Berjualan penganan seperti cireng, pisang goreng kriuk, cilok dan bakso, yang semuanya dijajakan secara online.   Ia terbiasa bangun pukul empat  pagi untuk membeli bahan-bahan kue tersebut di pasar. Pagi hari jajanannya harus sudah siap dijajakan.   “Sekarang saya membantu keluarga dengan berbagai cara. Saya bersyukur bisa menjalaninya dengan baik. Saya tetap bisa mengajar dan menjalani perkuliahan,” ujarnya dengan nada tegar.   Selesai menyiapkan dagangan, Wiwi akan mengajar di PAUD. Lalu dilanjutkan dengan kuliah online hingga malam hari. Ia mengakui mengajar di PAUD ini menjadi tantangan tersendiri. Sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi pemasukan dari iuran bulanan orang tua murid. Semua terimbas, tapi pendidikan anak harus tetap berjalan.   “Insya Allah dengan niat tulus, saya tetap harus mengajar murid-murid. Saya percaya Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.”   Aktifitas Pergunu juga tak ia tinggalkan. Ia rajin menghadiri kegiatan rapat dan seminar online. Wiwi mengaku sangat senang bisa ikut dan menjadi anggota persatuan guru NU ini. Selain menambah relasi, ia merasa banyak mendapatkan ilmu.   Bagaimana dengan berbagai bantuan Pemerintah yang saat ini banyak beredar di media sosial?   “Sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya kan di kampung, dan belum tahu caranya,” kata Wiwi berterus terang.   Ia berharap Pergunu bisa membantunya mengakses bantuan pemerintah itu. Ia juga ingin tetap melanjutkan kuliah hingga berkesempatan untuk diwisuda. Yang pasti, mengajar sudah menjadi jiwa perjuangannya.  
Read more

Menjaga Semangat Literasi di Tengah Pandemi

6 November 2020

Pendidikan di masa pandemi karena covid-19 seakan “menghentikan denyut nadi pendidikan”. Tatap muka beralih menjadi tatap maya, faktual berganti menjadi virtual, sistem pembelajaran yang dulunya mungkin hanya dilakukan oleh kalangan tertentu sekarang menjadi sesuatu yang biasa. Video conference yang dilakukan untuk kalangan terbatas sekarang sudah menjadi aktifitas keseharian guru dan siswa (google meet, zoom meeting, vidconf dan sebagainya). Terhentikah Proses Belajar Mengajar (PBM)? Ternyata tidak dan memang sejatinya tidak boleh berhenti. Banyak cara kalau mau dan banyak alasan kalau menolak.

Dunia pendidikan adalah dunia pengetahuan dan penelitian. Pengetahuan didapatkan dari berbagai sumber ilmu. Pengetahuan saat ini benar-benar sangat mudah diakses sehingga seakan-akan saat ini kita tidak ada lagi yang bodoh dan sepertinya keterlaluan kalau ada yang bodoh. Berbagai media menjadi sumber pengetahuan. Tapi itu hanya sebatas pengetahuan via digital yang tentu pasti beda dengan pengetahuan karena mendapatkan informasi dari salah satu sumber ilmu yakni guru.

Bicara tentang sumber ilmu, maka membaca adalah pintunya. Lagi-lagi kita diingatkan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama yang menginspirasi kalangan Arab khususnya kala itu dan menginspirasi manusia sesudahnya hingga har ini. ‘Iqra’ sebagai ‘bacalah’ mengisyaratkan dua hal, baca dengan mata sebagai panca indramu dan baca dengan hatimu apa yang ada disekitarmu.

Prof. Abuddin Nata (2017) menjelaskan kosakata Iqra’ yang berarti baca, bukan hanya mengandung arti membaca huruf-huruf atau angka-angka dalam bentuk kata-kata atau kalimat sebagaimana yang dipahami, melainkan mengandung arti research (penelitian), baik penelitian eksploratif dengan mengandalkan kemampuan bahasa, pembersihan diri dengan mengandalkan intuisi yang bersih yang siap menerima ilmu dari Tuhan, penggunaan eksperimen dengan mengandalkan pancaindera, observasi dan demontrasi argumentatif  atau logika deduktif dan induktif. Hal ini sejalan dengan makna generic al-iqra, yakni mengumpulkan atau menghimpun. Hal ini sama artinya dengan research yang berarti menemukan.

Membaca sesungguhnya adalah aktifitas keseharian guru dan siswa. Karenanya semangat ini akan selalu tumbuh dan berkembang pada jiwa guru dan siswa. Hanya pertanyaan berikutnya, sejauh mana frekuensi membaca buku tentang keilmuan dan membaca informasi yang selain itu kaitannya dengan PBM. Di tengah pandemi saat ini, dapat dilihat dan mungkin kita mengalami untuk anak-anak kita dirumah, kedekatan mereka dengan PBM sangat terbatas –untuk tidak mengatakan jauh sekali menurunnya-. Menjaga semangat agar ‘dekat dengan PBM’ selayaknya di sekolah adalah kekhawatiran positif. Apa kiat-kiat yang bisa kita lakukan selaku guru untuk menjaga spirit ini agar tetap terjaga bahkan bisa menemukan pengetahuan baru dalam rangka menjaga spirit literasi ini?

Pertama, karena tujuannya adalah menjaga spirit literasi maka guru hendaknya tidak menekankan pada literatur yang wajib dibaca dan kaku sifatnya, (harus buku ini, harus sumber ini). Guru hanya perlu menjadi mediator dengan memberikan tema umum (silakan cari dan kaji buku tentang ‘penciptaan alam semesta’, buku dengan tema ‘sejarah kemerdekaan Indonesia’).

Kedua, tugas literasi (meskipun banyak yang sudah melakukan) bisa dengan cara mengambil tema yang menjadi materi PBM (tentu mengacu ke kurikulum) yang kemudian resume buku ini nantinya akan dicetak sebagai karya siswa kelas sekian dan jurusan ini. Siswa akan terpacu jika namanya dimuat dalam buku resmi dengan penerbit dan di-ISBN-kan.

Ketiga, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa dilakukan dengan menkontekskan ayat-ayat al-Quran dengan deskripsi keseharian. Misalnya gambar ini berkaitan dengan surat apa dan ayat berapa. Jadi menghubungkan gambar dengan teks ayat al-Quran.

Keempat, dengan terbiasanya zoom meeting atau video conference maka media ini bisa dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan menulis singkat, atau bertahap dengan menghadirkan pembicara yang memiliki keahlian dibidangnya atau dengan curhat peserta tentang tulis-menulis. Jadi semua peserta adalah pembicara dengan waktu yang dibatasi.

Tulisan di atas kiat-kiat yang bisa menjadi acuan yang dapat dikembangkan lagi lebih jauh. Intinya adalah jangan sampai spirit literasi melemah di tengah pandemi. Semoga Menginspirasi.

****************

Oleh Sholihin H.Z.

(Penulis & Guru MAN 2 Pontianak)

Read more

Nilai Patriotisme dan Religius Pakaian Santri

24 October 2020

oleh: Erik Alga Lesmana

Sekitar tahun 1980-an, keberadaan santri dapat dilihat dan dibedakan dengan mudah antara santri dengan pelajar yang lain. Misalnya untuk mengetahui santri, tubuhnya dibungkus dengan sarung, baju lengan panjang dan kopiah serta alas kaki ala kadarnya. Sebaliknya apabila terdapat pelajar yang mengenakan celana, berdasi dan bersepatu, jelas ia bukan dari kalangan santri. ... 

Read more

Potret Pengabdian Santri untuk Masyarakat

22 October 2020

oleh: Erik Alga Lesmana

Istilah santri identik dengan pelajar yang menempuh pendidikan agama di lingkungan pesantren dan diasuh langsung oleh seorang Kiai. Tiga elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dan selalu berkaitan, yaitu; santri, kiai dan pesantren. Pesantren merupakan tempat belajar ilmu agama yang paling relevan dari dulu hingga sekarang. Sistem pendidikan tertua di Indonesia ini tidak bisa dipungkiri keberhasilannya dalam melahirkan lulusan-lulusan yang cukup berpengaruh baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. ... 

Read more

Grand Design NU, Oase 75 tahun Indonesia

24 August 2020

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. ... 

Read more

PPDB dan Abnormal Persepsi Pendidikan

30 June 2020

Oleh: Ahmad Faqih
Sekretaris PW PERGUNU Jawa Timur

Setiap menjelang tahun akademik baru, di tengah masyarakat selalu muncul polemik terkait kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Apalagi di tahun ini regulasi PPDB tak hanya jalur zonasi tempat tinggal tapi juga jalur prestasi, mutasi dan afirmasi. Usia peserta didik dan latar belakang kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan kuota penerimaan.

Tapi kenapa polemik PPDB selalu muncul dan berulang? Terlihat sekali betapa calon konsumen lembaga pendidikan begitu mendamba untuk bisa bersekolah di sekolah negeri. Kenapa keberadaan lembaga pendidikan swasta (sekolah dan PT) seolah menjadi kasta kedua dalam peradaban pendidikan di negeri ini? Padahal di manca negara, pada umumnya private school (sekolah/kampus swasta) lebih diminati dari pada public school (sekolah/kampus negeri). Bahkan bagi masyarakat di luar negeri, bersekolah di privet school dianggap lebih bergengsi (prestise).

Fenomena PPDB seperti ini, setidaknya menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia kepada sekolah negeri relatif lebih tinggi dibanding kepada sekolah swasta. Umumnya pertimbangan utama konsumen dalam memilih lembaga pendidikan adalah faktor mutu dan biaya. Saat ini, persepsi yang tertanam dibenak mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa sekolah negeri secara mutu “lebih unggul”. Atau mereka menganggap biaya pendidikan di sekolah negeri lebih terjangkau.

Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini, terdapat banyak lembaga pendidikan swasta yang mutu dan layanan pendidikannya tidak kalah dengan negeri bahkan mungkin lebih unggul. Bahkan dibanyak daerah, sekolah swasta prestasinya melampaui sekolah negeri. Pada umumnya sekolah swasta lebih menonjol pada aspek layanan pedagogis, aspek penanaman ahlaq, perkembangan kepribadian peserta didik serta pengembangan kreatifitas dan kemandirian (life skill). Beberapa diantaranya mengaplikasikan system pendidikan berbasis boarding school (asrama/pesantren).

Dari segi biaya pendidikan, saat ini di berbagai penjuru tanah air, telah banyak berdiri sekolah swasta yang menawarkan layanan pendidikan bermutu dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Sebagian diantaranya juga menyediakan skema beasiswa bagi golongan ekonomi yang kurang mampu. Tapi mengapa hingga hari ini persepsi itu masih tertanam? Mengapa kesetaraan pandang itu belum terjadi.

Hingga hari ini, pemerintah tidak memiliki sumberdaya dan energi yang memadai untuk memberikan layanan pendidikan dengan tanpa melibatkan civil society. Karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk “mensejajarkan derajat” sekolah swasta dengan sekolah negeri.

Seyogyanya, terlebih dahulu harus dilakukan “zonasi” guru dan tenaga kependidikan” (baca redistribusi). Guru dan PTK yang berprestasi harus terlebih dahulu dipetakan dan disebar untuk memberikan “modal” yang setara antar sekolah. Sehingga kesenjangan antar sekolah bisa diminimalisir. Yang dulunya dianggap tidak favorit bisa memiliki “modal tambahan” untuk merebut trust masyarakat.

Sementara guru dan PTK yang kurang qualified, segera dilakukan upgrade melalui pembinaan dan training yang intensif dan sistematis. Pada garapan ini, organisasi profesi guru penting untuk dilibatkan.

Perlu juga disiapkan regulasi yang memungkinkan untuk mengeliminasi mereka yang tetap unqualified setelah menjalani proses upgrading. Mereka harus digantikan oleh SDM baru yang sebelumnya telah tersertifikasi /terjamin kualifikasinya. Hal ini menjadi krusial, mengingat lendidikan adalah layanan jasa yang menentukan masa depan generasi bangsa (manusia).

Diluar faktor SDM, pemerintah juga dapat melakukan intervensi melalui upaya pemenuhan dan standarisasi sarana prasarana pendidikan di sekolah swasta. Pemerintah harus memunculkan kebijakan afirmasi dibidang ini, baik melalui regulasi maupun realokasi anggaran yang dimiliki.

Pendirian sekolah baru harus terlebih dahulu memenuhi syarat minimal ketersedianan sarpras pendukung pendidikan. Sementara sekolah swasta yang terlanjur berdiri harus dipastikan memenuhi standar ketersediaan sarpras pendukung. Bisa melalui skema kerja sama antara institusi penyelenggara dengan pemerintah. Karena keterbatasan anggaran pemerintah yang tersedia, misalnya bantuan dana dari pemerintah hanya bisa diberikan bila institusi pengelola turut serta menyiapkan sekian persen dana yang dibutuhkan untuk pengadaan sarpras tersebut.

Disisi lain, kebijakan zonasi dan pagu dalam PPDB, seharusnya juga diterapkan di lingkup madrasah negeri. Dengan cara ini berkah (baca side effect) kebijakan akan mengalir secara optimal ke sekolah/madrasah swasta. Selama ini madrasah negeri dengan “unlimited” zona dan pagu-nya lebih banyak mendapat serapan limpahan murid dari sekolah negeri. Dengan bertambahnya jumlah murid di sekolah swasta, tentu dengan sendirinya mereka akan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan peningkatan mutu dan perbaikan layanan.

Yang tak kalah penting, seyogyanya private school diberikan ruang yg lebih luas utk berkreasi dalam menawarkan sajian menu (kurikulum) dan layanan pendidikan. Perlu deregulasi aturan bagi private school agar tercipta keunggulan-keunggulan genuine berbasis kearifan dan potensi lokal. Dengan keunggulan dan keunikan tersebut diharapkan private school akan mampu merebut trust dari masyarakat.

Saatnya lembaga pendidikan swasta lebih gigih berjuang untuk membalik persepsi dan keadaan. Saatnya pemerintah mengambil langkah-langkah out of the box untuk mengakselerasi terwujudnya kesejajaran.

Dengan begitu, kita bisa berharap akan terwujud perubahan persepsi masyarakat. Bahwa sekolah swasta tak kalah mutunya dari pada sekolah negeri. Bahwa bersekolah di lembaga pendidikan swasta justru lebih bergengsi serta membawa prestise. Wellcome to new normal pendidikan, selamat tinggal abnormal persepsi pendidikan.
Bagaimana menurut anda?

Read more

Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

6 May 2020

Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

Oleh: Dr. Romi Siswanto, M.Pd* ... 

Read more