Selamat datang di website Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama

Refleksi Hari Guru|Pergunu Kota Depok

22 November 2020
Guru adalah orang pertama sebagai peletak pondasi masa depan bangsa dan negara. Termasuk guru ngaji tradisional yang kehadirannya di tengah masyarakat masih masih sangat dibutuhkan. Merekalah yang memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, terutama cara membaca Al-Quran.   Di antara guru yang berdedikasi dalam mengajar itu adalah Rabiatul Adawiyah. Sudah tiga tahun ini ia aktif menjadi anggota Persatuan Guru NU (Pergunu). Pertama kali ikut kegiatan Pergunu di Kota Depok, walaupun tinggalnya di wilayah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Kesehariannya Wiwi, sapaan akrabnya, menjadi guru di PAUD Al-Kautsar di Citayam.   Guru tamatan SMK Nusantara tiga tahun silam ini, mengabdikan diri mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dengan jadwal sore hari hingga malam, Wiwi tercatat sebagai mahasiswi S1 di Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jurusan Matematika di kawasan Jakarta Selatan.   “Alhamdulillah saya bisa melanjutkan jenjang kuliah saat ini. Berkat dorongan orang tua dan para guru. Tidak banyak dari teman-teman seangkatan yang bisa melanjutkan belajar, karena keterbatasan ekonomi maupun tuntutan keluarga. Di kampung saya, biasanya tamatan SMK harus bekerja utuk membantu ekonomi keluarga,” tutur Wiwi.   Kondisi keluarga tak menyurutkan semangat Wiwi untuk terus belajar. Di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu saja keadaan ekonomi keluarganya ikut terimbas. Salah satunya adalah ayahnya terkena pemutusan hubungan kerja. Wiwi dipaksa berpikir keras, ikut membantu ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan kuliahnya.   Ia mencoba sejumlah cara. Berjualan penganan seperti cireng, pisang goreng kriuk, cilok dan bakso, yang semuanya dijajakan secara online.   Ia terbiasa bangun pukul empat  pagi untuk membeli bahan-bahan kue tersebut di pasar. Pagi hari jajanannya harus sudah siap dijajakan.   “Sekarang saya membantu keluarga dengan berbagai cara. Saya bersyukur bisa menjalaninya dengan baik. Saya tetap bisa mengajar dan menjalani perkuliahan,” ujarnya dengan nada tegar.   Selesai menyiapkan dagangan, Wiwi akan mengajar di PAUD. Lalu dilanjutkan dengan kuliah online hingga malam hari. Ia mengakui mengajar di PAUD ini menjadi tantangan tersendiri. Sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi pemasukan dari iuran bulanan orang tua murid. Semua terimbas, tapi pendidikan anak harus tetap berjalan.   “Insya Allah dengan niat tulus, saya tetap harus mengajar murid-murid. Saya percaya Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.”   Aktifitas Pergunu juga tak ia tinggalkan. Ia rajin menghadiri kegiatan rapat dan seminar online. Wiwi mengaku sangat senang bisa ikut dan menjadi anggota persatuan guru NU ini. Selain menambah relasi, ia merasa banyak mendapatkan ilmu.   Bagaimana dengan berbagai bantuan Pemerintah yang saat ini banyak beredar di media sosial?   “Sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya kan di kampung, dan belum tahu caranya,” kata Wiwi berterus terang.   Ia berharap Pergunu bisa membantunya mengakses bantuan pemerintah itu. Ia juga ingin tetap melanjutkan kuliah hingga berkesempatan untuk diwisuda. Yang pasti, mengajar sudah menjadi jiwa perjuangannya.  
Read more

Menjaga Semangat Literasi di Tengah Pandemi

6 November 2020

Pendidikan di masa pandemi karena covid-19 seakan “menghentikan denyut nadi pendidikan”. Tatap muka beralih menjadi tatap maya, faktual berganti menjadi virtual, sistem pembelajaran yang dulunya mungkin hanya dilakukan oleh kalangan tertentu sekarang menjadi sesuatu yang biasa. Video conference yang dilakukan untuk kalangan terbatas sekarang sudah menjadi aktifitas keseharian guru dan siswa (google meet, zoom meeting, vidconf dan sebagainya). Terhentikah Proses Belajar Mengajar (PBM)? Ternyata tidak dan memang sejatinya tidak boleh berhenti. Banyak cara kalau mau dan banyak alasan kalau menolak.

Dunia pendidikan adalah dunia pengetahuan dan penelitian. Pengetahuan didapatkan dari berbagai sumber ilmu. Pengetahuan saat ini benar-benar sangat mudah diakses sehingga seakan-akan saat ini kita tidak ada lagi yang bodoh dan sepertinya keterlaluan kalau ada yang bodoh. Berbagai media menjadi sumber pengetahuan. Tapi itu hanya sebatas pengetahuan via digital yang tentu pasti beda dengan pengetahuan karena mendapatkan informasi dari salah satu sumber ilmu yakni guru.

Bicara tentang sumber ilmu, maka membaca adalah pintunya. Lagi-lagi kita diingatkan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama yang menginspirasi kalangan Arab khususnya kala itu dan menginspirasi manusia sesudahnya hingga har ini. ‘Iqra’ sebagai ‘bacalah’ mengisyaratkan dua hal, baca dengan mata sebagai panca indramu dan baca dengan hatimu apa yang ada disekitarmu.

Prof. Abuddin Nata (2017) menjelaskan kosakata Iqra’ yang berarti baca, bukan hanya mengandung arti membaca huruf-huruf atau angka-angka dalam bentuk kata-kata atau kalimat sebagaimana yang dipahami, melainkan mengandung arti research (penelitian), baik penelitian eksploratif dengan mengandalkan kemampuan bahasa, pembersihan diri dengan mengandalkan intuisi yang bersih yang siap menerima ilmu dari Tuhan, penggunaan eksperimen dengan mengandalkan pancaindera, observasi dan demontrasi argumentatif  atau logika deduktif dan induktif. Hal ini sejalan dengan makna generic al-iqra, yakni mengumpulkan atau menghimpun. Hal ini sama artinya dengan research yang berarti menemukan.

Membaca sesungguhnya adalah aktifitas keseharian guru dan siswa. Karenanya semangat ini akan selalu tumbuh dan berkembang pada jiwa guru dan siswa. Hanya pertanyaan berikutnya, sejauh mana frekuensi membaca buku tentang keilmuan dan membaca informasi yang selain itu kaitannya dengan PBM. Di tengah pandemi saat ini, dapat dilihat dan mungkin kita mengalami untuk anak-anak kita dirumah, kedekatan mereka dengan PBM sangat terbatas –untuk tidak mengatakan jauh sekali menurunnya-. Menjaga semangat agar ‘dekat dengan PBM’ selayaknya di sekolah adalah kekhawatiran positif. Apa kiat-kiat yang bisa kita lakukan selaku guru untuk menjaga spirit ini agar tetap terjaga bahkan bisa menemukan pengetahuan baru dalam rangka menjaga spirit literasi ini?

Pertama, karena tujuannya adalah menjaga spirit literasi maka guru hendaknya tidak menekankan pada literatur yang wajib dibaca dan kaku sifatnya, (harus buku ini, harus sumber ini). Guru hanya perlu menjadi mediator dengan memberikan tema umum (silakan cari dan kaji buku tentang ‘penciptaan alam semesta’, buku dengan tema ‘sejarah kemerdekaan Indonesia’).

Kedua, tugas literasi (meskipun banyak yang sudah melakukan) bisa dengan cara mengambil tema yang menjadi materi PBM (tentu mengacu ke kurikulum) yang kemudian resume buku ini nantinya akan dicetak sebagai karya siswa kelas sekian dan jurusan ini. Siswa akan terpacu jika namanya dimuat dalam buku resmi dengan penerbit dan di-ISBN-kan.

Ketiga, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa dilakukan dengan menkontekskan ayat-ayat al-Quran dengan deskripsi keseharian. Misalnya gambar ini berkaitan dengan surat apa dan ayat berapa. Jadi menghubungkan gambar dengan teks ayat al-Quran.

Keempat, dengan terbiasanya zoom meeting atau video conference maka media ini bisa dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan menulis singkat, atau bertahap dengan menghadirkan pembicara yang memiliki keahlian dibidangnya atau dengan curhat peserta tentang tulis-menulis. Jadi semua peserta adalah pembicara dengan waktu yang dibatasi.

Tulisan di atas kiat-kiat yang bisa menjadi acuan yang dapat dikembangkan lagi lebih jauh. Intinya adalah jangan sampai spirit literasi melemah di tengah pandemi. Semoga Menginspirasi.

****************

Oleh Sholihin H.Z.

(Penulis & Guru MAN 2 Pontianak)

Read more

Nilai Patriotisme dan Religius Pakaian Santri

24 October 2020

oleh: Erik Alga Lesmana

Sekitar tahun 1980-an, keberadaan santri dapat dilihat dan dibedakan dengan mudah antara santri dengan pelajar yang lain. Misalnya untuk mengetahui santri, tubuhnya dibungkus dengan sarung, baju lengan panjang dan kopiah serta alas kaki ala kadarnya. Sebaliknya apabila terdapat pelajar yang mengenakan celana, berdasi dan bersepatu, jelas ia bukan dari kalangan santri. ... 

Read more

Potret Pengabdian Santri untuk Masyarakat

22 October 2020

oleh: Erik Alga Lesmana

Istilah santri identik dengan pelajar yang menempuh pendidikan agama di lingkungan pesantren dan diasuh langsung oleh seorang Kiai. Tiga elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dan selalu berkaitan, yaitu; santri, kiai dan pesantren. Pesantren merupakan tempat belajar ilmu agama yang paling relevan dari dulu hingga sekarang. Sistem pendidikan tertua di Indonesia ini tidak bisa dipungkiri keberhasilannya dalam melahirkan lulusan-lulusan yang cukup berpengaruh baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. ... 

Read more

Grand Design NU, Oase 75 tahun Indonesia

24 August 2020

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. ... 

Read more

PPDB dan Abnormal Persepsi Pendidikan

30 June 2020

Oleh: Ahmad Faqih
Sekretaris PW PERGUNU Jawa Timur

Setiap menjelang tahun akademik baru, di tengah masyarakat selalu muncul polemik terkait kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Apalagi di tahun ini regulasi PPDB tak hanya jalur zonasi tempat tinggal tapi juga jalur prestasi, mutasi dan afirmasi. Usia peserta didik dan latar belakang kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan kuota penerimaan.

Tapi kenapa polemik PPDB selalu muncul dan berulang? Terlihat sekali betapa calon konsumen lembaga pendidikan begitu mendamba untuk bisa bersekolah di sekolah negeri. Kenapa keberadaan lembaga pendidikan swasta (sekolah dan PT) seolah menjadi kasta kedua dalam peradaban pendidikan di negeri ini? Padahal di manca negara, pada umumnya private school (sekolah/kampus swasta) lebih diminati dari pada public school (sekolah/kampus negeri). Bahkan bagi masyarakat di luar negeri, bersekolah di privet school dianggap lebih bergengsi (prestise).

Fenomena PPDB seperti ini, setidaknya menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia kepada sekolah negeri relatif lebih tinggi dibanding kepada sekolah swasta. Umumnya pertimbangan utama konsumen dalam memilih lembaga pendidikan adalah faktor mutu dan biaya. Saat ini, persepsi yang tertanam dibenak mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa sekolah negeri secara mutu “lebih unggul”. Atau mereka menganggap biaya pendidikan di sekolah negeri lebih terjangkau.

Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini, terdapat banyak lembaga pendidikan swasta yang mutu dan layanan pendidikannya tidak kalah dengan negeri bahkan mungkin lebih unggul. Bahkan dibanyak daerah, sekolah swasta prestasinya melampaui sekolah negeri. Pada umumnya sekolah swasta lebih menonjol pada aspek layanan pedagogis, aspek penanaman ahlaq, perkembangan kepribadian peserta didik serta pengembangan kreatifitas dan kemandirian (life skill). Beberapa diantaranya mengaplikasikan system pendidikan berbasis boarding school (asrama/pesantren).

Dari segi biaya pendidikan, saat ini di berbagai penjuru tanah air, telah banyak berdiri sekolah swasta yang menawarkan layanan pendidikan bermutu dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Sebagian diantaranya juga menyediakan skema beasiswa bagi golongan ekonomi yang kurang mampu. Tapi mengapa hingga hari ini persepsi itu masih tertanam? Mengapa kesetaraan pandang itu belum terjadi.

Hingga hari ini, pemerintah tidak memiliki sumberdaya dan energi yang memadai untuk memberikan layanan pendidikan dengan tanpa melibatkan civil society. Karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk “mensejajarkan derajat” sekolah swasta dengan sekolah negeri.

Seyogyanya, terlebih dahulu harus dilakukan “zonasi” guru dan tenaga kependidikan” (baca redistribusi). Guru dan PTK yang berprestasi harus terlebih dahulu dipetakan dan disebar untuk memberikan “modal” yang setara antar sekolah. Sehingga kesenjangan antar sekolah bisa diminimalisir. Yang dulunya dianggap tidak favorit bisa memiliki “modal tambahan” untuk merebut trust masyarakat.

Sementara guru dan PTK yang kurang qualified, segera dilakukan upgrade melalui pembinaan dan training yang intensif dan sistematis. Pada garapan ini, organisasi profesi guru penting untuk dilibatkan.

Perlu juga disiapkan regulasi yang memungkinkan untuk mengeliminasi mereka yang tetap unqualified setelah menjalani proses upgrading. Mereka harus digantikan oleh SDM baru yang sebelumnya telah tersertifikasi /terjamin kualifikasinya. Hal ini menjadi krusial, mengingat lendidikan adalah layanan jasa yang menentukan masa depan generasi bangsa (manusia).

Diluar faktor SDM, pemerintah juga dapat melakukan intervensi melalui upaya pemenuhan dan standarisasi sarana prasarana pendidikan di sekolah swasta. Pemerintah harus memunculkan kebijakan afirmasi dibidang ini, baik melalui regulasi maupun realokasi anggaran yang dimiliki.

Pendirian sekolah baru harus terlebih dahulu memenuhi syarat minimal ketersedianan sarpras pendukung pendidikan. Sementara sekolah swasta yang terlanjur berdiri harus dipastikan memenuhi standar ketersediaan sarpras pendukung. Bisa melalui skema kerja sama antara institusi penyelenggara dengan pemerintah. Karena keterbatasan anggaran pemerintah yang tersedia, misalnya bantuan dana dari pemerintah hanya bisa diberikan bila institusi pengelola turut serta menyiapkan sekian persen dana yang dibutuhkan untuk pengadaan sarpras tersebut.

Disisi lain, kebijakan zonasi dan pagu dalam PPDB, seharusnya juga diterapkan di lingkup madrasah negeri. Dengan cara ini berkah (baca side effect) kebijakan akan mengalir secara optimal ke sekolah/madrasah swasta. Selama ini madrasah negeri dengan “unlimited” zona dan pagu-nya lebih banyak mendapat serapan limpahan murid dari sekolah negeri. Dengan bertambahnya jumlah murid di sekolah swasta, tentu dengan sendirinya mereka akan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan peningkatan mutu dan perbaikan layanan.

Yang tak kalah penting, seyogyanya private school diberikan ruang yg lebih luas utk berkreasi dalam menawarkan sajian menu (kurikulum) dan layanan pendidikan. Perlu deregulasi aturan bagi private school agar tercipta keunggulan-keunggulan genuine berbasis kearifan dan potensi lokal. Dengan keunggulan dan keunikan tersebut diharapkan private school akan mampu merebut trust dari masyarakat.

Saatnya lembaga pendidikan swasta lebih gigih berjuang untuk membalik persepsi dan keadaan. Saatnya pemerintah mengambil langkah-langkah out of the box untuk mengakselerasi terwujudnya kesejajaran.

Dengan begitu, kita bisa berharap akan terwujud perubahan persepsi masyarakat. Bahwa sekolah swasta tak kalah mutunya dari pada sekolah negeri. Bahwa bersekolah di lembaga pendidikan swasta justru lebih bergengsi serta membawa prestise. Wellcome to new normal pendidikan, selamat tinggal abnormal persepsi pendidikan.
Bagaimana menurut anda?

Read more

Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

6 May 2020

Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

Oleh: Dr. Romi Siswanto, M.Pd* ... 

Read more

Dunia Literasi, Dunia Islam (Refeleksi Kemajuan Literasi di Era Abbasiyah)

6 May 2020

Dunia Literasi, Dunia Islam

(Refeleksi Kemajuan Literasi di Era Abbasiyah)

Oleh: Sholihin H. Z.*

(*Penulis E-books: Yang Sedikit Yang Menginspirasi)

(*PC Pergunu Kota Pontianak)

 

Pendahuluan

Berakhirnya kekhalifahan amirul mukminin di masa khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib maka berakhir pula periode khulafaurrasyidin sejak diawali oleh Abu Bakar Shiddiq tahun 632 M hingga berakhirnya pemerintahan Ali bin Abi Thalib tahun 661 M.

Ahli sejarah mencatat bahwa di era khulafaurrasyidin yang mendekati masa berkuasa tiga puluh tahun adalah tertatanya hubungan kemasyarakatan baik dari luar maupun dari dalam. (Dar al-‘Ilm, 2011: 57)

Selanjutnya dengan segala peristiwa yang terjadi di kala itu, pemerintahan Islam dipegang oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dengan mendirikan dinasti Umayyah. Nama Umayyah sendiri dinisbatkan kepada Umayyah bin Khalaf yang merupakan pemimpin Quraisy dan ketua Bani Jumah. Muawiyah bernama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Dengan demikian, hubungan antara Muawiyah dan Umayyah adalah antara cucu dan kakek. Hubungan keluarga yang masih sangat dekat.

Berkuasa selama lebih kurang 90 tahun, akhirnya dinasti umayyah mengalami penurunan dan digantikan oleh Bani Abbasiyah yang berkuasa hingga 500 tahun (750 – 1258 M/132-656 H). Nama Abbasiyah dilekatkan kepada paman Rasulullah yang paling muda yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Di era inilah Islam dan kaum muslimin mencapai puncak kejayaannya sehingga menjadi mercusuar bagi negara-negara di sekitarnya, menjadi sumber pengetahuan bahkan peradaban dimana ilmu pengetahuan menjadi dasar pijakannya sehingga berbagai gerakan keilmuan berkembangan dengan pesat dan maju.

Sesungguhnya, maju dan jayanya Bani Abbasiyah ini sedikit banyak juga dirintis oleh kejayaan era Bani Umayyah. Benson Bobrick dalam bukunya  The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad (2013: 18, diterj. Indi Aunullah) menyebutkan diantara keunggulan Bani Umayyah adalah kedigdayaan pasukan laut di Mediterania Timur yang menjaga keutuhan kerajaan. Adanya inovasi di bidang administrasi seperti dioperasionalkannya sistem pos seperti jasa ekspress, standardisasi pembuatan uang logam, penetapan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara. Dari sisi kemasyarakatan dan sastra, menjamurnya majlis sastra, syair dan musik. Ilmu hadit, tafsir dan sejarah dibukukan. Dari sis kebudayaan, mazhab-mazhab filsafat dan ilmu ketuhanan dipelajari, bahkan ilmu medis dankimia Yunani pun ikut dipelajari. Dari sisi pembangunan, masjid raya didirikan dimana-mana. Pada pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, kota Qairawan dirirkan Uqbanbin Nafi’ pada tahun 50 H. Didirikan pula Kubah Batu Besar yang dibangun di al-Quds. Pembangunan Masjidil Aqshapun ikut dimulai. Dengan demikian, dinasti Umayyah memberikan sumbangsih yang berarti untuk kemajuan Islam berikutnya.

Dinasti Abbasiyah

Nama Abbasiyah dinisbatkan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, kakak dari ayahanda Nabi Muhammad SAW. Pencetus dinasti Abbasiyah dan khalifah pertamanya adalah Abul Abbas Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Gelarnya adalah Abu Abbas Ash-Shaffah. (Dar al-‘Ilm, 2011: 87)

Sejak awal berdirinya Bani Abbasiyah, dinamika politik, sosial budaya dan ekonomi sudah nampak, kuatnya pengaruh khalifah masih bisa mengendalikan situasi yang ada sehingga di periode awal yang merupakan periode pertama di bawah kendali pemuka-pemuka Arab dan Persia segala persoalan masih dapat di atasi.  Periode ini berlangsung antara tahun 750 – 847 M.

Sejarah mencatat, perjalanan era kehalifahan Bani Abbasiyah terus berkembang maju adalah adanya kebijakan dari khalifahnya yang concern dengan ilmu pengetahuan. Politik dan ekonomi juga berkembang namun di bidang ilmu pengetahuan terasa lebih maju dan kuat gairahnya. Di era pemerintahan Bani Abbasiyah inilah muncul dan lahir ilmuwan-ilmuwan Muslim dan ini hampir disemua bidang. Tentu, adanya dukungan dari pemerintah di kala itu menjadi faktor yang tidak bisa dipinggirkan sumbangsihnya, dengan segala kekuasaannya itulah, para khalifah yang terkenal dalam sejarah Bani Abbasiyah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pilar utama kemajuan negerinya.

Ma’ruf (2011: 189) menyebutkan masa puncak kejayaan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudah al-Manshur yaitu al-Mahdi, al-Hadi, Harun ar-Rasyid,al-Ma’mun, al-Mu;tashim, al-Watsiq dan al-Mutawakkil.

Tentang prestasi khalifah Bani Abbasiyah beberapa diantaranya Abul Abbas ash-Shaffah (132 – 136 H) sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang dengan kekuasaannya menggalang berbagai kekuatan untuk kejayaan Abbasiyah, sebagai pendiri dan periode awal Bani Abbasiyah ia mengorganisir kekuatan yang ada untuk mengeksiskan Abbasiyah, di masa ini pula para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politk dan agam sekaligus (Maruf, 2011: 187).

Selanjutnya khalifah kedua, Abu Ja’far al-Manshur (136 – 158 H), masa pemerintahan Al-Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembangan kejayaan Abbasyiah. Prestasinya yang mendukung sepenuhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga memunculkan ghirah dunia muslim terhadap ilmu pengetahuan sehingga berkembang karya-karya sastra, dieranya juga ditetapkan tujuh kebijakan khalifah yang menjadi pedoman pemerintahan Bani Abbasiyah.

Harun al-Rasyid (170 – 193 H), khalifah kelima yang mendirikan bayt al-hikmah (perpustakaan terbesar di zamannya), di eranya menurut Benson Bobrick (ibid, h. 60) ditandai dengan adanya pendelegasian tugas dan pekerjaan negara seperti kekuasaan sipilnya didelegasikan kepada seorang perdana menteri atau wazir, kekuasaan kehakimannya pada seorang hakim atau qadhi,  peran militernya pada seorang jenderal atau amir,  dan dimasa Harun al-Rasyid ini puncak kejayaan dinasti Abbasiyah;

Dilanjutkan Al-Ma’mun al-Rasyid (198 – 218 H) yang merupakan khalifah ketujuh, ia mendirikan lembaga penerjemah kitab dari Yunani Kuno dan India dan menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di abad pertengahan; Kemudian al-Mu’tashim (218 – 227 H) yang dengan usahanya dapat menumbuhkan minat para pelajar muslim dan barat untuk mendalami ilmu pengetahuan. Usahanya juga mendirikan Kota Sarra Man Ra’a yang artinya gembira orang melihatnya. Kota ini kemudian lebih dikenal dengan kota Samarra. Kota Samarra  menjadi kota metropolitan, maju dan berkembang sesudah kota Baghdad.

Sudah disebutkan di atas, bahwa kemajuan Abbasiyah di bidang ilmu pengetahuan mengalami masa kejayaannya ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ahirnya ilmuwan muslim disrtai karyanya yang spektakuler, kita pasti tahu Ibnu Sina yang dikenal dengan ahli kedokterannya, imam Ghazali dengan tasawufnya. Dua olmuwan ini sebagai gambaran betapa majunya Islam untuk bidang saint dan agama. Ini menandakan literasi sudah dikenal dan menjadi brand di eranya.

Sedikit tentang literasi, oleh National Institute for Literacy, literasi diartikan sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Karya-karya yang dihasilkan oleh ilmuwan menunjukkan begitu tingginya semangat keilmuan di kala itu dan ini harus menjadi spirit kita di zaman ini untuk menampilkan kembali geliat keilmuan. Sejarah di era ini membuktikan bahwa kejayaan satu bangsa dapat diraih dengan memprioritaskan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya, dunia literasi adalah salah satunya.

  1. Imam Malik

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas, lahir di, dan meninggal pada tahun 800M / 179H. Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadis, serta pendiri mazhab Maliki. Beliau berumur hampir 90 tahun. Beliau dilahirkan di masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik ibn Marwan dan meninggal di masa khalifah Al Rasyid di Madinah.

Dalam melahirkan produk hukum Islam, Imam Malik banyak berpegang kepada Sunnah Nabi dan sunnah sahabat. Jika terjadi perbedaan ia berpegang pada tradisi yang berlaku pada masyarakat Madinah.

Karya beliau diantaranya al muwatta’, kitab ‘aqdiyah, kitab nujum, hisab madar al zaman, manazil al qamar, kitab tafsir gharib al quran, ahkam al quran, al muwadanah al kubra.

  1. Imam Syafi’i

Imam Syafi’i lahir tahun 105 H di sebuah bandar yang bernama Ghizah di Palestina. Beliau adalah seorang yang memilki semangat keilmuan yang sangat tinggi dan menempatkannya sebagai fuqaha pada tingkatan yang paling tinggi. Satu tradisi kelimuan beliau –sebagaimana ulama lainnya- adalah banyak mengembara dalam menimba ilmu.

Beliau pernah berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam.

Prinsip-prinsip hukum beliau tersebar dalam karyanya terutama ar-Risalah dan al-Umm yang mengantarkannya sebagai seorang master architect jurisprudence (Gibtiyah, 2016: 46). Beliau meninggal di Fustat, Mesir pada tahun 204 H.

  1. Imam Hambali

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Lahir di Baghdad tahun 780 M.

Tentang keadaannya, Imam Syafi’i pernah berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Kitab terkenal yang ditulis oleh Imam Ahmad adalah Al-Musnad Al-Kabir–ensiklopedia hadis–yang sangat monumental, kitab ini memuat tak kurang dari 27 ribu hadis. Ini merupakan karya masterpiece sang Imam dan penelitian hadis yang dinilai terbaik. Ia juga dikenal sebagai ahli dalam urusan bahasa dan sastra. Ia sangat berjasa dalam pengembangan bahasa Arab.

  1. Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia lahir dengan nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad pada tahun 450 H/1059 M di Thus daerah Khurasan dan meninggal tahun 505 H/1111 M.

Sebagai seorang ulama, banyak karyanya dapat dinikmati hingga saat ini bahkan ada yang menjadikan kitabnya sebagai rujukan wajib di kalangan tertentu. Karya-karya tulis Imam Ghazali meliputi berbagai bidang keislaman, kalam, fikih, filsafat dan tasawuf. Ia juga menghimpun akuda, syariat dan akhlak dalam suatu sistematika intensif dan berkesinambungan. Kitab Imam Ghazalilainnya adalah al-Arba’in, Bidayatul Hidayah wal Maakhidzil fil Khilafiyyat, Tahsinul Maakhidz,  al Munqidz mindh Dholal, al-Lubabul Muntakhal, Syifaul Ghalil fi Bayani Masalikit Ta’lil, al-Iqtishad fil I’tiqad, Misykatul Anwar, Bayanu Fadhaihil Imamiyah, Kitabu Asrari Mu’amalatiddin dan masih banyak lainnya.

Banyaknya karya tulis Imam Ghazali menunjukkan ia memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan yang kemudian dituangkan dalam bentuk kitab-kitab yang hingga saat ini masih bisa dijadikan referensi keilmuan.

  1. Al-Faraby

Nama lengkapnya Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi (870-950). Dia lahir di Farab, Kazakhstan. Ia juga dikenal dengan nama lain Abu Nasir al-Farabi (dalam beberapa sumber dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi). Di dunia barat dikenal sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.

Al Farabi dikenal karena kemampuannya di berbagai bidang. Antara lain matematika, filsafat, pengobatan, ilmu alam, teologi, dan musik. Di bidang filsafat, dia merupakan filsuf Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.

Di bidang musik, dialah penemu not musik. Temuan ini ia tulis dalam kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik). Menurutnya, musik dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman. Musik juga mampu mempengaruhi moral, mengendalikan emosi, mengembangkan spiritualitas, dan menyembuhkan penyakit seperti gangguan psikosomatik. Karena itu musik bisa menjadi alat terapi.

  1. Al-Khawarizmi

Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi adalah nama lengkapnya. Nama belakangnya merujuk pada tempat kelahirannya yaitu Khawarizm (sekarang salah satu provinsi di Uzbekistan). Al-Khawarizmi merupakan seorang ahli matematika, ahli astronomi dan ahli geografi. Hasil pemikirannya yang logis dan sistematis memberikan kontribusi pada ilmu-ilmu tersebut di zamannya. Terutama  dalam bidang matematika, ia mungkin merupakan satu dari matematikawan besar yang pernah hidup. Faktanya, ia menemukan beberapa cabang serta konsep dasar matematika.

Salah satu karya besarnya adalah al-Kitab al Mukhtashar fi Hisab al Jabr wal Muqabala. Kitab ini berisikan analisis sistematik dari persamaan linear dan kuadrat dan dunia mengakuinya sebagai penemu al-jabar. Dalam kitab ini diberikan penyelesaian persamaan liear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar.

Demikian juga ilmu aritmatikanya merupakan hasil sintesis dari pengetahuan Sanskerta dan Yunani serta hasil kontribusinya sendiri sebagai dasar yang penting bagi matematika dan ilmu pengetahuan. Ia menjelaskan kegunaan dari angka nol, sebuah angka yang penting dikembangkan bangsa Arab. Selain itu ia mengembangkan sistem desimal, sehingga secara keseluruhan sistem angka, hasil dari difusi angka India ke dalam per-angka-an timur tengah. Buku ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin, algoritmi de numero Indorum sehingga lahirlah ilmu algoritma.

  1. Ibnu Sina

Ibnu Sina merupakan dokter yang karya-karyanya menjadi rujukan dokter di dunia. Biasa dipanggil Avicenna. Lahir di Uzbekistan pada 370 H/ 980 M dan meninggal dunia di Iran pada tahun 1037 M. Selain dibidang kedokteran, Ibnu Sina dikenal juga sebagai ahli di bidang fiqh, matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, metafisika dan filosofi. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan.

Salah satu bukunya yang terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine). Buku ini jadi panduan di bidang kedokteran selama ratusan tahun. Karena keahliannya, Ibnu Sina oleh banyak orang disebut sebagai “Bapak Kedokteran Modern”. Karya beliau lainnya adalah Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan).

Dua buku ini (Qanun fi Thib dan Kitab al-Shifa) menjadi warisan penting bagi dunia kedokteran di Timur maupun Barat.

  1. Imam al-Bukhari

Tanggal 13 Syawal 194 H adalah kelahiran imam besar dalam bidang hadis di Bukhara, sebuah daerah di tepi Sungai Jihun,  Uzbekistan. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari atau yang terkenal dengan sebutan Imam al-Bukhari.

Imam Bukhari disebut memiliki lebih dari seribu guru. Ia sendiri pernah berujar bahwa kitab fenomenalnya, Jami’as as-Sahih, dikumpulkan dari menemui lebih dari 1.080 guru pakar hadis. Imam Bukhari terkenal gigih dalam memburu sebuah hadis.

Perjalanan panjang itu akhirnya membuat sang Imam dapat mengumpulkan sedikitnya 600 ribu hadis. Dari angka tersebut, 300 ribu di antaranya dihafal. Hadis-hadis yang dihafal itu terdiri dari 200 ribu hadis tidak sahih dan 100 ribu hadis sahih.

Selain Jami’as as-Sahih, Imam Bukhari juga menulis kitab-kitab lain seperti Tarikh as-Sagir, Asami as-Sahabah, al-Kuna, dan al-‘Illal yang kesemuanya membahas tentang hadis.

  1. Al-Kindi

Al-Kindi memiliki nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak Al- Kindi. Di dunia Barat ia dikenal dengan sebutan al-Kindus. Al-Kindi lahir pada 809 M di Kufah (sekarang Arab Saudi) dari keturunan suku Kindah, Arab Selatan. Selain sebagai filsuf muslim pertama, Al-Kindi juga dikenal sebagai bapak pelopor berbagai ilmu pengetahuan.

Karya al-Kindi yang sangat terkenal antara lain di bidang studi metafisika yakni Fi al Falsafa al Ula (Filsafat Pertama). Karyanya yang lain adalah Fi Wahdaniya Allah wa Tunahiy Jirm al-Alam (Kesatuan Tuhan dan Terbatasnya Dunia) dan Fi Kammiya Kutub Aristutalis wa Ma Yahtaj Ilahi fi Tahsil al-Falsafa (Kuantitas Buku Aristoteles dan yang Diperlukan untuk Memperoleh Filsafat). Empat volume buku juga tentang penggunaan angka India beliau susun dengan judul On the Use of the Indian Numerals (Ketab fi Isti’mal al-‘Adad al-Hindi). Karya ini memberikan kontribusi besar terhadap difusi sistem penomoran India di Timur Tengah dan Barat.

  1. Imam Muslim

Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H/821 H. Beliau bernama lengkap Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kusyad al-Qusyairi an-Naisaburi. Ayahnya mendidiknya dengan semangat kesalehan dan cinta ilmu yang ia miliki. Imam Muslim memiliki guru yang banyak dengan jumlahnya mencapai 120 orang.

Imam Muslim meninggalkan banyak karya tulis, ilmu yang luas, yang tak layak disia-siakan. Dari sekian banyak karya beliau, ada yang masih ada hingga sekarang. Ada pula yang telah hilang. Di antara karya tulis beliau adalah Ash Shahih (kitab yang paling masyhur), Imam Muslim menghabiskan waktu15 tahun untuk menyusun kitab Shahih-nya.; at Tamyiz; Kitab Amr bin Syu’aib; Al-Intifa’ bi Uhubi as-Siba’; Masyayikh ats-Tsauri; Man Laysa Lahu Illa Rawin Wa Ahadin; Awlad ash-Shahabah; Awham al Muhadditsin; Ath-Thabaqat dan Afrad asy-Syamiyyin.

  1. Umar al-Khayyam

Al-Khayyam merupakan seorang berkebangsaan Persia dan dilahirkan di Nesapor, Iran. Mengenai tanggal lahirnya, ada banyak sumber yang menyebutkan pendapat berbeda. Sejumlah sumber mengatakan Al-Khayyam lahir tahun 440 H (1048 M).

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Fath Ghiyats Ad-Din Umar bin Ibrahim Al-Khayyam An-Naisaburi. Al-Khayyam atau Al-Khayyami adalah nama panggilannya ketika masih muda. Karena pada saat masih muda, ia pernah bekerja sebagai tukang pembuat tenda. Khayyam sendiri artinya pembuat tenda.

Al-Khayyam adalah seorang penyair muslim yang besar. Karyanya yang paling fenomenal adalah “Ruba’iyyat Al-Khayyam” atau yang disebut syair empat baris Al-Khayyam. Ternyata, ia juga memiliki kehalian sebagaiseorang matematikawan dan astronomi.

Ada banyak kontribusi besar yang sudah diberikan Al-Khayyam di bidang matematika. Ia berhasil menyelesaikan 13 macam dari berbagai macam persamaan aljabar.

  1. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd bernama lengkap Abdul Walib bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd di Kordoba, Spanyol. Ia dibesarkan dalam keluarga yang teguh menegakkan agama dan berpengetahuan luas. Ibnu Rusyd belajar matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran kepada ilmuwan kala itu. Di duia Barat ia dikenal dengan nama Averroes, karya tulisnya yang terkenal, al-Kulliyat, telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd sangat berpengaruh di negara-negara Eropa, dan banyak dijaki dtingkat universitas. Keilmuan yang dimiliki Ibnu Rusyd adalah bidang filsafat dan kedokteran.

  1. Ibnu Maskawaih

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Maskawaih. Lahir tahun 941  – 1030 M. Ia seorang ahli sejarah, filsafat dan ahli kimia, penyair juga menjadi julukannya. Ibnu Maskawaih seorang penulis produktif, karyanya antara lain Tartib as-Sa’adah, Tahzib al-Akhlaq, al-Fauz al Kabir/al-Asghar, Tajaribul Umam,

  1. Abu Hasan al-Asy’ari

Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, lahir tahun 260 H/873 M. Sebagian besar hidupnya di Baghdad. Beliau seorang penulis produktif, sedikitnya 90 karya beliau hasilkan dalam berbagai disiplin ilmu. Dari puluhan kitab tersebut, tiga diantaranya yang terkenal adalah Maqalat al-Islamiyyin; Al-Ibanah ‘an Ushuliddiniyyah dan al-Luma.

  1. Ibnu Jarir ath-Thabary

Dilahirkan di Thabaristan tahun 224 H dengan nama lengkap Abu Ja;far Muhammad bin Jarir bin Yazid bi Ktasir bin Ghalib al-Thabary. Sejak belia sudah menimba ilmukeluar dari kota kelahirannya. Dikenal dengan “bapak sejarawan Wafat di Baghdad tahun 310 H dalam usia 76 tahun.

Ilmu yang beliau kuasai adalah sejarah, ilmu qiraat, tafsir dan hadits. Adapun karya tulisnya adalah kitab tafsir, kitab al-qiraat, al-‘aadadu wat tanzil, kitab ikhtilafu al-‘ulama, tarikh ala umamu wa al-mulk, tarikh al-rijal mina ash shahabah wa la-tabi’in, kitab ahkam syara’i al-islam dan kitab ushuluddin.

  1. Abu Zakaria al-Farra

Abu Zakaria al-Farra lahir di Kufah tahun 144 H pada masa pemerintahan Abu Ja’far al-Manshur. Nama lengkap beliau adalah Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin Abdullah bin Manshur ad-Dailami. Karya yang beliau hasilkan adalah Alatul Kitab, Al-Ayyamu Wa Al-Layali, Al-Baha’, al-Jam’u wa Tanbih fi  Quran, Al-Hudud dan Fakhir fil Amtsal

 

Penutup

Membaca sejarah kejayaan Islam di atas (era Umayyah dan Abbasiyah) mengantarkan kita pada begitu cemerlang dan jayanya Islam di kala itu. Turunan sejarah yang dimulai di era Rasulullah SAW (era aktifnya wahyu turun) sebagai inspirator kejayaan Islam dan spirit kemajuan Islam yang kemudian dilanjutkan peletakkan dasar nilai-nilai bermasyarakat, sosial dan pranata lainnya pada era Abu Bakar Shiddiq, Umar al-Faruq, Utsman Dzun Nurain wal Hijratain dan Ali Karromallahu Wajhah atau era khulafaurrasyidin, sejarah berlanjut kepada dua dinasti ini. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ilmuwan muslim dikala itu bukan sekedar hidup untuk hidup, bukan sekedar hidup untuk mempertahankan kehidupan tapi jauh melewati masanya, hidup harus bermakna, salah satu kebermaknaan itu adalah banyaknya karya yang menginspirasi dunia.

Dunia literasi berupa sumbangan dalam soal alih bahasa atau terjemahan dan  penulisan-penulisan ilmu di berbagai bidang menunjukkan bahwa sesusugguhnya dunia literasi bukanlah dunia asing bagi umat Islam. Apapun yang dihasilkan, sumber utama yakni al-Quran Hadits menjadi pegangan utama sehingga apapun karya selalu mendasarkan pada tegaknya Islam dimanapun mereka berada. Di eranya, Islam sebagai sumber perdaban dunia. Dunia Islam adalah Dunia Literasi dan Dunia Literasi adalah Dunia Islam.

 

Referensi

Benson Bobrick, diterj. Indi Aunullah, 2012, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad (Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid, Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam), Pustaka Alvabet: Jakarta

Dar al-‘Ilm, 2011, Atlas Sejarah Islam, Kaysa Media: Jakarta

Gibtiah, 2016, Fikih Kontemporer, Prenadamedia Group: Jakarta

http://hiukece.blogspot.com/2016/11/tokoh-ilmuwan-muslim-pada-masa-bani.html ... 

Read more

Refleksi Sinergi Pendidikan Indonesia Pada Masa Darurat Covid 19

4 May 2020

Refleksi Sinergi Pendidikan Indonesia Pada Masa Darurat Covid 19 ... 

Read more

PENDIDIKAN 2020 DAN COVID-19

3 May 2020

Oleh: Dewi Ismu Purwaningsih

(Sekretaris 2 PW Pergunu Kalbar / Dosen UNU Kalbar)

Mengutip dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang menjadi guru.” Filosofi yang telah ada hampir 100 tahun yang lalu ini mungkin ramalan bagi pendidikan di sekolah pada tahun 2020 ini.

Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan sebagai ramalan. Jika selama ini pelaksanaan pendidikan di sekolah berlangsung di kelas. Maka, memasuki tahun 2020 dan di tengah pandemi covid-19, sistem pendidikan dipaksa untuk berubah.

Kurikulum pendidikan Indonesia telah berganti sebanyak 11 kali. Dimulai dari kurikulum peninggalan belanda pada tahun 1947 hingga pada tahun 2004, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mulai menandakan adanya arah perubahan kurikulum.

Berjalan selama dua tahun, pada tahun 2016 kurikulum Indonesia menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pada kurikulum ini, guru diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa.

Adanya revolusi industri 4.0 yang berpengaruh di semua bidang, termasuk bidang pendidikan membuat Indonesia belajar untuk mengubah sistem pendidikan. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di ruang kelas.

Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran membuat pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan waktu.

Berbagai upaya dilakukan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di bidang pemanfaatan teknologi untuk pendidikan melalui pelatihan dan persiapan sistem pendukung. Belum sempurna sistem pendukung, Pandemi covid-19 mulai melanda Indonesia, memaksa Indonesia untuk menetapkan kebijakan #stayathome.  Semua kegiatan dilakukan di rumah.

Sistem belajar pembelajaran berubah dari di kelas menjadi di rumah. Pembelajaran menggunakan sistem daring. Guru memberikan bahan ajar dan siswa mempelajarinya dari rumah.

Sistem pembelajaran tidak tatap muka mulai menuai kontra pada awal penerapan. Indonesia belum siap dengan sistem ini. Sarana dan prasarana yang belum merata di seluruh Indonesia, dimulai dari ketersediaan jaringan internet hingga perangkat untuk mengakses materi pembelajaran, seperti laptop dan telepon pintar (smartphone).

Selain itu, SDM yang belum siap juga menjadi kendala penerapan sistem baru bidang pendidikan ini. Masih banyak guru dan siswa yang belum memiliki cukup kemampuan dalam mengoperasikan perangkat dan aplikasi pendukung pembelajaran.

Terlepas dari semua itu, nampaknya Covid-19 telah membawa mimpi menjadi terlaksana. Di samping pembelajaran yang dapat terjadi di mana saja, siapapun dapat menjadi guru. Kali ini, guru siswa adalah orang tua. Belajar dari rumah membuat peran orang tua dalam memajukan pendidikan sangat besar.

Orang tua membantu siswa memahami instruksi pembelajaran hingga menyelesaikan tugas. Bahan pembelajaran tambahan dapat diperoleh siswa dari internet, televisi, serta media lainnya, bahkan dari lingkungan sekitar siswa.

Dengan demikian, ‘pandemi’ ini sukses menyambung kembali hubungan antara faktor-faktor pendukung kesuksesan dalam bidang pendidikan. Guru tidak lagi menanggung beban seorang diri sebagai agen pengantar kesuksesan siswa dalam belajar. “Belajar bisa dilakukan dimana saja dan siapa saja bisa menjadi guru.”

“Selamat Hari Pendidikan Nasional”

Read more