Berita Terbaru

  • Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA.

    Jakarta; PP Pergunu Ketua Umum Persatuan Guru Nahdaltul Ulama (PERGUNU) Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengaku prihatin dengan makin tersingkirnya kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai figur penerus PBNU. Sebaliknya, justru kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mulai dominan. Padahal PMII salah satu wadah kaderasi bagi NU yang tidak diragukan lagi keberhasilanya dalam melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh. Selain itu, kaderasi yang dijalankan di tubuh PMII sepenuhnya sudah sejalan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama. “Untuk apa mendirikan PMII, jika Ketua Umum PBNU kader HMI,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim pada acara Rapat Koordinasi Nasional Pergunu di Guest House Kampus Insitut KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (16/10/2021). Kiai Asep berharap agar tidak meragukan kader-kader yang ditempa di tubuh PMII untuk menduduki jabatan di struktural PBNU. Kaderisasi ditingkat paling dasar hingga tingkat tertinggi ditubuh PMII tidak ada yang bertentangan dengan NU, artinya, kader-kader PMII sudah jelas baik dari sisi ideologi maupun arah gerak kedepannya. “Ke depan, dengan isu ini (kader HMI jadi Ketua Umum PBNU), itu bisa-bisa kader PMII tidak diminati dan mulai tersingkirkan. Padahal loyalitas kader-kader PMII untuk NU sudah jelas sekali,” kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu. Putra pendiri NU, KH Abdul Chalim itu meminta semua Rais Syuriah dan Ketua Tanfidizyah, baik PWNU maupun PCNU, memahami proses pengkaderan NU. Artinya, harus mengutamakan kader internal NU untuk memilih Ketua Umum PBNU bukan yang berada di luar internal NU. Selama ini, menurut Kiai Asep, NU punya banyak kader yang cukup melimpah hasil proses kadersasi di tubuh internal NU dan mereka sangat layak menduduki jabatan di PBNU. Untuk itu Kiai Asep berharap jabatan struktural PBNU betul-betul diisi kader murni NU. Jabatan penting seperti Rais Am, Syuriah dan Ketua Umum PBNU harus benar-benar kader murni Nahdlatul Ulama. Meski demikian, Kiai Asep tidak mempersoalkan jika ketua umum Banom diisi kader HMI. “Kalau hanya jadi ketua Banom, seperti Saifullah Yusuf, yang dulu jadi Ketua Ansor nggak papalah. Tapi kalau HMI jadi top figur NU, ya gimana,” kata Kiai Asep yang juga mantan Ketua PCNU Kota Surabaya itu. Kiai Asep mengingatkan semua pengurus NU agar hati-hati dan selektif dalam memilih Ketua Umum PBNU, baik latar belakang pengkaderannya maupun jaringannya. Sebab, jika salah pilih niscaya akan sangat merugikan NU. Selain itu, Kiai Asep, mengingatkan kepada seluruh kader-kader NU untuk menjaga marwah NU khususnya pada Muktamar nanti. Ia memerintahkan kepada seluruh warga NU untuk mengawal berjalannya Muktamar agar berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Editor : Erik Alga Lesmana

  • Jakarta, PP Pergunu Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Kota Bekasi menaruh perhatian terhadap peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) guru di Indonesia sangatlah besar. Bahkan setiap tiga bulan sekali mengadakan pelatihan baik itu yang berhubungan dengan kompetensi guru, kewirausahaan (teacherpreneurship) dan literacy skil, minggu (18/07/2021) Ketua PC Pergunu Kota Bekasi, Hery Kuswara mengungkapkan organisasi yang dipimpinnya bekerjasama dengan Universitas BSI Jakarta, Pawondigital.com dan temanacara.com untuk menyelenggarakan pelatihan daring tentang digital marketing dengan google untuk guru. Menurutnya, pelatihan ini merupakan kerjasama yang terus berkesinambungan, setidaknya sudah empat kali Universitas BSI hadir memberikan pelatihan kepada guru dengan berbagai materi yang menarik dan kekinian. “Hadir sebanyak 50 guru dari berbagai sekolah dan madrasah di wilayah Kota Bekasi. Pelatihan ini merupakan kerjasama yang baik antara Pergunu Kota Bekasi dengan Universitas BSI agar guru cerdas dan terampil dalam  literacy Skill yang salah satunya adalah literasi digital (digital literacy). Dengan kemampuan literasi digital yang dimiliki, para guru diharapkan mampu menjawab tantangan jaman yang serba digital ini,” ungkap Hery yang juga Dosen Universitas BSI Jakarta. Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) Aris Adi Leksono dalam sambutannya menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Pergunu Kota Bekasi yang telah menghadirkan Universitas BSI, pawondigital.com dan temanacara.com  memberikan pelatihan gratis kepada para guru. Menurutnya, pelatihan seperti ini sangat penting mengingat pembelajaran saat ini berbasis digital.  Guru harus terus dibekali karena dapat membantu aktifitas pembelajaran. “Pelatihan optimalisasi google untuk digital marketing ini selain memberikan keterampilan kepada guru dalam mempublikasikan dan mempromosikan karyanya, juga dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran berbasis daring (elearning) dan hybrid atau blended learning, terlebih dalam kondisi pandemi covid-19, pelatihan ini merupakan solusi cerdas untuk guru,” ungkap Aris yang juga wakil ketua PCNU Kota Bekasi. Pada pelatihan kali ini, Pergunu Kota Bekasi menggandeng para praktisi dibidang digital marketing seperti Mas Islah pengusaha muda sukses sekaligus owner dari pawondigitila.com dan Mas Hilman Owner dari temanacara.com. Selesai tanya jawab dan kesan pesan dari peserta acara ditutup dengan do’a oleh Ustad Sopyan Dallis. Pelatihan tersebut dihadiri para trainer mumpuni di bidangnya ditambah dengan para praktisi digital marketing yang sangat berpengalaman. Di antaranya Taufik Baidawi, Sopiyan Dalis, Heri Kuswara, Cep Adi Wiharja, Sandra Jamu, Ade Suryadi,  serta dibantu para mahasiswa. Kontributor; Erik Alga Lesmana

  • Jakarta, PP Pergunu Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW PERGUNU) DKI Jakarta, PT. Duta Global Insan Indonesia (DGII) dan Akademi Pariwisata Bandung melaksanakan Memorandum of Understanding (MOU) dalam program Goes To Japan di PWNU DKI Jakarta, Sabtu (3/7/2021). Acara tersebut terselenggara dengan menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker dan jaga jarak serta cuci tangan sebelum masuk ke ruangan. Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta, Lutfi Hakim Wahid mengatakan saat ini banyak orang yang mengeluh bingung dan susah cari kerja, bisa kita lihat banyaknya orang pengangguran yang bukan datang dari lulusan SMA saja, akan tetapi mereka yang sarjanapun sulit cari kerjaan dan ditambah lagi adanya pandemi Covid-19. “Kami membuka seluas luasnya kader Nahdkatul Ulama untuk bekerja di Jepang. Semakin banyak sahabat-sahabat kita yang bisa berangkat ke Jepang maka secara otomatis setelah mereka pulang nanti akan banyak di negara kita ini akan ada generasi yang mandiri (membuka usaha sendiri) dan beretos kerja tinggi yang di harapkan bisa membantu meningkatkan perekonomian bangsa dan ikut serta memajukan negara kita dengan ilmu yang di dapatkan selama bekerja di jepang”, ungkap Gus Luthfi. Lebih lanjut Gus Luthfi menekankan bahwa peserta tenaga terdidik wajib mengikuti pelatihan sesuai Specified Skill Worker (Bekerja) dan pemahaman Islam Ahlussunaah wal Jamaah An Nahdliyah sebelum diberangkatkan ke negeri sakura tersebut. Direktur Utama DGII, Endraswari Safitri, menyampaikan tujuan acara ini adalah untuk menyosialisasikan peluang kerja bagi tenaga terdidik ke Jepang. Targetnya adalah anak-anak usia 18-30 tahun. “Bagi para peserta, program Goes to Japan ini ada dua program yaitu Internship (magang) dan Specified Skill Worker (Bekerja). Program Specified Skill Worker (Bekerja), yaitu program bekerja selama 5 tahun, dengan memperoleh penghasilan yang memadai dengan status resedensial khusus dengan tingkat minimal sebesar Rp 25.000.000,- /bulan”, kata Veve, panggilan akrab Endraswari Safitri. Hal yang sama juga disampaikan Komisaris DGII, Prof. Ace Suryadi, bahwa Program ini dilaksanakan secara bertahap dan sistematis di seluruh Indonesia. Menurutnya, program ini salah satu hal yang sangat berharga karena dapat bekerja sama dengan PW Pergunu DKI Jakarta, dan merasa PW Pergunu DKI Jakarta merupakan partner yang tepat karena memiliki visi yang sama dalam bidang pendidikan. Program yang akan dibangun bersama antara DGII dengan Pergunu DKI Jakarta dan Akademi Pariwisata Bandung. Program ini bukan semata-mata memenuhi Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam kebijakan Merdeka Belajar Kemdikbud. Tetapi sebuah upaya mendidik dan mengajar yang sangat hakiki, yaitu mendidik mahasiswa sekaligus mencari jalan keluar bagi mereka yang lulus untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang sangat layak, sesuai dengan kompetensinya. Kerjasama ini merupakan sebuah langkah besar dalam upaya mengembangkan kapasitas yang dimiliki dalam negeri. Program ini merupakan pendekatan baru dalam mensinergikan program pengembangan SDM antara sisi persediaan (sekolah) dan kebutuhan (lapangan kerja) dalam satu keterpaduan. Akpari Bandung perlu melaksanakan kerjasama dalam upaya menghasilkan lulusan dengan kategori Specialized Skill Worker (SSW) agar dapat dipekerjakan sesuai dengan kebutuhan industri di Jepang. Program ini bukan penyaluran tenaga kerja ke luar negeri seperti yang ditengarai banyak masalah di masyarakat. Ini adalah upaya peningkatan relevansi antara lembaga pendidikan dengan lapangan kerja agar lulusannya memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri. “Disadari bahwa mahasiswa tidak hanya sebatas dididik, memperoleh ijazah, dan selesai; tetapi masih ada tanggungjawab yang lebih mulya, yaitu menghasilkan lulusan yang kompeten untuk bekerja. Kini, para lulusan mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan di dalam negeri karena industri dan dunia usaha masih “lesu” karena pandemi. Oleh karena itu, Pergunu DKI Jakarta, Akpari Bandung menggandeng DGII yang berpengalaman dalam menempatkan lulusan SMK atau PT pada beberapa industri di luar negeri, khususnya di Jepang ”, kata Prof Ace yang saat ini sebagai Guru Besar UPI. Sementara itu Direktur Akademi Pariwisata Bandung, Darmawangsa menyampaikan, program Goes to Japan adalah program untuk bekerja dan belajar di Jepang ini sangat baik untuk generasi milenial. “Kami Akpari Bandung siap mengawal para calon peserta untuk mempersiapkan tenaga kerja terdidik yang profesional, dan mengajak semua pihak untuk menjalin kerja sama demi menyukseskan program ini, Alhamdulillah, yang sudah mendaftar ada 73 mahasiswa sedangkan target kami 100 mahasiswa untuk program Specified Skill Worker (Bekerja),” ungkap Darmawangsa. Di sisi lain Direktur Lembaga Riset dan Edukasi Pergunu DKI Jakarta, Lalu Zulkifli, menyatakan program Specified Skill Worker (Bekerja) di Jepang merupakan upaya PW Pergunu DKI Jakarta membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Kontributor : Kukuh Fany Fathullah

  • Pergunu DKI Jakarta

    Jakarta, PP Pergunu Susahnya cari kerja adalah masalah global yang dihadapi oleh banyak orang di berbagai negara. Kondisi ini diperparah dengan hantaman pandemi Covid-19 yang membuat jumlah pengangguran meningkat di Indonesia. Atas dasar itu Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW PERGUNU) DKI Jakarta membuka program magang ke Jepang atau Goes to Japan yang berlatar belakang pendidikan Kebidanan serta Keperawatan. Program Magang Perawat dan Bidan ke Jepang diperkuat dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MOU) antara Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Direktur Utama DGII dan Direktur Akademi Kebidanan ar Rahmah Bandung yang disaksikan beberapa dosen, orang tua mahasiswa dan Perwakilan Pimpinan Cabang Pergunu se-DKI Jakarta di PWNU DKI Jakarta (26/6/2021) Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Lutfi Hakim Wahid mengatakan program magang bertujuan untuk mempersiapkan para lulusan yang siap kerja, yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga dilengkapi dengan keahlian-keahlian yang diperlukan di dunia kerja yang sesungguhnya. Kami membuka seluruh kader NU untuk mengikuti program magang perawat dan bidan ke Jepang. “Para peserta magang akan menerima berbagai pelatihan dan pengetahuan sebelum diberangkatkan ke negeri sakura tersebut, di antaranya pelatihan bahasa Jepang, budaya, mental, kedisiplinannya dan Islam Aswaja an Nahdliyah”, kata Gus Lutfi. Sementara itu Komisaris DGII, Prof. Ace Suryadi mengatakan khususnya program intrernship, memungkinkan para mahasiswa untuk berenang bukan hanya di kolamnya sendiri dan dengan gayanya sendiri, tetapi juga berenang di sungai besar bahkan di laut lepas dengan gaya yang lebih kaya, itu salah satu kebijakan Kampus Merdeka. Dalam 10 tahun kedepan, Jepang membutuhkan sekitar 8-10 juta pekerja terdidik Indonesia untuk bekerja di berbagai jenis dan sektor industri. “Indonesia memerlukan investasi Rp. 25 triliun untuk membentuk 1 juta lulusan SMK-sarjana yang siap kerja di Jepang, tetapi potensi devisa negara bisa mencapai sekitar Rp. 1.000 triliun; sebuah investasi yang tidak mudah dicapai oleh BUMN yang besar sekalipun”. Tutup Prof. Ace, yang Guru Besar UPI Bandung. Hal yang sama di sampakan Direktur Utama PT. DGII, Endraswari Safitri mengatakan ada dua program yaitu Internship (magang) dan Specified Skill Worker (Bekerja). Untuk Internship ditujukan bagi mahasiswa aktif dengan mendapatkan penghasilan sekitar Rp 14.000.000,-/bulan. “Keuntungan lainnya dalam program ini adalah mendapatkan pengalaman untuk hidup, bergaul dan berkarier di negara yang maju teknologinya”, kata Veve. Sementara itu Direktur Akademi Kebidanan ar Rahmah Bandung, Darmawangsa, mengatakan bahwa program ini sangat bagus di tengah pandemi peluang ini sangat berguna bagi mahasiswa kami. “Alhamdulillah, yang sudah mendaftar ada 50 mahasiswa sedangkan target kami 100 mahasiswa. Ini merupakan terobosan baru bagi mahasiswa kami selain menambah ilmu pengetahuan dan wawasan disisi lain mahasiswa akan mendapatkan income yang berguna bagi kesejahteraan hidupnya”, kata Darmawangsa. Di sisi lain Direktur Lembaga Media Production Pergunu DKI Jakarta, Abdul Toha, menyatakan bahwa program magang di Jepang merupakan upaya PW Pergunu DKI Jakarta ikut andil dalam mengurangi angka pengangguran selain itu program ini dapat menularkan etos kerja dan displin yang tinggi. Acara Penandatanganan MOU antara Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Direktur Utama DGII dan Direktur Akademi Kebidanan ar Rahmah Bandung terselenggara dengan menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker dan jaga jarak serta cuci tangan sebelum masuk ke ruangan. Kontributir: Kukuh Fany Fathullah

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA.

    Oleh Boy Ardiansyah* Ketika membicarakan pembaharu Islam atau pembaharu pendidikan Islam. Yang muncul dalam ingatan kita adalah nama Rasyid Ridho, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal sampai Fazlur Rahman. Tentu menjadikan pertanyaan besar bagi saya, apakah tidak ada pembaharu pendidikan Islam dari Indonesia? Saya menjawab sendiri, tentu ada. Tokoh seperti KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim, saya rasa layak kita sebut dengan pembaharu pendidikan Islam. Kualitas dan perannya dalam dunia pendidikan tidak kalah dengan tokoh-tokoh besar yang saya sebut di awal. Namun bagaimana dengan sekarang, kita tidak mungkin terus bernostalgia dengan zaman dahulu era mereka. Karena sudah barang tentu pendidikan selalu berkembang seiring dengan perkembanagan zaman yang sanagt luar biasa ini. Jika di tanya siapa pembaharu pendidikan Islam saat ini? Saya akan menjawab pembaharu pendidikan Islam abad 21 ini, salah seorang di antaranya adalah Prof.Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, M.Ag pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur. Kiai Asep merupakan putra bungsu dari KH Abdul Chalim, Kiai asal Majalengka yang mempunyai pengaruh besar terhadap pendirian Nahdlatul Ulama. Kiai Abdul Chalim adalah kawan akrab KH Wahab Hasbullah. Kiai Wahab pernah memberikan kepercayaan kepada Kiai Abdul Chalim sebagai guru di Nahdlatul Wathon, organisasi yang didirikan KH Wahab untuk peningkatan pendidikan Islam. Kiai Asep memupuk ilmu Agamanya di Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo yang di asuh oleh KH Abbas Khozin tak lain adalah sahabat ayah Kiai Asep. Paling tidak ada dua alasan saya menyebut Kiai Asep sebagai Pembaharu Pendidikan Islam abad 21 ini. Pertama adalah keberhasilannya mendirikan Pondok Pesantren dan Madrasah Bertaraf Internasional Amanatul Ummah. Dan yang kedua adalah menghidupkan kembali organisasi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). Saat ini tak kurang dari 10.000 santri yang menuntut Ilmu di lembaga pendidikan Amanatul Ummah. Pada awalnya pendirian Ponpes Amanatul Ummah sekitar tahun 2007 KH Said Aqil Siradj ketua PBNU  di ajak Kiai Asep meninjau lokasi yang akan di bangun pesantren Amanatul Ummah. Melihat lokasi, Kiai Said saat itu merasa pesimis dengan ide Kiai Asep mendirikan Ponpes di hutan yang jauh dari keramaian. Sekarang terbukti prasangka Kiai Said terhadap ide Kiai Asep itu salah. Sejak berdirinya lembaga pendidikan di bawa naungan Ponpes Amanatul Ummah, siswa-siswinya setiap tahun memenangi berbgai kejuaraan/lomba akademis dan keteramilan di tingkat Nasional dan Internasional. Lulusan sekolah tingkat SMA dan Aliyah paling banyak di terima di kampus Negeri dan kampus-kampus luar negeri. Tentu akan panjang jika mengulas satu persatu prestasi santri/siswa yang belajar di lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Asep. Untuk itu saya menyarankan para pembaca untuk mencari sendiri di webside Amanatul Ummah. Yang kedua adalah menghidupkan kembali Pergunu. Seperti yang diceritakan Dosen saya di Institut Pesantren Abdul Chalim Dr. Gatot Sujono bahwa hidup dan berkembang pesatnya Pergunu saat ini tidak lain adalah karena tangan dingin Kiai Asep.  Dua kali Kongres 2011 dan 2016 Kiai Asep dipilih menjadi Ketua Pergunu. Ini menandakan semua percaya dan merasakan kemajuan Pergunu di tangan Kiai Asep. Melalui Pergunu ini juga Kiai Asep memberikan ratusan beasiswa bagi guru-guru NU untuk melanjutkan pendidikan S2 di dua kampus yang ia pimpin, kampus IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan IAI IKHAC Pacet Mojokerto. Pemberian beasiswa ini tidak lain diberikan Kiai Asep untuk meningkatkan SDM guru-guru NU. Tidak hanya itu, Kiai Asep juga memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar luar negeri untuk belajar di Pesantren Amanatul Ummah. Beberapa waktu lalu saat pembukaan kuliah pascasarjana Kiai Asep menyampaikan kenapa Yaman, Mesir di kenal Pendidikannya. Menurut Kiai Asep karena Yaman, Mesir memberikan beasiswa. Inilah yang diadopsi Kiai Asep agar Indonesia dikenal dunia melalui pendidikan. Dua alasan ini saya rasa cukup untuk menyebut Kiai Asep sebagai Pembaharu Pendidikan Islam. Tentu Kiai Asep tidak sendiri, masih banyak pembaharu-pembaharu Pendidikan Islam yang lain di Indonesia. *Penulis adalah guru Madrasah Ibtidaiyah

  • Dr. Romi Siswanto, M.Si.* PENDAHULUAN Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bagian akhir bagian Pembukaan mengamanatkan agar melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, inti dari kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa adalah penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada tahun 2014 setelah ditetapkan menjadi Presiden melalui pesta demokrasi, Presiden terpilih Bapak Ir. Joko Widodo, langsung mencanangkan sembilan program prioritas melalui NAWACITA kepada rakyat Indonesia. Program ini disusun sebagai peta jalan Presiden Joko Widodo sebagai jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Sembilan Program NAWACITA yang menjadi prioritas Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah sebagai berikut. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi, serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga. Terkait dengan program  NAWACITA nomor tiga, membangun Indonesia dari pinggiran (daerah pesisir) dan desa-desa, sangatlah tepat mengingat selama ini bahwa sumber daya manusia (SDM) dari pinggiran dan desa-desa kurang mampu bersaing secara nasional maupun regional. Contohnya, para nelayan dan petani kita tidak mempunyai bekal dengan pengetahuan dan keterampilan teknologi penangkapan ikan atau pengolahan ikan terkini. Tak hanya kuantitas ikan tangkapan mereka yang sedikit, kualitas ikan tangkapan mereka pun rendah karena tidak menggunakan teknologi pengawetan ikan yang baik. Para petani tradisional yang masih mengandalkan air hujan, sapi/ kerbau, dan alat pertanian tradisional pun banyak yang gulung tikar. Banyak di antaranya yang akhirnya memilih menjual lahan pertanian mereka karena pendapatan dari produksi pertanian mereka terus-terusan merosot. Harga panenan mereka dirasa tidak seimbang dibandingkan besarnya biaya pengolahan dan pengadaan pupuk. Mereka kalah bersaing dengan para nelayan-nelayan yang berasal dari luar negeri.  Dampaknya kehidupan perekonomian mereka cenderung lemah dan anak-anak mereka cenderung tidak bersekolah karena meneruskan profesi orang tuanya baik menjadi nelayan maupun menjadi petani. Karena itulah, membangun Pendidikan dari daerah pinggiran dan pedesaan sangat penting dan sudah tepat sekali untuk meningkatkan SDM unggul dari kedua daerah tersebut. Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan salah satu program NAWACITA pada nomor lima, bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”. Masyarakat Indonesia sudah merasakan manfaatnya dengan program Indonesia Pintar, khususnya masyarakat yang memiliki anak-anak usia sekolah  yang memiliki kesulitan ekonomi. Dengan adanya program Indonesia pintar, kini terbuka kesempatan luas bagi mereka untuk menikmati sekolah gratis. Secara operasional,  rancangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan adalah anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin/rentan miskin/prioritas tetap mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat pendidikan menengah, baik melalui jalur pendidikan formal (mulai SD/MI hingga anak lulus SMA/SMK/MA) maupun pendidikan nonformal (Paket A hingga Paket C serta kursus terstandar). Melalui program ini pemerintah berupaya mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah, dan diharapkan dapat menarik siswa putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya. PIP juga diharapkan dapat meringankan biaya personal pendidikan peserta didik, baik biaya langsung maupun tidak langsung. PIP disambut hangat oleh masyarakat Indonesia, program ini sangat terasa dan dirasa oleh rakyat Indonesia. Kesempatan mendapatkan pendidikan memiliki hak yang sama sebagai warga negara Indonesia, karena pendidikan untuk semua kalangan. Pada program NAWACITA nomor delapan lebih implementatif lagi melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Ketiga poin penting Program NAWACITA selaras dengan Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menempatkan tujuan akhir dari pembelajaran adalah terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024: Dengan kata lain, Profil Pelajar Pancasila merupakan bagian dari pelaksanaan program NAWACITA yang telah diimplementasikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. PEMBAHASAN Penting kiranya, melihat kembali sejarah semangat Revolusi Mental yang dilontarkan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang jalan di tempat. Padahal semangat revolusi tujuan yang hakiki adalah  kemerdekaan Indonesia, namun pada kenyataannya pada saat itu tujuan tersebut belum tercapai. Revolusi pada zaman kemerdekaan adalah perjuangan fisik (mengangkat senjata), perang melawan penjajah untuk mempertahankan

  • Dr. H. Heri Kuswara, M.Kom* Pagi hari sambil seruput kopi manis sedikit pahit, saya sangat terenyuh membaca informasi pada detik.com (Rabu, 19 Mei 2021 07:25 WIB) dengan headline news yang sangat memprihatinkan yaitu “Komisi X Prihatin Guru Dipecat Gegara Pinjol: Potret Buram Pendidikan di RI!”. Keprihatinan itu sangat beralasan mengingat alasan pinjol tersebut digunakan untuk  menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) yang disyaratkan tempatnya mengajar. Huda (Syaiful Huda)  selaku Ketua Komisi X DPR yang salah satunya membidangi pendidikan  mengatakan “Kasus ini harus ditangkap sebagai potret buram pendidikan di Tanah Air, terutama bagaimana masih minimnya perhatian pemerintah kepada nasib guru honorer,”. Bahkan huda akan memperjuangan beberapa hal diantaranya: (1) kemungkinan pemberian beasiswa agar yang bersangkutan bisa menyelesaikan pendidikan S1-nya, (2) Mencarikan skema terbaik untuk membantu proses penyelesaian utang guru tersebut dan (3) berharap pemerintah segera merealisasikan pengangkatan sejuta guru honorer menjadi ASN. Apa yang menjadi niat mulia dan perjuangan huda sebagai wakil rakyat yang sangat peduli dengan Pendidikan   wajib didukung oleh semua komponen bangsa terutama oleh para pegiat pendidikan agar segera terealisasi demi merubah potret buram pendidikan di Tanah Air. Selain tanggungjawab  pemerintah,  saya melihat  sangat penting sekolah (Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Sekolah) meningkatkan rasa tanggungjawabnya terhadap nasib guru. Dalam hal Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan SDM Guru misalnya, melanjutkan studi pada pendidikan formal yang disyaratkan sekolah seharusnya dibarengi dengan solusi cerdas dari yayasan/sekolah untuk peduli membantu meringankan bahkan menggratiskan guru dalam melanjutkan studinya. Kecerdasan yayasan/sekolah dalam mengelola keuangan (dana yang masuk) yang bersumber dari berbagai jenis bantuan pemerintah, iuran peserta didik, sumbangan dari orang tua/wali, sumbangan dari donatur, dari CSR,  bantuan/sumbangan dari berbagai pihak, hasil kerjasama, dan hasil dari unit usaha yayasan  sewajarnya ada alokasi beasiswa untuk gurunya dalam melanjutkan studi kejenjang yang diharuskan (lebih tinggi). Ini penting dilakukan yayasan/sekolah sebagai bentuk tanggungjawab sekolah dalam meningkatkan kapasitas dan kapabelitas guru yang endingnya adalah meningkatnya kualitas guru, kualitas siswa dan kualitas sekolah sesuai yang diharapkan. Untuk sekolah yang katakanlah minim dari sisi keuangan, pimpinan yayasan/sekolah dapat melakukan kerjasama dengan berbagai institusi, baik institusi pendidikan tinggi, organisasi profesi dan institusi lainnya agar guru memperolah beasiswa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Betapa banyak program beasiswa yang dapat diserap oleh guru dalam melanjutkan studi, baik itu beasiswa yang bersumber dari pemerintah, beasiswa dari perguruan tinggi (dalam/luar), beasiswa dari industri (perusahaan), dan berbagai bentuk beasiswa dari pihak-pihak yang peduli pendidikan/guru. Salah satu organisasi profesi guru yang patut kita apresiate dan  acungi jempol dalam kiprahnya membangun dan meningkatkan kapasitas dan kapabelitas Guru adalah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). Pergunu yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) sangat getol dan concern memberikan beasiswa pendidikan (melanjutkan studi) kepada guru untuk berbagai jenjang pendidikan bahkan pergunu memfasilitasi beasiswa untuk pendidikan profesi dan sertifikasi kompetensi. Beasiswa Pergunu bukan hanya diberikan kepada anggota pergunu saja namun juga pergunu peduli dengan guru-guru lainnya yang sama-sama menjadi garda terdepan dan pejuang mulia dalam mencerdaskan dan membangun karakter bangsa dan akhlak mulia. Kerjasama yang dibangun Pergunu, setidaknya  dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini dengan lebih dari 50 Perguruan Tinggi diIndonesia dan Luar Negeri terbukti mampu memberikan beasiswa pendidikan kepada ribuan guru di Indonesia. inilah bukti nyata yang pergunu persembahkan untuk bangsa terutama untuk pejuang tanpa tanda jasa. Terpujilah Wahai engkau ibu bapak guru, Namamu akan selalu hidup Dalam sanubariku, Engkau bagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Wahai Guruku Jikapun Yayasan/Sekolahmu tak bergeming untuk memperjuangkanmu, dengan sangat Ikhlas dan Lapang, Pergunu akan menjadi sinar digelap malammu,  Agar Tumbuh Kokoh di Bumi Pertiwi Menahan Badai Duniawi. Pergunu senantiasa siap sedia menjadi solusi terbaik dalam mewujudkan impianmu menjadi guru profesional dan guru  mulia berkah pergunu. *Ketua Departemen Pengembangan SDM dan Kajian Strategis PP Pergunu. *Penulis merupakan Pimpinan Pusat PERGUNU dan dosen di kampus BSI

  • PUASA DAN KESENANGAN Oleh : Erik Alga Lesmana* Pada dasarnya manusia tidak ingin merasa lapar, ia ingin selalu makan agar terjaga dari rasa kenyang. Manusia tidak bisa lari dari kesenangan, kesukaan, selera, kemauan, keinginan dan kepentingan pribadinya. Bahkan semua yang kita lakukan terikat kuat untuk memenuhi kesenangan pribadi kita. Banyak di antara kita sejatinya belum siap menghindar dari berbagai bentuk kesenangan. Begitu juga dengan puasa bukan menjadi media kesenangan kita, karena puasa, menahan dan menghindar dari kesenangan yang selama ini kita kejar-kejar. Bayangkan, selama menjelang terbit fajar sampai maghrib tiba kita diminta untuk menahan makan, minum dan kesenangan lainnya. Menurut Cak Nun, untuk melakukan kesenangan, engkau tidak memerlukan kualitas atau mutu kepribadian apa pun. Akan tetapi, dengan itu, mentalmu tak pernah bekerja. Untuk itu, engkau tidak akan pernah siap untuk menjadi manusia pejuang. Sebab, perjuangan sering mengharuskanmu untuk melakukan apa yang tidak engkau senangi. Puasa menjadikan kita menjadi manusia pejuang dan mampu membawa pada mental yang kuat. Hidup itu sebuah proses, maka mau tidak mau kita harus siap memasuki kubangan ketidaksenangan. Agar kita mampu melawati ketidaksenangan itu, maka perlu mental kuat dengan berbekal puasa sebulan itu. Puasa melatih kita untuk mengerem kesenangan. Maka mau tidak mau harus siap meminum jamu pahit yang semua orang pasti tidak menyukainya. Hidup adakalanya pahit dan ada kalanya manis. Setelah meminum jamu pahit, kita akan merasa betapa enaknya badan kita kembali segar seperti sedia kala. Itu semua bagian dari melatih diri kita menjadi manusia yang lebih produktif dan mental pejuang, tidak gampang menyerah dan mengeluh. *Penulis merupakan pengurus PC Pergunu Jakarta Pusat.

Agenda dan Kegiatan