Berita Terbaru

  • Jakarta, PP Pergunu   Sebagai wujud untuk membangun Indonesia, terutama lewat dunia pendidikan, Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Jawa Barat mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang sekaligus merayakan Harlah Pergunu yang ke 69 tahun.   Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Jawa Barat menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang di hadiri oleh seluruh Pimpinan Cabang Pergunu se-Provinsi Jawa Barat. Rakerwil tersebut di laksanakan di STKIP Pangeran Dharma Kusuma Indramayu, pada Sabtu (3/4).   Pada kesempatan tersebut Dr. H. Saepulloh ketua PW Pergunu Jawa Barat membuka langsung Rakerwil. Menurut Gus Epul panggilan akrab ketua PW Pergunu Jabar, salah satu tujuan penting dari diadakannya raker adalah agar laju organisasi bisa lebih efektif dan dapat memunculkan pemikiran strategis bagi organisasi.   Dalam kesempatan ini sekaligus pemberian 1000 beasiswa bagi kader NU dan Pergunu yang ada di 27 pengurus cabang, Gus Epul mengatakan bahwa 1000 Beasiswa Kuliah kader Aswaja ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader kader Nahdlatul Ulama yang ada di Jawa Barat.   “Program 1000 Beasiswa Kuliah kader Aswaja ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader kader Nahdlatul Ulama yang ada di Jawa Barat”. Tuturnya.   Sementara itu, Ketua STKIP Pangeran Dharma Kusuma, Taufiq Zaenal Mustofa,  mengatakan mengapresiasi kegiatan rapat kerja wilayah PW Pergunu Jawa Barat yang sedianya diadakan di kampus dihadiri para penggerak guru NU se-Jawa Barat.   Gus Epul sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja koordinator tiap kabupaten/kota yang telah memfasilitasi pendaftaran program tersebut secara maksimal untuk mensukseskan program 1000 beasiswa guru Aswaja.   “Alhamdulillah, Perhari ini data yang masuk sudah lebih dari 1000 orang yang daftar. Itu pertanda program ini sangat diminati oleh warga NU di Jawa Barat”, ucapnya.   “Terimakasih kami sampaikan buat para koordinator tiap daerah yang sudah mengakomodir program tersebut dengan 1000 orang lebih sudah mendaftar”, tambahnya   Rakorwil tersebut dihadiri oleh Ketua STKIP Pangeran Dharma Kusuma, Taufiq Zaenal Mustofa, Gus Miftah Wakil ketua, Pengurus PW Pergunu Jawa Barat, Pengurus PC Pergunu kabupaten/kota, dan Koordinator Program Beasiswa 1000 kader dari kabupaten/kota se Jawa Barat.   Sumber : http://www.gardanews.my.id/2021/04/rakerwil-pergunu-jabar-fokus-pada-1000.html

  • Jakarta, PP Pergunu Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) DKI Jakarta menggelar seminar dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) ke-69 Pergunu di aula Universitas Ibnu Khaldun, Rawa Mangun, Jakarta Timur, Rabu (31/3). Kegiatan dengan tema ‘Pergunu Mencerdaskan Bangsa’ tersebut sekaligus dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara DGII dengan Pergunu DKI Jakarta dalam rangka kerjasama dalam hal peningkatan dan pengembangan kualitas pengajar dan siswa serta pengembangan dan penempatan tenaga kerja terdidik siap kerja ke luar negeri khususnya ke Jepang. Hadir secara virtual pada acara tersebut sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Umum PP Pergunu Prof. DR. KH. Asep Saefudin Chalim, menyampaikan bahwa Pergunu merupakan wadah bagi para guru-guru NU yang visinya adalah untuk mewujudkan guru-guru yang profesional dan berakhlaqul karimah. Beliau berharap Pergunu dapat semakin menunjukkan kiprahnya dalam memajukan mutu pendidikan Indonesia. Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Luthfi Hakim Wahid menjelaskan, kerja sama tersebut sebagai bentuk komitmen Pergunu dalam membangun peradaban generasi bangsa. Guru-guru yang aktif di Pergunu memiliki berbagai kompetensi. Hal inilah yang diyakini bahwa Pergunu mampu mewujudkan peradaban bangsa itu. “Pergunu ini di dalamnya banyak guru yang mempunyai keahliah khusus. Pokonya kalau dia guru dan ngajar, memberi manfaat untuk banyak orang lain, bisa masuk Pergunu. Ditambah lagi dosen-dosen dari berbagai jurusan di kampus-kampus di Indonesia,” Ujar Gus Luthfi, sapaan akrabnya. Ia menegaskan, guru-guru NU telah berupaya semaksimal mungkin menjadi bagian penting untuk memajukan pendidikan di Indonesia khususnya. Di samping itu, perhatian Pergunu kepada para pemuda agar terus bisa melanjutkan jenjang pendidikannya telah diwujudkan dengan kemitraan-kemitraan yang dibangun dengan berbagi kampus, baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. “Peran besar Pergunu saat ini bagaimana mewujudkan generasi bangsa untuk tetap sekolah dan lanjut ke perguruan tinggi. Untuk itu, PW Pergunu DKI Jakarta sudah bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti Jain University India, STAI Al-Aqidah, STIBA IEC, UWI, IKHAC Mojokerto untuk diberikan beasiswa dan selanjutnya dengan Universitas Ibnu Chaldun Jakarta,” ujarnya. Karena itu, dia berharap tidak ada lagi kalangan muda khususnya tak bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi dengan alasan keterbatasan biaya, karena banyak kampus yang siap menerima, tentu dengan persyaratan-persyaratan yang sudah disepakati. Sementara Rektor Universitas Ibnu Khaldun Prof Dr Musni Umar dalam sambutannya mendukung terhadap program beasiswa yang sudah dilakukan Pergunu DKI Jakarta. Hal itu menurutnya dapat mengentaskan problem putus sekolah. Karena di zaman modern seperti ini masih banyak anak yang putus sekolah. Untuk itu, problem putus sekolah harus segera diatasi mengingat mereka adalah para penerus generasi bangsa “Kami sangat mengapresiasi program Pergunu DKI Jakarta karena saya juga betul-betul orang NU. Saya terlahir dari keluarga NU dan saya tahu betul masyarakat NU. Mengenai beasiswa kami akan rencanakan kerja sama dengan Pergunu DKI Jakarta,” ungkapnya. Dr. Wandy Nicodemus Tuturoong (Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden) mengatakan Kami siap bekerjsama dengan Pergunu DKI Jakarta dalam hal pendidikan dan memberikan pengetahuan tentang toleransi beragama serta menangkal radikalisme, ujarnya Sementara President Director DGII Endraswari Safitri dalam sambutannya mengatakan bahwa kami siap bekerja sama dengan Pergunu DKI Jakarta karena visinya sejalan, yaitu untuk menghasilkan generasi muda yang berjiwa mandiri serta menjadi duta bangsa yang memiliki daya saing tinggi di kancah internasional. DGII tengah merancang sebuah konsep yang akan mempersiapkan anak bangsa khususnya generasi muda yang profesional, mandiri dan berwawasan kebangsaan yang siap berkarir di luar negeri, ujar Endraswari. sambutannya Secara Virtual I Nyoman Astiawan (Deputi GM Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 BNI) mengatakan “BNI sesuai peran dan fungsinya siap bekerjasama dan mendukung program Pergunu DKI Jakarta dalam mencerdaskan anak bangsa.” Endraswari juga menjelaskan bahwa, Perjanjian kerjasama ini juga meliputi, Pertukaran Pelajar, Study di Jepang,Diklat Guru/Dosen,Teaching Factory Program, Program Magang (Internship) dan Program Bekerja (Specified Skill Worker/Tokutei Ginou). “Kami sudah melakukan hubungan kerja sama dengan Registered Support Organization di Jepang yaitu Liana Segrus. Co. Ltd, kami dapat menjamin , jika anak lulus dalam pendidikan bahasa Jepang dan karakter, maka dapat langsung berangkat ke Jepang”, Lanjut Endraswari. Dalam kesempatan terpisah, President Liana Segrus, Co. Ltd, Kazuya Yamanouchi mengatakan bahwa kami sangat senang DGII dapat bekerja sama dengan Pergunu DKI Jakarta, karena guru memiliki peran yang sangat strategis untuk dapat mengawal proses pendidikannya untuk menghasilkan generasi muda Indonesia yang memiliki keunggulan kompetensi profesional yang siap bekerja dan bersaing di tingkat internasional. Saat ini Jepang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja yang extrim (extreme labour shortage) dimana jumlah penduduk usia produktif dengan kisaran usia 15-64 tahun lebih sedikit dan terus menurun dibandingkan dengan usia non produktif (anak-anak dan lansia). Ia menegaskan bahwa, Pekerja Migran dari Indonesia akan mendapatkan hak yang sama seperti warga negara Jepang dengan adanya perubahan kebijakan ketenagakerjaan baru melalui Undang-undang yang baru, sebagai gambaran gaji UMR jika dirupiahkan berkisar 25 juta rupiah. Kami akan menyupport pekerja dari Indonesia mulai dari penerimaan di Jepang, sampai pada kehidupannya ketika bekerja di Jepang. Kami berharap kerjasama antara Jepang dan Indonesia dapat belangsung dalam jangka panjang, ujar Kazuya Yamanouch. Hadir pada secara virtual maupun offline kesempatan ini, Prof. DR. KH. Asep Saefudin Chalim (Ketua Umum PP. PERGUNU), Prof. Dr. Musni Umar (Rektor Universitas Ibnu Chaldun), Endraswari Safitri (President Director PT. Duta Global Insan Indonesia), Kazuya Yamanouchi (President Liana Segrus Co. Ltd Japan), Dr. Wandy Nicodemus Tuturoong (Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden), I Nyoman Astiawan (Deputi GM Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 BNI), Jendral (Purn) Kivlan Zein serta Seluruh anggota PW dan PC Pergunu se-DKI Jakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara offline dan juga tersedia secara online. Hadir pula melalui virtual para pengurus Pergunu dari luar Jakarta.

  • Bogor, NU Online Jabar Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) melanntik Pimpinan Cabang (PC) Pergunu Kabupaten Bogor masa khidmah 2020–2025 sekaligus melantik 23 PAC Pergunu se-Kabupaten Bogor yang sudah terbentuk, di Kantor PCNU Kabupaten Bogor, Selasa (30/3). Ketua PC Pergunu Kabupaten Bogor Hj. Ade Heryati mengatakan, pihaknya menargetkan sebelum akhir tahun nanti akan ada 40 PAC Pergunu se-Kabupaten Bogor yang dilantik. “Ada sekitar 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang sudah terbentuk dan dilantik. Alhamdulillah semoga kecamatan yang lain bisa menyusul sebelum akhir tahun menjadi 40 kecamatan,” ujarnya. Ia juga mengatakan, dalam rapat kerja nanti akan ada pembahasan mengenai pembentukan PAC Pergunu di 17 kecamatan di Kabupaten Bogor untuk mewadahi para guru NU. Sementara, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidik, PC Pergunu Kabupaten Bogor memberikan beasiswa bagi para guru NU untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. ”Kami bantu beasiswa untuk S1 khusus bagi warga NU khususnya Pergunu, ada 1000 kuota beasiswa,” Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh mengapresiasi pengurus Pergunu Kabupaten Bogor yang baru dilantik sudah melakukan kaderisasi dengan rutin mengadakan pengajian bulanan yang langsung dibimbing oleh Ketua PCNU. “Dengan membekali para guru dengan keilmuan yang lebih, tentu akan berimbas pada instansi pendidikan dan murid yang dididik sehingga makin banyak generasi penerus yang cakap dan berkeilmuan yang tentunya beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah an-nahdliyah,” katanya. Selanjutnya, Ketua PCNU Kabupaten Bogor Kiai Aim Zaimuddin menginginkan para pengurus Pergunu bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam menebarkan kedamaian di bidang pendidikan. “Para pengurus Pergunu harus bisa menjadi tauladan dan bisa melahirkan peserta didik yang berakidah Ahlussunah wal Jamaah yang cinta tanah air,” ucapnya. Hadir dalam pelantikan tersebut Kepala Kemenag Kabupaten Bogor Abas Resmana, Kasie PAIS Kemenag Kabupaten Bogor H. Romdoni, Ketua Pergunu Kota Depok Ustadz Acep Pudoli, dan lain-lain. Kontributor: Abdul Hakim Hasan Editor: Agung Gumelar Sumber : https://jabar.nu.or.id/detail/pergunu-kabupaten-bogor-dilantik-bersama-pimpinan-anak-cabang-23-kecamatan

  • Jakarta, PP Pergunu Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) DKI Jakarta menggelar seminar dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) ke-69 Pergunu di aula Universitas Ibnu Khaldun, Rawa Mangun, Jakarta Timur, Rabu (31/3). Kegiatan dengan tema ‘Pergunu Mencerdaskan Bangsa’ tersebut sekaligus dirangkai dengan penandatanganan MoU tentang beasiswa yang diberikan oleh PT Duta Global Indonesia. Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Luthfi Hakim Wahid menjelaskan, kerja sama tersebut sebagai bentuk komitmen Pergunu dalam membangun peradaban generasi bangsa. Guru-guru yang aktif di Pergunu memiliki berbagai kompetensi. Hal inilah yang diyakini bahwa Pergunu mampu mewujudkan peradaban bangsa itu. “Pergunu ini di dalamnya banyak guru yang mempunyai keahliah khusus, seperti ahli bahasa Inggris, IPS, matemaitika, Pendidikan Agama Islam, guru ngaji. Pokonya kalau dia guru dan ngajar, memberi manfaat untuk banyak orang lain, bisa masuk Pergunu. Ditambah lagi dosen-dosen dari berbagai jurusan di kampus-kampus di Indonesia,” Ujar Gus Luthfi, sapaan akrabnya. Ia menegaskan, guru-guru NU telah berupaya semaksimal mungkin menjadi bagian penting untuk memajukan pendidikan di Indonesia khususnya. Di samping itu, perhatian Pergunu kepada para pemuda agar terus bisa melanjutkan jenjang pendidikannya telah diwujudkan dengan kemitraan-kemitraan yang dibangun dengan berbagi kampus, baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. “Peran besar Pergunu saat ini bagaimana mewujudkan generasi bangsa untuk tetap sekolah dan lanjut ke perguruan tinggi. Untuk itu, PW Pergunu DKI Jakarta sudah bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti kampus Jain University India, di Jepang, Al-Aqidah, IKHAC Mojokerto untuk diberikan beasiswa dan nanti kalo boleh Universitas Ibnu Khaldun,” ujarnya. Karena itu, dia berharap tidak ada lagi kalangan muda khususnya tak bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi dengan alasan keterbatasan biaya, karena banyak kampus yang siap menerima, tentu dengan persyaratan-persyaratan yang sudah disepakati. Sementara Rektor Universitas Ibnu Khaldun Prof Musni Umar dalam sambutannya mendukung terhadap program beasiswa yang sudah dilakukan Pergunu. Hal itu menurutnya dapat mengentaskan problem putus sekolah. Karena di zaman modern seperti ini masih banyak anak yang putus sekolah. Untuk itu, problem putus sekolah harus segera diatasi mengingat mereka adalah para penerus generasi bangsa. “Kami sangat mengapresiasi program Pergunu karena saya juga betul-betul orang NU. Saya terlahir dari keluarga NU dan saya tahu betul masyarakat NU. Mengenai beasiswa kami akan rencanakan kerja sama dengan Pergunu,” ungkapnya. Hadir pada kesempatan ini, ketua Pergunu se-Dki Jakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara offline dan juga tersedia secara online. Hadir pula melalui virtual para pengurus Pergunu dari luar Jakarta. Kontributor: Erik Alga Lesmana Editor: Syamsul Arifin Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/127735/pergunu-dki-jakarta-berikan-beasiswa-di-berbagai-perguruan-tinggi

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • PUASA DAN KESENANGAN Oleh : Erik Alga Lesmana* Pada dasarnya manusia tidak ingin merasa lapar, ia ingin selalu makan agar terjaga dari rasa kenyang. Manusia tidak bisa lari dari kesenangan, kesukaan, selera, kemauan, keinginan dan kepentingan pribadinya. Bahkan semua yang kita lakukan terikat kuat untuk memenuhi kesenangan pribadi kita. Banyak di antara kita sejatinya belum siap menghindar dari berbagai bentuk kesenangan. Begitu juga dengan puasa bukan menjadi media kesenangan kita, karena puasa, menahan dan menghindar dari kesenangan yang selama ini kita kejar-kejar. Bayangkan, selama menjelang terbit fajar sampai maghrib tiba kita diminta untuk menahan makan, minum dan kesenangan lainnya. Menurut Cak Nun, untuk melakukan kesenangan, engkau tidak memerlukan kualitas atau mutu kepribadian apa pun. Akan tetapi, dengan itu, mentalmu tak pernah bekerja. Untuk itu, engkau tidak akan pernah siap untuk menjadi manusia pejuang. Sebab, perjuangan sering mengharuskanmu untuk melakukan apa yang tidak engkau senangi. Puasa menjadikan kita menjadi manusia pejuang dan mampu membawa pada mental yang kuat. Hidup itu sebuah proses, maka mau tidak mau kita harus siap memasuki kubangan ketidaksenangan. Agar kita mampu melawati ketidaksenangan itu, maka perlu mental kuat dengan berbekal puasa sebulan itu. Puasa melatih kita untuk mengerem kesenangan. Maka mau tidak mau harus siap meminum jamu pahit yang semua orang pasti tidak menyukainya. Hidup adakalanya pahit dan ada kalanya manis. Setelah meminum jamu pahit, kita akan merasa betapa enaknya badan kita kembali segar seperti sedia kala. Itu semua bagian dari melatih diri kita menjadi manusia yang lebih produktif dan mental pejuang, tidak gampang menyerah dan mengeluh. *Penulis merupakan pengurus PC Pergunu Jakarta Pusat.

  • Guru adalah orang pertama sebagai peletak pondasi masa depan bangsa dan negara. Termasuk guru ngaji tradisional yang kehadirannya di tengah masyarakat masih masih sangat dibutuhkan. Merekalah yang memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, terutama cara membaca Al-Quran.   Di antara guru yang berdedikasi dalam mengajar itu adalah Rabiatul Adawiyah. Sudah tiga tahun ini ia aktif menjadi anggota Persatuan Guru NU (Pergunu). Pertama kali ikut kegiatan Pergunu di Kota Depok, walaupun tinggalnya di wilayah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Kesehariannya Wiwi, sapaan akrabnya, menjadi guru di PAUD Al-Kautsar di Citayam.   Guru tamatan SMK Nusantara tiga tahun silam ini, mengabdikan diri mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dengan jadwal sore hari hingga malam, Wiwi tercatat sebagai mahasiswi S1 di Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jurusan Matematika di kawasan Jakarta Selatan.   “Alhamdulillah saya bisa melanjutkan jenjang kuliah saat ini. Berkat dorongan orang tua dan para guru. Tidak banyak dari teman-teman seangkatan yang bisa melanjutkan belajar, karena keterbatasan ekonomi maupun tuntutan keluarga. Di kampung saya, biasanya tamatan SMK harus bekerja utuk membantu ekonomi keluarga,” tutur Wiwi.   Kondisi keluarga tak menyurutkan semangat Wiwi untuk terus belajar. Di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu saja keadaan ekonomi keluarganya ikut terimbas. Salah satunya adalah ayahnya terkena pemutusan hubungan kerja. Wiwi dipaksa berpikir keras, ikut membantu ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan kuliahnya.   Ia mencoba sejumlah cara. Berjualan penganan seperti cireng, pisang goreng kriuk, cilok dan bakso, yang semuanya dijajakan secara online.   Ia terbiasa bangun pukul empat  pagi untuk membeli bahan-bahan kue tersebut di pasar. Pagi hari jajanannya harus sudah siap dijajakan.   “Sekarang saya membantu keluarga dengan berbagai cara. Saya bersyukur bisa menjalaninya dengan baik. Saya tetap bisa mengajar dan menjalani perkuliahan,” ujarnya dengan nada tegar.   Selesai menyiapkan dagangan, Wiwi akan mengajar di PAUD. Lalu dilanjutkan dengan kuliah online hingga malam hari. Ia mengakui mengajar di PAUD ini menjadi tantangan tersendiri. Sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi pemasukan dari iuran bulanan orang tua murid. Semua terimbas, tapi pendidikan anak harus tetap berjalan.   “Insya Allah dengan niat tulus, saya tetap harus mengajar murid-murid. Saya percaya Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.”   Aktifitas Pergunu juga tak ia tinggalkan. Ia rajin menghadiri kegiatan rapat dan seminar online. Wiwi mengaku sangat senang bisa ikut dan menjadi anggota persatuan guru NU ini. Selain menambah relasi, ia merasa banyak mendapatkan ilmu.   Bagaimana dengan berbagai bantuan Pemerintah yang saat ini banyak beredar di media sosial?   “Sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya kan di kampung, dan belum tahu caranya,” kata Wiwi berterus terang.   Ia berharap Pergunu bisa membantunya mengakses bantuan pemerintah itu. Ia juga ingin tetap melanjutkan kuliah hingga berkesempatan untuk diwisuda. Yang pasti, mengajar sudah menjadi jiwa perjuangannya.  

  • Pendidikan di masa pandemi karena covid-19 seakan “menghentikan denyut nadi pendidikan”. Tatap muka beralih menjadi tatap maya, faktual berganti menjadi virtual, sistem pembelajaran yang dulunya mungkin hanya dilakukan oleh kalangan tertentu sekarang menjadi sesuatu yang biasa. Video conference yang dilakukan untuk kalangan terbatas sekarang sudah menjadi aktifitas keseharian guru dan siswa (google meet, zoom meeting, vidconf dan sebagainya). Terhentikah Proses Belajar Mengajar (PBM)? Ternyata tidak dan memang sejatinya tidak boleh berhenti. Banyak cara kalau mau dan banyak alasan kalau menolak. Dunia pendidikan adalah dunia pengetahuan dan penelitian. Pengetahuan didapatkan dari berbagai sumber ilmu. Pengetahuan saat ini benar-benar sangat mudah diakses sehingga seakan-akan saat ini kita tidak ada lagi yang bodoh dan sepertinya keterlaluan kalau ada yang bodoh. Berbagai media menjadi sumber pengetahuan. Tapi itu hanya sebatas pengetahuan via digital yang tentu pasti beda dengan pengetahuan karena mendapatkan informasi dari salah satu sumber ilmu yakni guru. Bicara tentang sumber ilmu, maka membaca adalah pintunya. Lagi-lagi kita diingatkan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama yang menginspirasi kalangan Arab khususnya kala itu dan menginspirasi manusia sesudahnya hingga har ini. ‘Iqra’ sebagai ‘bacalah’ mengisyaratkan dua hal, baca dengan mata sebagai panca indramu dan baca dengan hatimu apa yang ada disekitarmu. Prof. Abuddin Nata (2017) menjelaskan kosakata Iqra’ yang berarti baca, bukan hanya mengandung arti membaca huruf-huruf atau angka-angka dalam bentuk kata-kata atau kalimat sebagaimana yang dipahami, melainkan mengandung arti research (penelitian), baik penelitian eksploratif dengan mengandalkan kemampuan bahasa, pembersihan diri dengan mengandalkan intuisi yang bersih yang siap menerima ilmu dari Tuhan, penggunaan eksperimen dengan mengandalkan pancaindera, observasi dan demontrasi argumentatif  atau logika deduktif dan induktif. Hal ini sejalan dengan makna generic al-iqra, yakni mengumpulkan atau menghimpun. Hal ini sama artinya dengan research yang berarti menemukan. Membaca sesungguhnya adalah aktifitas keseharian guru dan siswa. Karenanya semangat ini akan selalu tumbuh dan berkembang pada jiwa guru dan siswa. Hanya pertanyaan berikutnya, sejauh mana frekuensi membaca buku tentang keilmuan dan membaca informasi yang selain itu kaitannya dengan PBM. Di tengah pandemi saat ini, dapat dilihat dan mungkin kita mengalami untuk anak-anak kita dirumah, kedekatan mereka dengan PBM sangat terbatas –untuk tidak mengatakan jauh sekali menurunnya-. Menjaga semangat agar ‘dekat dengan PBM’ selayaknya di sekolah adalah kekhawatiran positif. Apa kiat-kiat yang bisa kita lakukan selaku guru untuk menjaga spirit ini agar tetap terjaga bahkan bisa menemukan pengetahuan baru dalam rangka menjaga spirit literasi ini? Pertama, karena tujuannya adalah menjaga spirit literasi maka guru hendaknya tidak menekankan pada literatur yang wajib dibaca dan kaku sifatnya, (harus buku ini, harus sumber ini). Guru hanya perlu menjadi mediator dengan memberikan tema umum (silakan cari dan kaji buku tentang ‘penciptaan alam semesta’, buku dengan tema ‘sejarah kemerdekaan Indonesia’). Kedua, tugas literasi (meskipun banyak yang sudah melakukan) bisa dengan cara mengambil tema yang menjadi materi PBM (tentu mengacu ke kurikulum) yang kemudian resume buku ini nantinya akan dicetak sebagai karya siswa kelas sekian dan jurusan ini. Siswa akan terpacu jika namanya dimuat dalam buku resmi dengan penerbit dan di-ISBN-kan. Ketiga, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa dilakukan dengan menkontekskan ayat-ayat al-Quran dengan deskripsi keseharian. Misalnya gambar ini berkaitan dengan surat apa dan ayat berapa. Jadi menghubungkan gambar dengan teks ayat al-Quran. Keempat, dengan terbiasanya zoom meeting atau video conference maka media ini bisa dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan menulis singkat, atau bertahap dengan menghadirkan pembicara yang memiliki keahlian dibidangnya atau dengan curhat peserta tentang tulis-menulis. Jadi semua peserta adalah pembicara dengan waktu yang dibatasi. Tulisan di atas kiat-kiat yang bisa menjadi acuan yang dapat dikembangkan lagi lebih jauh. Intinya adalah jangan sampai spirit literasi melemah di tengah pandemi. Semoga Menginspirasi. **************** Oleh Sholihin H.Z. (Penulis & Guru MAN 2 Pontianak)

  • oleh: Erik Alga Lesmana Sekitar tahun 1980-an, keberadaan santri dapat dilihat dan dibedakan dengan mudah antara santri dengan pelajar yang lain. Misalnya untuk mengetahui santri, tubuhnya dibungkus dengan sarung, baju lengan panjang dan kopiah serta alas kaki ala kadarnya. Sebaliknya apabila terdapat pelajar yang mengenakan celana, berdasi dan bersepatu, jelas ia bukan dari kalangan santri. Pakaian yang dikenakan santri terbilang sederhana jika dibandingkan dengan pakaian ala budaya Barat. Namun, kiai Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU 1999-2014) menilai, bahwa budaya etis santri itu bukannya tidak bermakna, tetapi menujukkan nilai-nilai kesederhanaan sesuai ajaran yang diyakini. Sekaligus merupakan sikap protes terhadap kolonialis Belanda dan para simpatisannya. Pakaian yang melekat di tubuh santri bukan sebatas penutup aurot saja, melainkan memberikan perlawanan nyata terhadap penjajah. Sebetulnya pakaian santri terbilang cukup mewah jika dilihat dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Hanya saja penilaian tersebut berdasarkan kasat mata yang menjadikan ukuran penilaian, sehingga terkesan biasa-biasa saja bahkan dirasa tertinggal. Dari dulu sampai sekarang pakaian santri masih tetap sama, dengan mengenakan sarung, baju lengan panjang dan kopiah sebagai ciri khasnya. Apabila pakain yang dikenakan santri terbilang sederhana dan tertinggal, maka hampir bisa dipastikan saat ini tidak ditemukan lagi. Karena nilai kemewahan yang melekat inilah menjadikan pakaian santri tetap eksis seperti sekarang. Namun jika kita melihat kondisi hari ini malah sebaliknya, pasalnya banyak orang tampil dengan bangganya mengenakan pakaian ala santri. Kerap kali mereka memposting pakaian ala santri di medsos akun pribadinya, padahal mereka berada di luar lingkungan pesantren. Justru pakaian santri terbilang mewah, tidak ada orang tampil merasa malu atau berkecil hati. Bahkan mereka tampil dengan menunjukkan rasa bangga sebagai indentitas pribadi bahwa mereka bagian dari kalangan santri. Sejak ditetapkannya 22 Oktober sebagai hari santri Nasional, akun modsos dipenuhi dengan ucapan selamat sembari tampil dengan mengenakan pakaian ala santri. Hampir tidak ditemukan ucapan selamat mengenakan pakaian diluar kebiasaan santri di pesantren. Dalam kondisi tertentu agar dapat eksis di medsos dengan datangnya hari santri nasional, sengaja menyempatkan diri berfoto mengenakan pakaian ala santri agar tampil layaknya di pesantren. Momen ini menjadi bentuk nyata kecintaan santri terhadap budaya sendiri ditengah modernisme yang berkembang cukup pesat. Santri masih setia mengenakan pakaian kebesaran yang menjadi identitas mereka. Hal ini menujukan bahwa nilai patriotisme santri tidak diragukan lagi sejak dulu hingga sekarang. Menururt Kiai Sahal, asumsi pesantren sebagai lembaga pendidikan lebih menguat lagi karena para santri mampu menampilkan diri sebagai produk lembaga pendidikan agama. Oleh karena itu, pakaian yang dikenakan santri juga mempunyai nilai spritualitas yang tinggi. Karena mampu menampilkan diri di tengah masyarakat modal dari produk pesantren. Kebiasaan santri dan kiai saat melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan pesantren menjadikan pakaian dinilai cukup religius. Bisa jadi, pakaian santri menjadi jimat penangkal yang hebat, sehingga ketika hendak melakukan perbuatan maksiat dapat mengerem secara otomatis karena setruman religius dari pakaian. Sekali lagi, hanya karena pakaian. Untuk itulah pakaian santri dinilai cukup sakral dikarenakan dapat membangun pribadi yang justru dapat meningkatkan nilai-nilai religius. Bandingkan ketika santri mengenakan pakaian di luar kebiasaan pesantren. Melihat hal demikian rasanya tidak nampak kharisma religius dalam pribadi santri bahkan terkesan jauh dari cerminan keshalehan. Sekalipun keshalehan seseorang tidak diukur dari pakaian, namun hal itu dapat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat sebagai cerminan legitimasi agama. Sekian…

Agenda dan Kegiatan