Berita Terbaru

  • Meskipun pro kontra bermunculan, Kebijakan New Normal bidang penyelenggaraan pendidikan menuntut untuk dilakukan. Alasan mendasar kebijakan tersebut adalah kewajiban memberikan pelayanan pendidikan kepada warga negara untuk masa depan bangsa. Pada sisi lain, dari perspektif apapun, belum ada yang bisa memastikan kapan Pandemi Covid-19 berakhir. Meskipun alasannya demikian, kesehatan dan keselamatan warga belajar menjadi sangat penting. Hal itu, sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, Aris Adi Leksono, “memberikan pelayanan pendidikan itu wajib karena amanat undang-undang, menyangkut masa depan bangsa dan negara. Selain itu, belum ada yang bisa menjamin dan memastikan bahwa kapan Pandemi Covid-19 berakhir. Tapi ikhtiar pelayanan itu harus dibarengi kepastian jaminan kesehatan dan keselamatan dari semua pihak, khususnya Pemerintah”. Lebih lanjut menurut Aris, pemerintah harus hadir secara maksimal dalam kebijakan new normal pada sekolah atau madrasah. Kehadiran pemerintah dibuktikan dalam beberapa hal, pertama: Pemerintah memastikan hanya memberikan izin pada wilayah zona hijau dapat membuka kembali sekolah atau madrasah dengan pola tatap muka. Karena ini menyangkut keselamatan warga sekolah atau madrasah. Kedua, pemerintah harus membantu memastikan bahwa warga sekolah atau pendidikan tidak ada yang terindikasi positif Covid-19. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan fasilitas rapid test atau swap test. Hal itu, bisa dilakukan jelang pemberlakuan tahun ajaran baru. Ketiga, pemerintah harus memberikan bantuan sarana kesehatan di lingkungan sekolah atau madrasah. Mulai dari alat pengukur suhu badan, alat cuci tangan, masker, serta secara berkala melakukan sterilisasi lingkungan. Keempat, jika sekolah atau madrasah tidak memungkinkan dibuka secara tatap muka. Maka pemerintah segera mempersiapkan platform standar pembelajaran jarak jauh yang humanis dan bermakna. Kelima, pemerintah memastikan siaga tenaga medis dari puskesmas atau RSUD setempat untuk memantau dan memberikan pelayanan kepada warga sekolah atau madrasah, jika teridentifikasi adanya tanda-tanda Covid-19. Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum PP PERGUNU, K.H. Asep Saifuddin Chalim menegaskan pentingnya kesiapan imunitas secara kesehatan, juga kekuatan imanitas secara kolektif maupun individual. “new normal harus dipersiapkan secara maksimal oleh pemerintah, baik dari aspek kesehatan, maupun keimanan. Hal itu, bisa dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan dan terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan dan kesehatan, serta wabah segera diangkat oleh Allah SWT”, terang kiai Asep pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Jawa Timur.

  • Dalam menghadapi tantangan masa Pandemi Covid-19, PP PERGUNU telah menggelar seminar online sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual PERGUNU dalam ikut berkontribusi memberikan solusi terhadap dunia pendidikan khususnya Pendidik di tengah situasi Pandemi Covid-19. Bagi para peserta yang telah mengikuti Seminar Online tersebut, dapat mengunduh sertifikat digital pada link berikut: Sertifikat Digital Seminar Online dengan Tema: “Tantangan Pendidikan Madrasah Pada Masa Pandemi Covid-19” – 08 Mei 2020 https://bit.ly/sertifpergunu-08-05-2020 Sertifikat Digital Seminar Online dengan Tema: “Tantangan Pendidikan Jarak Jauh dan Pendidikan Karakter” – 15 Mei 2020 https://bit.ly/sertifpergunu-15-05-2020 Sertifikat Digital Seminar Online dengan Tema: “Guru dan Sistem Pendidikan Nasional Pasca Pandemi Covid-19” – 21 Mei 2020 https://bit.ly/sertifpergunu-21-05-2020

  • PERGUNU APRESIASI KETANGGUHAN MADRASAH PADA MASA PEMBELAJALAN COVID-19 Pada masa pandemic Covid-19, Pimpinan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) terus aktif dalam mengawal pelayanan pendidikan dan pembelajaran, baik yang diselenggarakan oleh sekolah atau madrasah. Salah satunya rutin mengadakan Focus Grup Discussion yang secara tematik mengkaji tentang keberlangsungan dan kebermaknaan pembelajaran di Indoensia. Selasa, 5 Mei 2019, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, melalui Live Meeting Talk Fusion, PERGUNU kambali menggelar FDG dengan tema “Learning and Teaching Priod Cov-19 in Finland”. Salah satu narasumber kegiatan tersebut Ahmad Hidayatullah, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Kemenag RI. Dalam paparannya menagaskan bahwa madrasah memiliki keunggulan kerarifan lokal, sehingga dalam kondisi apapun pembelajaran akan tetap jalan. Dominasi madrasah swasta justru merupakan potensi untuk berkembang secara mandiri, karena orientasi yang dibangun adalah pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. “madrasah dari lahirnya sudah kuat, karena memiliki pondasi kearifan lokal, kami banyak madrasah swasta yang itu tentu sudah terlatih mengelolah secara mandiri, menyelenggarakan pendidikan bagi mereka adalah pengabdian dan pemberdayaan masyrakat, bukan sekedar mencari keuntungan semata”, terang Ahmad yang sukses mengembangkan MAN Insan Cendekia. Lebih lanjut, pria berdarah Malang tersebut memaparkan meskipun madrasah memiliki modal kultur yang kuat tersebut, pemerintah melalui Kementerian Agama tetap  wajib hadir memberikan pengaturan, pendampingan, dan fasilitas lainnya. Salah satunya, dengan bagaimana hari ini madrasah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait mengahadirkan pembelajaran Abad 21 di Madrasah. Misalnya; madarasah sudah memiliki e-Learning secara mandiri disuport dengan claud data yang disebut dengan storehouse knowledge, sudah lama menerapkan penyederhanaan administrative guru, memberikan panduan dan pelatihan metodologi pembelajaran abad 21, dan banyak inovasi lainnya. Pada saat yang sama, Aris Adi Leksono, Wakil Ketua Pimpinan Pusat PERGUNU, memberikan apresiasi ketangguhan dan kesiapan madrasah, terutama dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Menurutnya, pondasi kesadaran dan pemberdayaan masyarat adalah kunci ketangguhan madrasah. Meskipun demikian, madrasah harus mampu terus melakukan inovasi, agar terus dapat mengabdi dan berbuat lebih bermanfaat kepada masyarakat Indonesia. “guru dibawah binaan pergunu memang banyak guru madrasah, kami memahami ketangguhan mereka, karena sesungguhnya madrasah tumbuh dari masyarakat. Itulah sebabnya madrasah yang merupakan model pendidikan khas Indonesia yang mampu survive dalam situasi apapun. Tapi kementerian agama juga tetap harus memperhatikan mereka, dengan dukungan inovasi, terutama dalam menghadapi tantangan abad 21”, tegas Aris yang juga Dosen di UNU Indonesia. Sementara itu, narasumber dari Tampere University Finland, Mochammad Tolchah menyampaikan salah satu kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia adalah pemerintah memberikan otonomi yang luas untuk mengembangan lembaga pendidikan, berdasarkan pontensi yang ingin dikembangkan daerah tersebut. Lebih lanjut, menurutnya model pendidikan madrasah yang tumbuh dari masyakat ini salah satu model pengembangan pendidikan di Finlandia, tinggal bagaimana pemerintah Indonesia mampu mengembangan potensi madrasah dengan baik. Madrasah harus respon terhadapat perkembangan abad 21, dengan menghadirkan kurikulum pendidikan yang tidak hanya mahir dalam agama, tapi juga mampu melahirkan para cendekia dalam bidang science, tekhnologi, dan lainnya. ars

  • PEDULI DAMPAK COVID-19, PERGUNU BEKERJASAMA DENGAN IKHAC BERIKAN BEASISWA SARJANA DAN PASCSARJANA Pesatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) bekerjasama dengan Kampus Institute K.H. Abdul Chalim (IKHAC) kembali memberikan beasiswa sarjana (S1) dan Pasca Sarjana (S2) untuk pelajar, guru, dan ustadz/ustadzah. Peserta beasiswa ini berasal dari utusan PW PERGUNU se-Indonesia dan luar negeri yang telah memenuhi syarat. Waktu Pelaksanaan kegiatan dipercepat, karena untuk merespon dampak Pandemi Covid-19, agar tidak terjadi putus belajara. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Pergunu, K.H. Asep Saifuddin Chalim, “pergunu dan Ikhac akan kembali memberikan beasiswa, ini adalah bagian dari program pemberian 5000 beasiswa kepada anggota Pergunu di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Tahun ini kita percepat, karena kita tidak mau dampak corona ini berakibat pada menurunnya motifasi untuk lanjut kuliah dan terus belajar bagi anak-anak kita, dan para guru, ustadz, ustadzah”. Sementara itu, Koordinator Program Beasiswa Pergunu tahun 2020, Fadli Usman menjelaskan kuata beasiswa tahun 2020 adalah setiap provinsi dapat mengusulkan 4 orang calon pemerima Beasiswa S1 dan 2 orang calon penerima beasiswa S2, sedangkan untuk S3 kami akan sampaikan ke depannya. Untuk mendapatkan beasiswa ini juga harus memenuhi syarat pada juknis beasiswa pergunu. “tahun ini sesuai arahan ketua umum setiap PW PERGUNU se-Indoensia, disilahkan mengusulkan 4 orang untuk S1, dan 2 orang untuk S2, untuk S3 akan akan jelaskan lagi nanti, tentunya harus memperhatikan pesyaratan dalam juknis yang ada”, terang Fadli yang juga menjabat sebagai salah satu Ketua PP PERGUNU Lebih lanjut, Dosen Universitas Brawijaya tersebut menegaskan bahwa keaktifan pengurus wilayah dalam menggerakkan kegiatan pergunu akan menjadi pertimbangan disetujuinya pengajuan yang disampaikan kepada PP PERGUNU. Selain itu, jumlah anggota yang terdaftar dalam SIMAS PERGUNU juga dipertimbangkan untuk mendapatkan kuato lebih dari jumlah kuota standar. Sebagai informasi sampai saat ini, PP PERGUNU bekerjasama dengan Kampus IKHAC telah memberikan beasiswa lebih dari 2000 mahasiswa (S1 dan S2), dengan  Kampus Uninus Bandung telah memberikan beasiswa lebih dari 700 mahasiswa (S2 dan S3), dengan Kampus Unwahas Semarang, telah memberikan beasiswa lebih 175 mahasiswa (S3), dan beberapa kampus lainnya di Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Jawa Tengah. PETUNJUK TEKNIS BEASISWA PERGUNU KERJASAMA IKHAC DAPAT DIUNDUH MELALUI LINK BERIKUT: https://drive.google.com/file/d/1tZJ5GMcukv21-02zaEp934pVN1ULjdQH/view?usp=sharing

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • Oleh: Ahmad Faqih Sekretaris PW PERGUNU Jawa Timur Setiap menjelang tahun akademik baru, di tengah masyarakat selalu muncul polemik terkait kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Apalagi di tahun ini regulasi PPDB tak hanya jalur zonasi tempat tinggal tapi juga jalur prestasi, mutasi dan afirmasi. Usia peserta didik dan latar belakang kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan kuota penerimaan. Tapi kenapa polemik PPDB selalu muncul dan berulang? Terlihat sekali betapa calon konsumen lembaga pendidikan begitu mendamba untuk bisa bersekolah di sekolah negeri. Kenapa keberadaan lembaga pendidikan swasta (sekolah dan PT) seolah menjadi kasta kedua dalam peradaban pendidikan di negeri ini? Padahal di manca negara, pada umumnya private school (sekolah/kampus swasta) lebih diminati dari pada public school (sekolah/kampus negeri). Bahkan bagi masyarakat di luar negeri, bersekolah di privet school dianggap lebih bergengsi (prestise). Fenomena PPDB seperti ini, setidaknya menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia kepada sekolah negeri relatif lebih tinggi dibanding kepada sekolah swasta. Umumnya pertimbangan utama konsumen dalam memilih lembaga pendidikan adalah faktor mutu dan biaya. Saat ini, persepsi yang tertanam dibenak mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa sekolah negeri secara mutu “lebih unggul”. Atau mereka menganggap biaya pendidikan di sekolah negeri lebih terjangkau. Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini, terdapat banyak lembaga pendidikan swasta yang mutu dan layanan pendidikannya tidak kalah dengan negeri bahkan mungkin lebih unggul. Bahkan dibanyak daerah, sekolah swasta prestasinya melampaui sekolah negeri. Pada umumnya sekolah swasta lebih menonjol pada aspek layanan pedagogis, aspek penanaman ahlaq, perkembangan kepribadian peserta didik serta pengembangan kreatifitas dan kemandirian (life skill). Beberapa diantaranya mengaplikasikan system pendidikan berbasis boarding school (asrama/pesantren). Dari segi biaya pendidikan, saat ini di berbagai penjuru tanah air, telah banyak berdiri sekolah swasta yang menawarkan layanan pendidikan bermutu dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Sebagian diantaranya juga menyediakan skema beasiswa bagi golongan ekonomi yang kurang mampu. Tapi mengapa hingga hari ini persepsi itu masih tertanam? Mengapa kesetaraan pandang itu belum terjadi. Hingga hari ini, pemerintah tidak memiliki sumberdaya dan energi yang memadai untuk memberikan layanan pendidikan dengan tanpa melibatkan civil society. Karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk “mensejajarkan derajat” sekolah swasta dengan sekolah negeri. Seyogyanya, terlebih dahulu harus dilakukan “zonasi” guru dan tenaga kependidikan” (baca redistribusi). Guru dan PTK yang berprestasi harus terlebih dahulu dipetakan dan disebar untuk memberikan “modal” yang setara antar sekolah. Sehingga kesenjangan antar sekolah bisa diminimalisir. Yang dulunya dianggap tidak favorit bisa memiliki “modal tambahan” untuk merebut trust masyarakat. Sementara guru dan PTK yang kurang qualified, segera dilakukan upgrade melalui pembinaan dan training yang intensif dan sistematis. Pada garapan ini, organisasi profesi guru penting untuk dilibatkan. Perlu juga disiapkan regulasi yang memungkinkan untuk mengeliminasi mereka yang tetap unqualified setelah menjalani proses upgrading. Mereka harus digantikan oleh SDM baru yang sebelumnya telah tersertifikasi /terjamin kualifikasinya. Hal ini menjadi krusial, mengingat lendidikan adalah layanan jasa yang menentukan masa depan generasi bangsa (manusia). Diluar faktor SDM, pemerintah juga dapat melakukan intervensi melalui upaya pemenuhan dan standarisasi sarana prasarana pendidikan di sekolah swasta. Pemerintah harus memunculkan kebijakan afirmasi dibidang ini, baik melalui regulasi maupun realokasi anggaran yang dimiliki. Pendirian sekolah baru harus terlebih dahulu memenuhi syarat minimal ketersedianan sarpras pendukung pendidikan. Sementara sekolah swasta yang terlanjur berdiri harus dipastikan memenuhi standar ketersediaan sarpras pendukung. Bisa melalui skema kerja sama antara institusi penyelenggara dengan pemerintah. Karena keterbatasan anggaran pemerintah yang tersedia, misalnya bantuan dana dari pemerintah hanya bisa diberikan bila institusi pengelola turut serta menyiapkan sekian persen dana yang dibutuhkan untuk pengadaan sarpras tersebut. Disisi lain, kebijakan zonasi dan pagu dalam PPDB, seharusnya juga diterapkan di lingkup madrasah negeri. Dengan cara ini berkah (baca side effect) kebijakan akan mengalir secara optimal ke sekolah/madrasah swasta. Selama ini madrasah negeri dengan “unlimited” zona dan pagu-nya lebih banyak mendapat serapan limpahan murid dari sekolah negeri. Dengan bertambahnya jumlah murid di sekolah swasta, tentu dengan sendirinya mereka akan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan peningkatan mutu dan perbaikan layanan. Yang tak kalah penting, seyogyanya private school diberikan ruang yg lebih luas utk berkreasi dalam menawarkan sajian menu (kurikulum) dan layanan pendidikan. Perlu deregulasi aturan bagi private school agar tercipta keunggulan-keunggulan genuine berbasis kearifan dan potensi lokal. Dengan keunggulan dan keunikan tersebut diharapkan private school akan mampu merebut trust dari masyarakat. Saatnya lembaga pendidikan swasta lebih gigih berjuang untuk membalik persepsi dan keadaan. Saatnya pemerintah mengambil langkah-langkah out of the box untuk mengakselerasi terwujudnya kesejajaran. Dengan begitu, kita bisa berharap akan terwujud perubahan persepsi masyarakat. Bahwa sekolah swasta tak kalah mutunya dari pada sekolah negeri. Bahwa bersekolah di lembaga pendidikan swasta justru lebih bergengsi serta membawa prestise. Wellcome to new normal pendidikan, selamat tinggal abnormal persepsi pendidikan. Bagaimana menurut anda?

  • Pendidikan Karakter di Masa Covid 19 Oleh: Dr. Romi Siswanto, M.Pd* Wabah virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19 tidak hanya memakan banyak korban jiwa, namun juga memporakporandakan semua sektor kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain lain. Semua terdampak. Upaya pemerintah untuk memutus mata rantai virus yang berasal dari Wuhan, Cina itu terus dilakukan. Salah satunya dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Beberapa daerah sudah melakukan PSBB tersebut. Akibatnya, nyaris semua akvitas  lumpuh Semua kegiatan dilakukan dari rumah/work from home (WFH).  Tagline #dirumahsaja pun kemudian menjadi sangat  populer di masa darurat pandemi covid 19. Pada sektor pendidikan, pemerintah menutup sekolah-sekolah pada semua jenjang. Semua aktivitas di sekolah dihentikan. Namun demikian kegiatan belajar harus tetap berlangsung. Guru dan siswa melakukan tatap muka secara virtual. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Mereka harus tetap semangat WFH lewat virtual learning. Harus tetap hadir di dalam kelas maya. Kenyataan ini adalah hal yang baru baik guru maupun siswa. Supaya kegiatan belajar mengajar di rumah berjalan dengan baik,  pemerintah maupun pihak swasta seperti Google Indonesia dan Microsoft bersinergi  menyediakan perangkat aplikasi yang dijadikan platform pembelajaran dalam jaringan (online ). Selain dua perusahaan raksasa itu ada juga pihak swasta seperti Quipper, Kelas Pintar, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius. Sementara pemerintah lewat Kementerian Pendikan dan Kebudayaan menyediakan portal belajar sendiri, yakni Rumah Belajar dan program belajar di TVRI. Selama ini, jauh sebelum wabah Covid 19 melanda negeri ini, kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah secara rutin dilakukan  guru maupun siswa. Hal yang jamak terjadi adalah siswa mengadopsi contoh yang baik dari gurunya lewat sikap maupun tutur kata seorang guru. Hal ini dilakukan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama 3 tahun dan sekolah Menengah Atas selama 3 tahun. Ini rutin dilakukan sejak pukul 07.00 sampai dengan pukul 17.00. Kegiatan ini secara tidak langsung adalah menanamkan pendidikan karakter kepada siswa. Siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Kegiatan kerohanian dan sosial terkontrol oleh warga sekolah (Kepala sekolah, guru dan rekan sejawat siswa). Meskipun kadang juga dijumpai hal-hal negatif terjadi di sekolah seperti perundungan  tindak kekerasan baik terhadap siswa maupun guru begitu sebaliknya. Kasus seperti ini  jarang terjadi. Jumlahnua tidak banyak (tidak mentolerir jumlah) dibanding dengan perbuatan positif yang dilakukan siswa ketika berada di sekolah. Pada masa darurat Covid 19, ada banyak  hikmahnya yang bisa dipetik orang tua. Corona membuka ingatan kita kembali bahwa rumah adalah sekolah yang pertama, orang tua adalah guru yang pertama dan utama.  Sekarang adalah saat yang sangat baik dan tepat memberikan Pendidikan Karakter bagi putra putrinya sendiri yang selama ini mereka melihat karakter baik dari gurunya. Belajar di rumah dan bekerja dari rumah membuat anak  orang tua dan anggota keluarga lainnya lebih banyak waktu bahu membahu menyelesaikan tugas sekolah, tugas rumah maupun target-target anak yang belum tercapai. Misalnya, anak kelas satu yang belum lancar membaca baca tulis baik Latin maupun Arab.  Peran orang tua sangat penting. Ia harus sabar dan telaten membimbing hingga lancar membacanya dengan durasi waktu 24 jam selama darurat Covid 19. Selama ini anak-anak hanya tersedia waktu bercengkrama dengan orang tua hanya dua jam di pagi hari. Sebab malam pun kadang sudah tidak dapat berkomunikasi dengan anak. Masa pandemi covid 19 pada bulan Ramadan ini harus kita jadikan momentum memberikan pendidikan karakter pada anak-anak kita sendiri. Saatnya meraih berkah di tengah wabah. Pertama, mulai dari sahur sudah bercengkrama di meja makan sambil memberikan cerita, kisah-kisah yang baik kepada anak. Mengajarkan etika makan baik sebelum maupun setelah makan. Kedua,  salat subuh berjamaah. Setelah itu tadarus/membaca al quran bersama. Ketiga, mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah (jika tidak ada tugas dari sekolah biasanya istirahat). Keempat, melakukan salat Dzuhur berjamaah. Kemudian bercengkrama sejenak, bercerita berbagi pengalaman bersama.  Kelima, salat Ashar berjamaah, dilanjutkan kerja bareng menyiiapkan hidangan buka puasa. Ada yang membantu ibunya di dapur. Ada jugs yang menata meja makan. Keenam, berbuka puasa bersama keluarga. Diawali membaca doa buka puasa. Kemudian minum dan makan secukupnya, lalu dilanjutkan salat  Magrib berjamaah. Selanjutnya makan bersama sambil bercengkrama menunggu waktu sholat Isya tiba.  Ketujuh, setelah Isya berjamaah dan dilanjutkan salat taraweh berjamaah di rumah. Ayah bisa menjadi imam dan atau anak yang sudah baligh dapat diajari menjadi imam. Ini prnting untuk menanamkan kemampuan dalam memimpin. Rutinitas  di atas merupakan pendidikan karakter yang dilakukan oleh orangtua secara langsung, walapun para orangtua secara formal-pedagogis tidak dibekali 5 pilar Penguatan Pendidikan Karakter;  Kemandirian, Religius, Integritas, Gotong Royong, Nasionalisme. Secara tidak langsung ada kaitan erat antara rutinitas di atas dengan 5 pilar tersebut. Misalnya, Kemandirian;  tadarus/membacara Al-Quran usai salat berjamaah, membersihakan tempat makan sendiri. Religius; melakukan salat berjamaah baik yang wajib maupun yang sunnah, membaca doa-doa seperti doa niat puasa, doa berbuka puasa dan doa mau makan. Integritas; sholat tepat pada waktunya, bertanggungjawab atas segala sesuatu yang anak kerjakan.  Gotong royong;  menyiapkan bersama menu berbuka puasa maupun sahur. Nasionalisme, orangtua menceritakan kisah para pejuang bangsa  melawan penjajah dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghormati dengan cara memperingati hari kelahiran pejuang tersebut lebih baik, seperti RA Kartini, Ki Hajar Dewantoro dan para pahlawan lainnya. Marilah para orangtua, kini saatnya menanamkan karakter di rumah bagi anak-anak kita sendiri di masa darurat kesehatan ini. Hikmah di balik wabah ini, kita sebagai orangtua dapat secara langsung memberikan penguatan pendidikan karakter putra putri kita sendiri. *Penulis adalah: ASN Kemdikbud/Pemerhati dan Praktisi Pendidikan/Ketua PP Persatuam Guru Nahdathul Ulama

  • Dunia Literasi, Dunia Islam (Refeleksi Kemajuan Literasi di Era Abbasiyah) Oleh: Sholihin H. Z.* (*Penulis E-books: Yang Sedikit Yang Menginspirasi) (*PC Pergunu Kota Pontianak)   Pendahuluan Berakhirnya kekhalifahan amirul mukminin di masa khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib maka berakhir pula periode khulafaurrasyidin sejak diawali oleh Abu Bakar Shiddiq tahun 632 M hingga berakhirnya pemerintahan Ali bin Abi Thalib tahun 661 M. Ahli sejarah mencatat bahwa di era khulafaurrasyidin yang mendekati masa berkuasa tiga puluh tahun adalah tertatanya hubungan kemasyarakatan baik dari luar maupun dari dalam. (Dar al-‘Ilm, 2011: 57) Selanjutnya dengan segala peristiwa yang terjadi di kala itu, pemerintahan Islam dipegang oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dengan mendirikan dinasti Umayyah. Nama Umayyah sendiri dinisbatkan kepada Umayyah bin Khalaf yang merupakan pemimpin Quraisy dan ketua Bani Jumah. Muawiyah bernama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Dengan demikian, hubungan antara Muawiyah dan Umayyah adalah antara cucu dan kakek. Hubungan keluarga yang masih sangat dekat. Berkuasa selama lebih kurang 90 tahun, akhirnya dinasti umayyah mengalami penurunan dan digantikan oleh Bani Abbasiyah yang berkuasa hingga 500 tahun (750 – 1258 M/132-656 H). Nama Abbasiyah dilekatkan kepada paman Rasulullah yang paling muda yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Di era inilah Islam dan kaum muslimin mencapai puncak kejayaannya sehingga menjadi mercusuar bagi negara-negara di sekitarnya, menjadi sumber pengetahuan bahkan peradaban dimana ilmu pengetahuan menjadi dasar pijakannya sehingga berbagai gerakan keilmuan berkembangan dengan pesat dan maju. Sesungguhnya, maju dan jayanya Bani Abbasiyah ini sedikit banyak juga dirintis oleh kejayaan era Bani Umayyah. Benson Bobrick dalam bukunya  The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad (2013: 18, diterj. Indi Aunullah) menyebutkan diantara keunggulan Bani Umayyah adalah kedigdayaan pasukan laut di Mediterania Timur yang menjaga keutuhan kerajaan. Adanya inovasi di bidang administrasi seperti dioperasionalkannya sistem pos seperti jasa ekspress, standardisasi pembuatan uang logam, penetapan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara. Dari sisi kemasyarakatan dan sastra, menjamurnya majlis sastra, syair dan musik. Ilmu hadit, tafsir dan sejarah dibukukan. Dari sis kebudayaan, mazhab-mazhab filsafat dan ilmu ketuhanan dipelajari, bahkan ilmu medis dankimia Yunani pun ikut dipelajari. Dari sisi pembangunan, masjid raya didirikan dimana-mana. Pada pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, kota Qairawan dirirkan Uqbanbin Nafi’ pada tahun 50 H. Didirikan pula Kubah Batu Besar yang dibangun di al-Quds. Pembangunan Masjidil Aqshapun ikut dimulai. Dengan demikian, dinasti Umayyah memberikan sumbangsih yang berarti untuk kemajuan Islam berikutnya. Dinasti Abbasiyah Nama Abbasiyah dinisbatkan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, kakak dari ayahanda Nabi Muhammad SAW. Pencetus dinasti Abbasiyah dan khalifah pertamanya adalah Abul Abbas Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Gelarnya adalah Abu Abbas Ash-Shaffah. (Dar al-‘Ilm, 2011: 87) Sejak awal berdirinya Bani Abbasiyah, dinamika politik, sosial budaya dan ekonomi sudah nampak, kuatnya pengaruh khalifah masih bisa mengendalikan situasi yang ada sehingga di periode awal yang merupakan periode pertama di bawah kendali pemuka-pemuka Arab dan Persia segala persoalan masih dapat di atasi.  Periode ini berlangsung antara tahun 750 – 847 M. Sejarah mencatat, perjalanan era kehalifahan Bani Abbasiyah terus berkembang maju adalah adanya kebijakan dari khalifahnya yang concern dengan ilmu pengetahuan. Politik dan ekonomi juga berkembang namun di bidang ilmu pengetahuan terasa lebih maju dan kuat gairahnya. Di era pemerintahan Bani Abbasiyah inilah muncul dan lahir ilmuwan-ilmuwan Muslim dan ini hampir disemua bidang. Tentu, adanya dukungan dari pemerintah di kala itu menjadi faktor yang tidak bisa dipinggirkan sumbangsihnya, dengan segala kekuasaannya itulah, para khalifah yang terkenal dalam sejarah Bani Abbasiyah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pilar utama kemajuan negerinya. Ma’ruf (2011: 189) menyebutkan masa puncak kejayaan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudah al-Manshur yaitu al-Mahdi, al-Hadi, Harun ar-Rasyid,al-Ma’mun, al-Mu;tashim, al-Watsiq dan al-Mutawakkil. Tentang prestasi khalifah Bani Abbasiyah beberapa diantaranya Abul Abbas ash-Shaffah (132 – 136 H) sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang dengan kekuasaannya menggalang berbagai kekuatan untuk kejayaan Abbasiyah, sebagai pendiri dan periode awal Bani Abbasiyah ia mengorganisir kekuatan yang ada untuk mengeksiskan Abbasiyah, di masa ini pula para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politk dan agam sekaligus (Maruf, 2011: 187). Selanjutnya khalifah kedua, Abu Ja’far al-Manshur (136 – 158 H), masa pemerintahan Al-Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembangan kejayaan Abbasyiah. Prestasinya yang mendukung sepenuhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga memunculkan ghirah dunia muslim terhadap ilmu pengetahuan sehingga berkembang karya-karya sastra, dieranya juga ditetapkan tujuh kebijakan khalifah yang menjadi pedoman pemerintahan Bani Abbasiyah. Harun al-Rasyid (170 – 193 H), khalifah kelima yang mendirikan bayt al-hikmah (perpustakaan terbesar di zamannya), di eranya menurut Benson Bobrick (ibid, h. 60) ditandai dengan adanya pendelegasian tugas dan pekerjaan negara seperti kekuasaan sipilnya didelegasikan kepada seorang perdana menteri atau wazir, kekuasaan kehakimannya pada seorang hakim atau qadhi,  peran militernya pada seorang jenderal atau amir,  dan dimasa Harun al-Rasyid ini puncak kejayaan dinasti Abbasiyah; Dilanjutkan Al-Ma’mun al-Rasyid (198 – 218 H) yang merupakan khalifah ketujuh, ia mendirikan lembaga penerjemah kitab dari Yunani Kuno dan India dan menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di abad pertengahan; Kemudian al-Mu’tashim (218 – 227 H) yang dengan usahanya dapat menumbuhkan minat para pelajar muslim dan barat untuk mendalami ilmu pengetahuan. Usahanya juga mendirikan Kota Sarra Man Ra’a yang artinya gembira orang melihatnya. Kota ini kemudian lebih dikenal dengan kota Samarra. Kota Samarra  menjadi kota metropolitan, maju dan berkembang sesudah kota Baghdad. Sudah disebutkan di atas, bahwa kemajuan Abbasiyah di bidang ilmu pengetahuan mengalami masa kejayaannya ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ahirnya ilmuwan muslim disrtai karyanya yang spektakuler, kita pasti tahu Ibnu Sina yang dikenal dengan ahli kedokterannya, imam Ghazali dengan tasawufnya. Dua olmuwan ini sebagai gambaran betapa majunya Islam untuk bidang saint dan agama. Ini menandakan literasi sudah dikenal dan menjadi brand di eranya. Sedikit tentang literasi, oleh National Institute for Literacy, literasi diartikan sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan

  • Refleksi Sinergi Pendidikan Indonesia Pada Masa Darurat Covid 19 Oleh; Dr. Romi Siswanto, M.Si* Dunia pendidikan kita sedang menghadapi kondisi yang sebelumnya belum pernah terjadi di Indonesia yaitu wabah Corona atau COVID 19. Satu abad yang lalu sekitar tahun 1920 di Indonesia pernah terjadi tiga wabah hebat yang menjadi perhatian pemerintah kolonial belanda yaitu PES, Cacar dan Malaria. Disamping wabah-wabah tersebut masih ada wabah seperti kusta dan yang masih terngiang dalam ingatan kita belum lama terjadi tahun 2012 wabah SARS atau lebih dikenal dengan Flu burung. Dunia pendidikan paling terasa terkena dampak covid 19 ini apalagi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semua aktifittas dilakukan di rumah tidak terkecuali dunia pendidikan semua aktifitas dilakukan di rumah baik Guru maupun siswa wajib belajar di rumah . Dengan kondisi diatas, siapa yang kira-kira siap menghadapinya?, Mari kita cermati beberapa prilaku warga sekolah akibat darurat covid-19; Pertama, guru adalah perangkat pendidikan yang paling siap dalam menghadapi kondisi darurat Covid-19 ini, dikarenakan sudah terbiasa melakukan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Naluri seorang guru pasti ada cara dalam menghdapi kondisi darurat seperti ini, mungkin ada juga guru yang bingung menghadapi kondisi darurat seperti ini tetapi tidak banyak. Apalagi sudah banyak perangkat/sistem yang disediakan oleh pemerintah ataupun pihak swasta untuk pembelajran di rumah di masa darurat ini. Kemungkinan besar terkendala masalah non teknis saja seperti geografis yang tidak menguntungkan seperti sarana penerangan yangg terbatas, belum terkoneksi internet dan jarak sekolah, tempat tinggal guru dan siswa terlalu jauh. Kedua, siswa, dalam kondisi darurat kesehatan seperti ini ada siswa yang senang dan ada yang sedih melakukan aktifitas di rumah saja. Namun demikian aktifitas belajar tetap dilakukan baik secara daring  maupun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru secara langsung. Pembelajaran di rumah mencerminkan kolaborasi yang cukup kuat antara guru, siswa dan orang tua. Penurut pandangan penulis ini adalah pola baik yang harus terus dibangun. Ketiga, orang tua, dalam kondisi darurat ini yang paling tidak siap adalah orang tua. Mengapa demikian, seperti yang pribadi penulis maupun hasil pengamatan kepada orang tua secara umum. Kemampuan akademik orang tua sangatlah beragam kondisi ini sangat menyulitkan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak, apalagi anak-anak yang duduk di bangku kelas 7 keatas, mata pelajaran yang kami rasakan  sulit dipahami adalah  mata pelajaran sains dan matematika. Kondisi ini dikarenakan Kompetensi orang tua sangatlah beragam, dan kemampuannya tidaklah sama dalam mendampingi anak belajar dirumah. Sehari-hari dalam kondisi normal mungkin memberi jam belajar anak sudah cukup dua jam saja. Seperti halnya saya yang terapkan pada anak saya, jam belajar selepas maghrib sekitar pukul 18.15 sampai dengan pukul 20.00 WIB. Nah, kondisi pada saat darurat covid 19 ini orang tua yang juga bekerja di rumah harus mendampingi anaknya belajar dari rumah. Seperti yang terjadi dengan keluarga kami  yang bersekolah lima orang, satu di smp dan 4 di SD, sungguh kami menyadari setiap anak kemampuannya, kemauannya, gaya belajarnya sangat jauh berbeda, kami dihadapkan dengan kondisi yg berbeda-beda, sungguh perjuangan yang berat untuk mencapai kondisi yang diinginkan, berbeda/beda caranya dalam menghadapi anak kami sendiri. Hikmah yang dapat kami ambil sebagai orang tua dari darurat covid 19 ini adalah kami sebagai orang tua menyadari betul betapa luar biasa perjuangan Bapak dan Ibu guru dalam mendidik anak kami yang berbeda-beda kemampuannya untuk mencapai target capaian kompetensi setiap mata pelajaran. Refleksi atas keterbatasan orang tua harusnya berdampak pada penghargaan pada jasa guru. Berangkat dari kondisi di atas, banya hal yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan kita, misalnya bagaimana cara yang paling efektif untuk melakukan pembelajaran dalam kondisi darurat. Kondisi darurat perlu ada altenatif model pembelajaran seperti dengan model blended learning (tatap muka dan pembelejaran jarak jauh/ dalam jaringan). Pratikknya misalkan bisa mencoba dalam lima atau enam hari sekolah ada satu atau dua hari belajar dirumah mengerjakan tugas sekolah mungkin seperti Project Base Learning dikaitkan dengan materi mata pelajaran masing-masing dan dikerjakan kelompok atau individu dan mengikutsertakan anggota keluarga. Dalam masa darurat ini banyak langkah-langkah yang inovatif yang menurut penulis bisa dilakukan, karena pedidikan dan pembelajaran dalam kondisi apapun harus tetap berjalan. Karena pendidikan nasib masa depan sebuah bangsa. Pertama, jika ditemui kondisi siswa yang kesulitan terkoneksi teknologi komunikasi, perlu ada perjuangan seorang guru yang rela mendatangi siswa ke rumah memberi tugas-tugas pelajaran agar pembelajaran tetap berjalan. Kedua, konidisi siswa yang sudah terfasilitasi dengan teknologi informasi guru dapat memberikan proyek pelajaran, baik melalui sms maupun whatsaps (WA) apalagi dgn WA guru bisa memberikan proyek kelompok ke siswa, maksimal lima orang per kelompok. Banyak yang dapat dilakukan oleh guru semisal dengan video conference, video call dan atau pembuatan video tutorial, sehingga interaksi guru dan peserta didik dapat berjalan dengan baik. Ketiga, jika terkendala secara geografis, Guru dapat memberikan pembelajaran melalui Radio bekerjasama degan radio pemerintah maupun swasta, mungkin kondisi ini efektif bagi siswa-siswa yang terkendala dengan kondisi geografis yang tidak terjangkau teknologi internet. Semoga kondisi darurat ini segera berakhir Virus covid 19 segera lenyap dari muka bumi Indonesia, kita dapat melakukan aktiftas normal kembali. Kami secara pribadi atau mewakili orang tua Indonesia mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu guru yang telah mendidik anak kami dengan baik. Penulis adalah: Pakar Pengembangan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud RI/ Ketua PP Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Indonesia

Archives

Agenda dan Kegiatan