Berita Terbaru

  • Jakarta, PP PERGUNU Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) tidak setuju dengan rencana pemerintah yang akan merekrut tenaga pendidik hanya melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Perekrutan melalui CPNS juga harus dilakukan karena status PNS menjadi hak warga negara. Peraturan dan ketentuan yang dibuat antara profesi guru dengan status PPPK dan PNS berbeda. Semisal terkait dengan jaminan masa depan seperti tunjangan atau pensiun setelah paripurna menjalankan tugas. “Kalau kalimat kontrak tentu kapan saja kan bisa selesai dan berhenti,” kata Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pergunu Aris Adi Leksono, Jumat (1/1). Pergunu tetap berpandangan bahwa formasi perekrutan guru melalui PPPK harus direalisasikan tanpa harus menghilangkan rekrutmen guru melalui jalur CPNS. Dua langkah ini adalah bentuk upaya mengatasi permasalahan guru di daerah dan memberikan apresiasi serta hak warga negara untuk menjadi PNS. Jika alasan pemerintah meniadakan formasi CPNS karena banyak PNS guru yang mengajukan pindah walau baru bekerja 4-5 tahun, maka permasalahannya bukan terletak pada guru dan proses rekrutmennya, namun pada regulasi dan ketegasan pimpinan atau atasan guru PNS tersebut. “Jika terjadi penumpukan karena PNS pindah, jangan disalahkan gurunya. Yang perlu dibenahi adalah regulasinya. Kenapa regulasinya membolehkan dan mengapa pimpinannya memberi izin untuk pindah. Kalau mengacu pada aturan maka tidak gampang memberikan izin pindah,” ungkap Aris. Jika ada kekhawatiran terjadi penumpukan PNS guru di daerah tertentu khususnya di perkotaan, maka rekrutmen CPNS bisa dilakukan berbasis data. Dalam artian pemerintah harus melakukan pendataan dan memprioritaskan, daerah mana yang benar-benar sedang membutuhkan tenaga guru PNS untuk dibuka formasinya. Bagaimanapun lanjut Aris, hadirnya rencana seleksi Guru PPPK itu menjadi bagian dari aspirasi yang disuarakan Pergunu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami guru-guru di seluruh pelosok tanah air. “Sebab selama ini, guru honorer Kategori 2 (K2) dan Kategori 3 (K3) belum kunjung diangkat statusnya. Formasi untuk menjadi Aparatur Sipil Negara belum juga ada,” ucapnya. Di satu sisi PPPK juga menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh para guru yang sudah lama mengabdi dan usia sudah tidak memungkinkan lagi untuk mendaftar PNS. Oleh karenanya seleksi PPPK harus memprioritaskan guru-guru honorer di berbagai daerah yang masih membutuhkan guru. Sebab, katanya, salah satu persoalan guru adalah soal distribusi, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Pewarta: Muhammad Faizin Editor: Kendi Setiawan

  • Jakarta, Pergunu Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) kembali melaksanakan diskusi melalui daring pada Jumat, (11/09). Diskusi dengan mengusung tema ‘Manejemen Bank Sampah di Madrasah’ menghadirkan pembicara kepala madrasah MTsN 35 Jakarta, Aris Adi Leksono. Dalam diskusi melalui daring, Aris menjelaskan strategi manajemen pengelolaan sampah di MTsN 34 Jakarta tempat mengajar sebelumnya. Menurutnya, berawal dari visi ‘Madrasah Ramah Anak’ Aris mencoba mewujudkan visi tersebut dengan pengelolaan sampah di madrasah. “Visi ramah anak diturunkan menjadi salah satu program manejemen bank sampah. Maka perlu program yang dapat menunjang untuk mewujudkan itu. Sehingga akan tercipta kebersihan, keindahan dan kenyamanan di madrasah,” ungkap Aris saat menyampaikan materi diskusi melalui aplikasi zoom meeting. Aris menjelaskan berdasarkan pengalamannya di MTsN 34 Jakarta, bahwa untuk mewujudkan visi tersebut madrasah bekerjasama dengan LPBI NU. Mengingat lembaga tersebut melayani masyarakat di bidang lingkungan. “Hadirnya LPBI NU sangat membantu sekali melayani masyarakat di bidang lingkungan. Sehingga NU tidak dikenal disibukkan pada isu-isu keagamaan saja tetapi juga memperhatikan isu-isu lingkungan. Pada akhirnya pengabdian NU untuk bangsa dapat dirasakan hingga gesrut paling bawah,” lanjut Aris yang juga wakil ketua PP Pergunu. Atas keberhasilannya yang telah dicapai menjalankan program manajemen bank sampah, MTsN 34 Jakarta di nobatkan sebagai madrasah ramah anak oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan penghargaan dari gubernur DKI Jakarta. “Kepedulian dan teladan terhadap peserta didik yang diberikan oleh guru dapat dirasakan manfaatnya. Kabar baiknya salah satu siswa kami atas nama Ilham menerima penghargaan dari Gubernur DKI, bapak Anis, sebagai siswa penabung sampah terbanyak yaitu melalui bank sampah madrasah. Ternyata bank sampah mendapat perhatian dari pemerintah dari aspek inovasi madrasah,” ungkap Aris, Saat ini, Aris menjabat sebagai kepala madrasah MTsN 35 Jakarta. Menurutnya, dalam waktu dekat, Ia juga akan menerapkan bank sampah di madrasah yang dipimpinnya itu melalui kerjasama dengan LPBI NU. Lalu, bagaimana manajemen bank sampah di madrasah? Berikut strategi manajemen bank sampah menurut kepala madrasah MTsN35 Jakarta, Aris Adi Leksnono. Yang pertama, membentuk paradigma, olah pikir dan olah hati. Cara membentuknya harus punya visi terlebih dahulu. Seperti halnya visi yang disampaikan di atas yaitu visi Ramah Anak yang diterapkan di MTsN 34 Jakarta. Apabila tidak punya visi maka aktivitas bank sampah terkesan biasa-biasa saja. Agar visi Ramah Anak kelihatan maka harus diterjemahkan dalam bentuk kegiatan salah satunya kegiatan manajemen bank sampah itu. Kedua, yang harus dilakukan adalah sosialisasi, baik sosialisasi formal maupun non formal. Baik melalui pendekatan emosional maupun pendekatan spiritual. Pendekatan emosional dapat dilakukan ketika di kelas, saat upacara dan seterusnya. Selain itu, agama juga sangat menganjurkan tentang kebersihan, bahkan amal perbuatan juga bergantung pada kebersihan. Untuk itu kebersihan harus diterapkan dan dibiasakan dalam lingkungan. Ketiga pengorganisasian. Yaitu dengan membentuk tim untuk menjalankan kegiatan itu. Mulai dari tim dari OSIS, guru, orang tua, komite, kelurahan hingga tingkat kecamatan. Tim sangat mempengaruhi jalannya kegiatan yang sudah direncanakan. Jika hal itu tidak dilakukan maka yang ada malah ngawur jalannya, bahkan pada akhirnya tidak akan berjalan sesuai tujuan. Tim yang telah dibuat diberikan tugas sesuai porsi masing-masing. Sehingga kegiatan berjalan sesuai konsep yang telah direncanakan. Keempat dengan membiasakan. Yaitu agar dapat dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sudah membentuk menjadi budaya, namun kegiatannya seperti itu-itu saja maka secara perlahan akan terasa membosankan hingga pada akhirnya kegiatan itu akan berhenti dengan sendirinya. Untuk itu, maka harus diikuti dengan inovasi baru sehingga dapat berjalan secara konsisten. Hal itu dapat dilakukan dengan cara sosialisasi dan evaluasi secara terus-menerus sampai betul-betul membentuk paradigma dalam kehidupan sehari-hari. Ini sebagai bentuk menyatukan pikiran, menyatukan rasa, menyatukan hati dan tindakan. Apabila penyatuan sudah terbentuk hal yang baik dapat berjalan dengan mudah. Kelima yaitu komitmen. Untuk menunjang keberhasilan visi dibutuhkan komitmen SDM internal. Aktivitas pelatihan jangan sampai selesai hanya di kertas dan di bangku saja melainkan ditindaklanjuti dengan dipraktekkan. Untuk itu SDM yang ada harus komitmen, apabila belum komitmen, maka yang terjadi tidak akan terwujud visi yang telah disepakati bersama. Komitmen itu ukurannya dengan mewujudkan SDM terlibat langsung dalam pengelolaan bank sampah. Tidak hanya berkata dan intruksi saja tetapi juga memberikan teladan dalam melaksanakan. Keenam adalah profesionalitas. Yaitu memberikan penghargaan kepada peserta didik atas karya yang telah dilakukan melalui hasil dari bank sampah seperti kerajinan tangan. Hal ini akan mendukung peserta didik dalam memberikan dorongan semangat untuk terus berkarya. Sehingga peserta didik secara tidak langsung akan merasa terpanggil berlomba untuk menciptakan karya baru dengan modal bank sampah yang telah dijalankan. Demikain cara pengelolaan bank sampah menurut wakil  ketua PP Pergunu yang juga kepala madrasah MTsN 35 Jakarta, Aris Adi Leksono, yang disampaikan melaui diskusi daring diadakan oleh LPBI NU. Oleh; Erik Alga Lesmana

  • Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) DKI Jakarta terus melakukan berbagai usaha dalam menghadapi pandemi global yang melanda Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan menggelar hataman Al-Qur’an dan membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Kegiatan tersebut bertempat dikediaman Gus Luthfi pada ahad (6/9), Cililitan, Jakarta Selatan. Lutfhi Hakim Wahid yang juga ketua Pw Pergunu DKI Jakarta mengungkapkan bahwa kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk usaha nyata sebagai seorang hamba yang selalu mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Sudah semestinya pandemi yang menimpa selama ini dijadikan sebagai pelajaran agar kembali kepada sang pencipta setelah disibukan dengan urusan duniawi. “Kita sudah melakukan ikhtiar lahir batin, baik dokter, pemerintah, maupun masyarakat yang telah berupaya secara maksimal mencegah penularan. Bahkan sudah banyak dokter yang gugur karena Corona. Jangan lupa, mari kita selalu berdoa untuk mereka yang gugur maupun untuk kita sendiri setiap waktu. Agar kita semua diberikan kesehatan serta diberikan kekuatan oleh Allah SWT atas segala ujian di dunia ini, semoga Allah SWT mengabulkan segala permohonan doa kita semua. Amin,” Ujar Gus Lutfi sapaan akrabnya. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB dan digelar sesuai protokol kesehatan diikuti sejumlah pengurus Pergunu se-Dki Jakarta. Adapun harapan dari kegiatan tersebut agar secepatnya diangkat pandemi global yang menimpa selama ini. “Bakda Isya kita tawasulan dan dilanjut membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 yang di pimpin Gus Zaenal (Pergunu Jaksel) dan Khotmil Qur’an dipimpin oleh Gus Ahmad (Pergunu Jaktim) kami berharap semuanya yang hadir untuk mengikuti protokol kesehatan yaitu social distancing,” ungkap Gus Lutfi yang juga dosen Universitas Islam Assyafiiyah. Pandemi yang sekarang melanda di belahan dunia semestinya menjadi media untuk mendekatkan diri kepada sang kuasa. Manusia dituntut untuk terus melakukan usaha sesuai kemampuan agar harapan diangkatnya pandemi Covid-19 segera diangkat. Selain itu, setelah melakukan usaha dalam bentuk jasmani manusia juga dituntut agar usaha dalam bentuk rohani. Yaitu dengan bentuk pasrah kepada Allah SWT atas segala usaha yang telah dilakukan. “Kami meminta seluruh yang hadir di acara ini mari kita bersama sama menengadahkan kedua telapak tangan memohon pertolongan Allah SWT di malam Muharam,” ujarnya.

  • Mojokerto, Minggu 30 Agustus 2020. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama kembali panen kader muda melalui program beasiswa kepada putra putri terbaik seluruh Indonesia dan Luar Negeri. Setidaknya ada 470 para wisudawan wisudawati yang mendapatkan gelar baru sebagai sarjana dan magister. Mahasiswa Luar Negeri Beasiswa Pergunu berasal dari Thailand, Malaysia, Sudan, Afganistan, Kamboja, dan Filipina. Wisuda perdana dilakukan secara tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim,M.Ag saat menyampaikan pesan kepada para wisudawan dan wisudawati mengaku bangga atas prestasi yang diraih dan beliau berharap agar para wisudawan bisa terus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi karena dalam waktu dekat kita akan memberikan program beasiswa S3 lebih khusus untuk kader-kader NU dan Islam. Selain itu, Prof. Dr. Ali Ramdhani selalu Dirjen Pendis Kemenag RI menyampaikan orasi ilmiah dengan menekankan bahwa tanggung jawab akademik harus terintegrasi dengan tanggungjawab sosial, karena mereka akan terjun mengisi pembangunan di masyarakat luas. Beliau juga berpesan agar para wisudawan dan wisudawati terus mengingat perjuangan para wali mahasiswa dalam mendidik dan membimbing hingga posisi sekarang ini agar kelak menjadi pelita di negeri tercinta. Saat dikonfirmasi, Ketua PP PERGUNU, Aris Adi Leksono menyampaikan bahwa komitmen PERGUNU dalam dunia pendidikan tidak pernah surut sesuai pesan salah satu Pendiri NU dari Majalengka KH. Abdul Chalim bahwa untuk meningkatkan derajat kemanusiaan ialah dengan jalan pendidikan. Oleh sebab itu, wisuda perdana ini diharapkan menjadi momentum untuk semakin menguatkan tekad memajukan bangsa melalui pendidikan. “Niscaya akan semakin terasa kontribusinya ke pelosok negeri, melalui organisasi profesi ini kami berharap mereka para wisudawan wisudawati juga bisa mengabdi,” pungkas Aris Untuk acara di hari yang sama pada sesi kedua juga dihadiri Gubernur Jawa Timur, ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa.

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • Guru adalah orang pertama sebagai peletak pondasi masa depan bangsa dan negara. Termasuk guru ngaji tradisional yang kehadirannya di tengah masyarakat masih masih sangat dibutuhkan. Merekalah yang memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, terutama cara membaca Al-Quran.   Di antara guru yang berdedikasi dalam mengajar itu adalah Rabiatul Adawiyah. Sudah tiga tahun ini ia aktif menjadi anggota Persatuan Guru NU (Pergunu). Pertama kali ikut kegiatan Pergunu di Kota Depok, walaupun tinggalnya di wilayah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Kesehariannya Wiwi, sapaan akrabnya, menjadi guru di PAUD Al-Kautsar di Citayam.   Guru tamatan SMK Nusantara tiga tahun silam ini, mengabdikan diri mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Dengan jadwal sore hari hingga malam, Wiwi tercatat sebagai mahasiswi S1 di Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jurusan Matematika di kawasan Jakarta Selatan.   “Alhamdulillah saya bisa melanjutkan jenjang kuliah saat ini. Berkat dorongan orang tua dan para guru. Tidak banyak dari teman-teman seangkatan yang bisa melanjutkan belajar, karena keterbatasan ekonomi maupun tuntutan keluarga. Di kampung saya, biasanya tamatan SMK harus bekerja utuk membantu ekonomi keluarga,” tutur Wiwi.   Kondisi keluarga tak menyurutkan semangat Wiwi untuk terus belajar. Di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu saja keadaan ekonomi keluarganya ikut terimbas. Salah satunya adalah ayahnya terkena pemutusan hubungan kerja. Wiwi dipaksa berpikir keras, ikut membantu ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan kuliahnya.   Ia mencoba sejumlah cara. Berjualan penganan seperti cireng, pisang goreng kriuk, cilok dan bakso, yang semuanya dijajakan secara online.   Ia terbiasa bangun pukul empat  pagi untuk membeli bahan-bahan kue tersebut di pasar. Pagi hari jajanannya harus sudah siap dijajakan.   “Sekarang saya membantu keluarga dengan berbagai cara. Saya bersyukur bisa menjalaninya dengan baik. Saya tetap bisa mengajar dan menjalani perkuliahan,” ujarnya dengan nada tegar.   Selesai menyiapkan dagangan, Wiwi akan mengajar di PAUD. Lalu dilanjutkan dengan kuliah online hingga malam hari. Ia mengakui mengajar di PAUD ini menjadi tantangan tersendiri. Sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi pemasukan dari iuran bulanan orang tua murid. Semua terimbas, tapi pendidikan anak harus tetap berjalan.   “Insya Allah dengan niat tulus, saya tetap harus mengajar murid-murid. Saya percaya Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.”   Aktifitas Pergunu juga tak ia tinggalkan. Ia rajin menghadiri kegiatan rapat dan seminar online. Wiwi mengaku sangat senang bisa ikut dan menjadi anggota persatuan guru NU ini. Selain menambah relasi, ia merasa banyak mendapatkan ilmu.   Bagaimana dengan berbagai bantuan Pemerintah yang saat ini banyak beredar di media sosial?   “Sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya kan di kampung, dan belum tahu caranya,” kata Wiwi berterus terang.   Ia berharap Pergunu bisa membantunya mengakses bantuan pemerintah itu. Ia juga ingin tetap melanjutkan kuliah hingga berkesempatan untuk diwisuda. Yang pasti, mengajar sudah menjadi jiwa perjuangannya.  

  • Pendidikan di masa pandemi karena covid-19 seakan “menghentikan denyut nadi pendidikan”. Tatap muka beralih menjadi tatap maya, faktual berganti menjadi virtual, sistem pembelajaran yang dulunya mungkin hanya dilakukan oleh kalangan tertentu sekarang menjadi sesuatu yang biasa. Video conference yang dilakukan untuk kalangan terbatas sekarang sudah menjadi aktifitas keseharian guru dan siswa (google meet, zoom meeting, vidconf dan sebagainya). Terhentikah Proses Belajar Mengajar (PBM)? Ternyata tidak dan memang sejatinya tidak boleh berhenti. Banyak cara kalau mau dan banyak alasan kalau menolak. Dunia pendidikan adalah dunia pengetahuan dan penelitian. Pengetahuan didapatkan dari berbagai sumber ilmu. Pengetahuan saat ini benar-benar sangat mudah diakses sehingga seakan-akan saat ini kita tidak ada lagi yang bodoh dan sepertinya keterlaluan kalau ada yang bodoh. Berbagai media menjadi sumber pengetahuan. Tapi itu hanya sebatas pengetahuan via digital yang tentu pasti beda dengan pengetahuan karena mendapatkan informasi dari salah satu sumber ilmu yakni guru. Bicara tentang sumber ilmu, maka membaca adalah pintunya. Lagi-lagi kita diingatkan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama yang menginspirasi kalangan Arab khususnya kala itu dan menginspirasi manusia sesudahnya hingga har ini. ‘Iqra’ sebagai ‘bacalah’ mengisyaratkan dua hal, baca dengan mata sebagai panca indramu dan baca dengan hatimu apa yang ada disekitarmu. Prof. Abuddin Nata (2017) menjelaskan kosakata Iqra’ yang berarti baca, bukan hanya mengandung arti membaca huruf-huruf atau angka-angka dalam bentuk kata-kata atau kalimat sebagaimana yang dipahami, melainkan mengandung arti research (penelitian), baik penelitian eksploratif dengan mengandalkan kemampuan bahasa, pembersihan diri dengan mengandalkan intuisi yang bersih yang siap menerima ilmu dari Tuhan, penggunaan eksperimen dengan mengandalkan pancaindera, observasi dan demontrasi argumentatif  atau logika deduktif dan induktif. Hal ini sejalan dengan makna generic al-iqra, yakni mengumpulkan atau menghimpun. Hal ini sama artinya dengan research yang berarti menemukan. Membaca sesungguhnya adalah aktifitas keseharian guru dan siswa. Karenanya semangat ini akan selalu tumbuh dan berkembang pada jiwa guru dan siswa. Hanya pertanyaan berikutnya, sejauh mana frekuensi membaca buku tentang keilmuan dan membaca informasi yang selain itu kaitannya dengan PBM. Di tengah pandemi saat ini, dapat dilihat dan mungkin kita mengalami untuk anak-anak kita dirumah, kedekatan mereka dengan PBM sangat terbatas –untuk tidak mengatakan jauh sekali menurunnya-. Menjaga semangat agar ‘dekat dengan PBM’ selayaknya di sekolah adalah kekhawatiran positif. Apa kiat-kiat yang bisa kita lakukan selaku guru untuk menjaga spirit ini agar tetap terjaga bahkan bisa menemukan pengetahuan baru dalam rangka menjaga spirit literasi ini? Pertama, karena tujuannya adalah menjaga spirit literasi maka guru hendaknya tidak menekankan pada literatur yang wajib dibaca dan kaku sifatnya, (harus buku ini, harus sumber ini). Guru hanya perlu menjadi mediator dengan memberikan tema umum (silakan cari dan kaji buku tentang ‘penciptaan alam semesta’, buku dengan tema ‘sejarah kemerdekaan Indonesia’). Kedua, tugas literasi (meskipun banyak yang sudah melakukan) bisa dengan cara mengambil tema yang menjadi materi PBM (tentu mengacu ke kurikulum) yang kemudian resume buku ini nantinya akan dicetak sebagai karya siswa kelas sekian dan jurusan ini. Siswa akan terpacu jika namanya dimuat dalam buku resmi dengan penerbit dan di-ISBN-kan. Ketiga, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa dilakukan dengan menkontekskan ayat-ayat al-Quran dengan deskripsi keseharian. Misalnya gambar ini berkaitan dengan surat apa dan ayat berapa. Jadi menghubungkan gambar dengan teks ayat al-Quran. Keempat, dengan terbiasanya zoom meeting atau video conference maka media ini bisa dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan menulis singkat, atau bertahap dengan menghadirkan pembicara yang memiliki keahlian dibidangnya atau dengan curhat peserta tentang tulis-menulis. Jadi semua peserta adalah pembicara dengan waktu yang dibatasi. Tulisan di atas kiat-kiat yang bisa menjadi acuan yang dapat dikembangkan lagi lebih jauh. Intinya adalah jangan sampai spirit literasi melemah di tengah pandemi. Semoga Menginspirasi. **************** Oleh Sholihin H.Z. (Penulis & Guru MAN 2 Pontianak)

  • oleh: Erik Alga Lesmana Sekitar tahun 1980-an, keberadaan santri dapat dilihat dan dibedakan dengan mudah antara santri dengan pelajar yang lain. Misalnya untuk mengetahui santri, tubuhnya dibungkus dengan sarung, baju lengan panjang dan kopiah serta alas kaki ala kadarnya. Sebaliknya apabila terdapat pelajar yang mengenakan celana, berdasi dan bersepatu, jelas ia bukan dari kalangan santri. Pakaian yang dikenakan santri terbilang sederhana jika dibandingkan dengan pakaian ala budaya Barat. Namun, kiai Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU 1999-2014) menilai, bahwa budaya etis santri itu bukannya tidak bermakna, tetapi menujukkan nilai-nilai kesederhanaan sesuai ajaran yang diyakini. Sekaligus merupakan sikap protes terhadap kolonialis Belanda dan para simpatisannya. Pakaian yang melekat di tubuh santri bukan sebatas penutup aurot saja, melainkan memberikan perlawanan nyata terhadap penjajah. Sebetulnya pakaian santri terbilang cukup mewah jika dilihat dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Hanya saja penilaian tersebut berdasarkan kasat mata yang menjadikan ukuran penilaian, sehingga terkesan biasa-biasa saja bahkan dirasa tertinggal. Dari dulu sampai sekarang pakaian santri masih tetap sama, dengan mengenakan sarung, baju lengan panjang dan kopiah sebagai ciri khasnya. Apabila pakain yang dikenakan santri terbilang sederhana dan tertinggal, maka hampir bisa dipastikan saat ini tidak ditemukan lagi. Karena nilai kemewahan yang melekat inilah menjadikan pakaian santri tetap eksis seperti sekarang. Namun jika kita melihat kondisi hari ini malah sebaliknya, pasalnya banyak orang tampil dengan bangganya mengenakan pakaian ala santri. Kerap kali mereka memposting pakaian ala santri di medsos akun pribadinya, padahal mereka berada di luar lingkungan pesantren. Justru pakaian santri terbilang mewah, tidak ada orang tampil merasa malu atau berkecil hati. Bahkan mereka tampil dengan menunjukkan rasa bangga sebagai indentitas pribadi bahwa mereka bagian dari kalangan santri. Sejak ditetapkannya 22 Oktober sebagai hari santri Nasional, akun modsos dipenuhi dengan ucapan selamat sembari tampil dengan mengenakan pakaian ala santri. Hampir tidak ditemukan ucapan selamat mengenakan pakaian diluar kebiasaan santri di pesantren. Dalam kondisi tertentu agar dapat eksis di medsos dengan datangnya hari santri nasional, sengaja menyempatkan diri berfoto mengenakan pakaian ala santri agar tampil layaknya di pesantren. Momen ini menjadi bentuk nyata kecintaan santri terhadap budaya sendiri ditengah modernisme yang berkembang cukup pesat. Santri masih setia mengenakan pakaian kebesaran yang menjadi identitas mereka. Hal ini menujukan bahwa nilai patriotisme santri tidak diragukan lagi sejak dulu hingga sekarang. Menururt Kiai Sahal, asumsi pesantren sebagai lembaga pendidikan lebih menguat lagi karena para santri mampu menampilkan diri sebagai produk lembaga pendidikan agama. Oleh karena itu, pakaian yang dikenakan santri juga mempunyai nilai spritualitas yang tinggi. Karena mampu menampilkan diri di tengah masyarakat modal dari produk pesantren. Kebiasaan santri dan kiai saat melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan pesantren menjadikan pakaian dinilai cukup religius. Bisa jadi, pakaian santri menjadi jimat penangkal yang hebat, sehingga ketika hendak melakukan perbuatan maksiat dapat mengerem secara otomatis karena setruman religius dari pakaian. Sekali lagi, hanya karena pakaian. Untuk itulah pakaian santri dinilai cukup sakral dikarenakan dapat membangun pribadi yang justru dapat meningkatkan nilai-nilai religius. Bandingkan ketika santri mengenakan pakaian di luar kebiasaan pesantren. Melihat hal demikian rasanya tidak nampak kharisma religius dalam pribadi santri bahkan terkesan jauh dari cerminan keshalehan. Sekalipun keshalehan seseorang tidak diukur dari pakaian, namun hal itu dapat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat sebagai cerminan legitimasi agama. Sekian…

  • oleh: Erik Alga Lesmana Istilah santri identik dengan pelajar yang menempuh pendidikan agama di lingkungan pesantren dan diasuh langsung oleh seorang Kiai. Tiga elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dan selalu berkaitan, yaitu; santri, kiai dan pesantren. Pesantren merupakan tempat belajar ilmu agama yang paling relevan dari dulu hingga sekarang. Sistem pendidikan tertua di Indonesia ini tidak bisa dipungkiri keberhasilannya dalam melahirkan lulusan-lulusan yang cukup berpengaruh baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Menurut KH. Sahal Mahfudz, pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin telah menjadikan dirinya sebagai sumber referensi nilai-nilai Islam bagi masyarakat sekitarnya dan sebagai titik sentral rujukan masyarakat dalam hal legitimasi keagamaan Islam. Selain itu, para alumni pesantren menguasai seluk-beluk Islam secara utuh sebagai faqih ad-din yang memiliki kepekaan yang canggih dalam urusan sosial masyarakat. Santri bukan hanya menguasi dalam bidang ilmu keagamaan saja. Namun ia hadir di tengah masyarakat sekaligus mengamalkan nilai-nilai spiritual yang dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi setempat. Untuk itu, menurut kiai Sahal, kehadiran santri di tengah masyarakat cukup berkharisma dan berpengaruh yang pada gilirannya mampu membentuk atau mewarnai masyarakat di lingkungannya dengan menampakkan perilaku dan sikap serba religius. Para santri seperti yang digambarkan di atas dapat lebih mudah menyatu dengan masyarakat tempat tinggalnya. Kedekatannya dengan masyarakat dapat mewujudkan solidaritas yang tinggi. Pengabdian santri untuk masyarakat bukan sebatas yang berkaitan dengan nilai-nilai religius saja, melainkan soal-soal duniawi yang menjadi kebutuhan hidup. Sikap demikian yang terpancar dalam diri santri dapat dengan cepat meyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat sehingga keberadaan santri menjadi cukup bermakna. Pada akhirnya, masyarakat akan kembali ke pesantren, belajar kepada orang pesantren, dan menjadikan pesantren rujukan utama belajar agama. Keberhasilan pesantren dalam mencetak generasi bangsa menjadi kian nyata dan diakui masyarakat sebagai rujukan yang paling relevan dalam pembentukan watak dan karakter.

Agenda dan Kegiatan