Berita Terbaru

  • Jakarta, Pergunu Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) kembali melaksanakan diskusi melalui daring pada Jumat, (11/09). Diskusi dengan mengusung tema ‘Manejemen Bank Sampah di Madrasah’ menghadirkan pembicara kepala madrasah MTsN 35 Jakarta, Aris Adi Leksono. Dalam diskusi melalui daring, Aris menjelaskan strategi manajemen pengelolaan sampah di MTsN 34 Jakarta tempat mengajar sebelumnya. Menurutnya, berawal dari visi ‘Madrasah Ramah Anak’ Aris mencoba mewujudkan visi tersebut dengan pengelolaan sampah di madrasah. “Visi ramah anak diturunkan menjadi salah satu program manejemen bank sampah. Maka perlu program yang dapat menunjang untuk mewujudkan itu. Sehingga akan tercipta kebersihan, keindahan dan kenyamanan di madrasah,” ungkap Aris saat menyampaikan materi diskusi melalui aplikasi zoom meeting. Aris menjelaskan berdasarkan pengalamannya di MTsN 34 Jakarta, bahwa untuk mewujudkan visi tersebut madrasah bekerjasama dengan LPBI NU. Mengingat lembaga tersebut melayani masyarakat di bidang lingkungan. “Hadirnya LPBI NU sangat membantu sekali melayani masyarakat di bidang lingkungan. Sehingga NU tidak dikenal disibukkan pada isu-isu keagamaan saja tetapi juga memperhatikan isu-isu lingkungan. Pada akhirnya pengabdian NU untuk bangsa dapat dirasakan hingga gesrut paling bawah,” lanjut Aris yang juga wakil ketua PP Pergunu. Atas keberhasilannya yang telah dicapai menjalankan program manajemen bank sampah, MTsN 34 Jakarta di nobatkan sebagai madrasah ramah anak oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan penghargaan dari gubernur DKI Jakarta. “Kepedulian dan teladan terhadap peserta didik yang diberikan oleh guru dapat dirasakan manfaatnya. Kabar baiknya salah satu siswa kami atas nama Ilham menerima penghargaan dari Gubernur DKI, bapak Anis, sebagai siswa penabung sampah terbanyak yaitu melalui bank sampah madrasah. Ternyata bank sampah mendapat perhatian dari pemerintah dari aspek inovasi madrasah,” ungkap Aris, Saat ini, Aris menjabat sebagai kepala madrasah MTsN 35 Jakarta. Menurutnya, dalam waktu dekat, Ia juga akan menerapkan bank sampah di madrasah yang dipimpinnya itu melalui kerjasama dengan LPBI NU. Lalu, bagaimana manajemen bank sampah di madrasah? Berikut strategi manajemen bank sampah menurut kepala madrasah MTsN35 Jakarta, Aris Adi Leksnono. Yang pertama, membentuk paradigma, olah pikir dan olah hati. Cara membentuknya harus punya visi terlebih dahulu. Seperti halnya visi yang disampaikan di atas yaitu visi Ramah Anak yang diterapkan di MTsN 34 Jakarta. Apabila tidak punya visi maka aktivitas bank sampah terkesan biasa-biasa saja. Agar visi Ramah Anak kelihatan maka harus diterjemahkan dalam bentuk kegiatan salah satunya kegiatan manajemen bank sampah itu. Kedua, yang harus dilakukan adalah sosialisasi, baik sosialisasi formal maupun non formal. Baik melalui pendekatan emosional maupun pendekatan spiritual. Pendekatan emosional dapat dilakukan ketika di kelas, saat upacara dan seterusnya. Selain itu, agama juga sangat menganjurkan tentang kebersihan, bahkan amal perbuatan juga bergantung pada kebersihan. Untuk itu kebersihan harus diterapkan dan dibiasakan dalam lingkungan. Ketiga pengorganisasian. Yaitu dengan membentuk tim untuk menjalankan kegiatan itu. Mulai dari tim dari OSIS, guru, orang tua, komite, kelurahan hingga tingkat kecamatan. Tim sangat mempengaruhi jalannya kegiatan yang sudah direncanakan. Jika hal itu tidak dilakukan maka yang ada malah ngawur jalannya, bahkan pada akhirnya tidak akan berjalan sesuai tujuan. Tim yang telah dibuat diberikan tugas sesuai porsi masing-masing. Sehingga kegiatan berjalan sesuai konsep yang telah direncanakan. Keempat dengan membiasakan. Yaitu agar dapat dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sudah membentuk menjadi budaya, namun kegiatannya seperti itu-itu saja maka secara perlahan akan terasa membosankan hingga pada akhirnya kegiatan itu akan berhenti dengan sendirinya. Untuk itu, maka harus diikuti dengan inovasi baru sehingga dapat berjalan secara konsisten. Hal itu dapat dilakukan dengan cara sosialisasi dan evaluasi secara terus-menerus sampai betul-betul membentuk paradigma dalam kehidupan sehari-hari. Ini sebagai bentuk menyatukan pikiran, menyatukan rasa, menyatukan hati dan tindakan. Apabila penyatuan sudah terbentuk hal yang baik dapat berjalan dengan mudah. Kelima yaitu komitmen. Untuk menunjang keberhasilan visi dibutuhkan komitmen SDM internal. Aktivitas pelatihan jangan sampai selesai hanya di kertas dan di bangku saja melainkan ditindaklanjuti dengan dipraktekkan. Untuk itu SDM yang ada harus komitmen, apabila belum komitmen, maka yang terjadi tidak akan terwujud visi yang telah disepakati bersama. Komitmen itu ukurannya dengan mewujudkan SDM terlibat langsung dalam pengelolaan bank sampah. Tidak hanya berkata dan intruksi saja tetapi juga memberikan teladan dalam melaksanakan. Keenam adalah profesionalitas. Yaitu memberikan penghargaan kepada peserta didik atas karya yang telah dilakukan melalui hasil dari bank sampah seperti kerajinan tangan. Hal ini akan mendukung peserta didik dalam memberikan dorongan semangat untuk terus berkarya. Sehingga peserta didik secara tidak langsung akan merasa terpanggil berlomba untuk menciptakan karya baru dengan modal bank sampah yang telah dijalankan. Demikain cara pengelolaan bank sampah menurut wakil  ketua PP Pergunu yang juga kepala madrasah MTsN 35 Jakarta, Aris Adi Leksono, yang disampaikan melaui diskusi daring diadakan oleh LPBI NU. Oleh; Erik Alga Lesmana

  • Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) DKI Jakarta terus melakukan berbagai usaha dalam menghadapi pandemi global yang melanda Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan menggelar hataman Al-Qur’an dan membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Kegiatan tersebut bertempat dikediaman Gus Luthfi pada ahad (6/9), Cililitan, Jakarta Selatan. Lutfhi Hakim Wahid yang juga ketua Pw Pergunu DKI Jakarta mengungkapkan bahwa kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk usaha nyata sebagai seorang hamba yang selalu mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Sudah semestinya pandemi yang menimpa selama ini dijadikan sebagai pelajaran agar kembali kepada sang pencipta setelah disibukan dengan urusan duniawi. “Kita sudah melakukan ikhtiar lahir batin, baik dokter, pemerintah, maupun masyarakat yang telah berupaya secara maksimal mencegah penularan. Bahkan sudah banyak dokter yang gugur karena Corona. Jangan lupa, mari kita selalu berdoa untuk mereka yang gugur maupun untuk kita sendiri setiap waktu. Agar kita semua diberikan kesehatan serta diberikan kekuatan oleh Allah SWT atas segala ujian di dunia ini, semoga Allah SWT mengabulkan segala permohonan doa kita semua. Amin,” Ujar Gus Lutfi sapaan akrabnya. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB dan digelar sesuai protokol kesehatan diikuti sejumlah pengurus Pergunu se-Dki Jakarta. Adapun harapan dari kegiatan tersebut agar secepatnya diangkat pandemi global yang menimpa selama ini. “Bakda Isya kita tawasulan dan dilanjut membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 yang di pimpin Gus Zaenal (Pergunu Jaksel) dan Khotmil Qur’an dipimpin oleh Gus Ahmad (Pergunu Jaktim) kami berharap semuanya yang hadir untuk mengikuti protokol kesehatan yaitu social distancing,” ungkap Gus Lutfi yang juga dosen Universitas Islam Assyafiiyah. Pandemi yang sekarang melanda di belahan dunia semestinya menjadi media untuk mendekatkan diri kepada sang kuasa. Manusia dituntut untuk terus melakukan usaha sesuai kemampuan agar harapan diangkatnya pandemi Covid-19 segera diangkat. Selain itu, setelah melakukan usaha dalam bentuk jasmani manusia juga dituntut agar usaha dalam bentuk rohani. Yaitu dengan bentuk pasrah kepada Allah SWT atas segala usaha yang telah dilakukan. “Kami meminta seluruh yang hadir di acara ini mari kita bersama sama menengadahkan kedua telapak tangan memohon pertolongan Allah SWT di malam Muharam,” ujarnya.

  • Mojokerto, Minggu 30 Agustus 2020. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama kembali panen kader muda melalui program beasiswa kepada putra putri terbaik seluruh Indonesia dan Luar Negeri. Setidaknya ada 470 para wisudawan wisudawati yang mendapatkan gelar baru sebagai sarjana dan magister. Mahasiswa Luar Negeri Beasiswa Pergunu berasal dari Thailand, Malaysia, Sudan, Afganistan, Kamboja, dan Filipina. Wisuda perdana dilakukan secara tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim,M.Ag saat menyampaikan pesan kepada para wisudawan dan wisudawati mengaku bangga atas prestasi yang diraih dan beliau berharap agar para wisudawan bisa terus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi karena dalam waktu dekat kita akan memberikan program beasiswa S3 lebih khusus untuk kader-kader NU dan Islam. Selain itu, Prof. Dr. Ali Ramdhani selalu Dirjen Pendis Kemenag RI menyampaikan orasi ilmiah dengan menekankan bahwa tanggung jawab akademik harus terintegrasi dengan tanggungjawab sosial, karena mereka akan terjun mengisi pembangunan di masyarakat luas. Beliau juga berpesan agar para wisudawan dan wisudawati terus mengingat perjuangan para wali mahasiswa dalam mendidik dan membimbing hingga posisi sekarang ini agar kelak menjadi pelita di negeri tercinta. Saat dikonfirmasi, Ketua PP PERGUNU, Aris Adi Leksono menyampaikan bahwa komitmen PERGUNU dalam dunia pendidikan tidak pernah surut sesuai pesan salah satu Pendiri NU dari Majalengka KH. Abdul Chalim bahwa untuk meningkatkan derajat kemanusiaan ialah dengan jalan pendidikan. Oleh sebab itu, wisuda perdana ini diharapkan menjadi momentum untuk semakin menguatkan tekad memajukan bangsa melalui pendidikan. “Niscaya akan semakin terasa kontribusinya ke pelosok negeri, melalui organisasi profesi ini kami berharap mereka para wisudawan wisudawati juga bisa mengabdi,” pungkas Aris Untuk acara di hari yang sama pada sesi kedua juga dihadiri Gubernur Jawa Timur, ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa.

  • Bertempat di ruang Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, berlangsung pertemuan antara PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC PERGUNU) Kota Pontianak dan H. Kamaluddin, M. Pd (Kabid Dikmad). Pergunu Kota Pontianak yang dihadiri oleh Anggota Dewan Penasehat Pergunu Kota, H. Kartono, M. Pd. I, Ketua PC Pergunu Kota Pontianak, Sholihin H.Z., M. Pd. I dan anggota Pergunu Kota, Fery Yanto, M. Pd. I Silaturrahim tersebut dalam rangka memohon kesediaan Bapak Kabid untuk hadir sebagai salah satu narasumber dalam webinar yang diadakan oleh PC Pergunu Kota dengan tema besar “KMA 183 dan 184 tahun 2019”.Sebagai informasi juga bahwa kegiatan ini menghadirkan salah satu tim penyusun KMA 183 yakni Bapak Abdul Jalil, MA yang sehari-harinya sebagai guru MAN IC Serpong. Pembicara lainnya adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak, Drs. H. Syaripendi dan DR. Zaenuddin, MA (Ketua Dewan Penasehat PC Pergunu Kota Pontianak). Menurut Sholihin selaku Ketua PC Pergunu Kota Pontianak bahwa momen ini sangat penting dan ditunggu oleh kawan-kawan guru di Pontianak khususnya untuk mengetahui lebih jauh tentang KMA ini. “termasuk kemungkinan bagian apa yang berubah, item-item mana yang ada revisi, itulah beberapa pertanyaan yang mudah-mudahan meskipun ini pertanyaan yang mudah untuk dikaji tetapi pasti akan ada informasi baru yang akan kita peroleh, silakan peserta terbatas”, pungkas Sholihin selaku Ketua PC Pergunu Kota Pontianak yang sekaligus Guru MAN 2 Pontianak.

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • oleh: Erik Alga Lesmana Istilah santri identik dengan pelajar yang menempuh pendidikan agama di lingkungan pesantren dan diasuh langsung oleh seorang Kiai. Tiga elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dan selalu berkaitan, yaitu; santri, kiai dan pesantren. Pesantren merupakan tempat belajar ilmu agama yang paling relevan dari dulu hingga sekarang. Sistem pendidikan tertua di Indonesia ini tidak bisa dipungkiri keberhasilannya dalam melahirkan lulusan-lulusan yang cukup berpengaruh baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Menurut KH. Sahal Mahfudz, pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin telah menjadikan dirinya sebagai sumber referensi nilai-nilai Islam bagi masyarakat sekitarnya dan sebagai titik sentral rujukan masyarakat dalam hal legitimasi keagamaan Islam. Selain itu, para alumni pesantren menguasai seluk-beluk Islam secara utuh sebagai faqih ad-din yang memiliki kepekaan yang canggih dalam urusan sosial masyarakat. Santri bukan hanya menguasi dalam bidang ilmu keagamaan saja. Namun ia hadir di tengah masyarakat sekaligus mengamalkan nilai-nilai spiritual yang dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi setempat. Untuk itu, menurut kiai Sahal, kehadiran santri di tengah masyarakat cukup berkharisma dan berpengaruh yang pada gilirannya mampu membentuk atau mewarnai masyarakat di lingkungannya dengan menampakkan perilaku dan sikap serba religius. Para santri seperti yang digambarkan di atas dapat lebih mudah menyatu dengan masyarakat tempat tinggalnya. Kedekatannya dengan masyarakat dapat mewujudkan solidaritas yang tinggi. Pengabdian santri untuk masyarakat bukan sebatas yang berkaitan dengan nilai-nilai religius saja, melainkan soal-soal duniawi yang menjadi kebutuhan hidup. Sikap demikian yang terpancar dalam diri santri dapat dengan cepat meyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat sehingga keberadaan santri menjadi cukup bermakna. Pada akhirnya, masyarakat akan kembali ke pesantren, belajar kepada orang pesantren, dan menjadikan pesantren rujukan utama belajar agama. Keberhasilan pesantren dalam mencetak generasi bangsa menjadi kian nyata dan diakui masyarakat sebagai rujukan yang paling relevan dalam pembentukan watak dan karakter.

  • “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. 75 tahun sudah Indonesia merdeka namun cita-cita dari kemerdekaan itu nampaknya Semakin Jauh bahkan menjadi fatamorgana. Konstitusi menghendaki kita merdeka, namun faktanya kita masih bergantung kepada negara lain, sumber daya alam kita masih banyak yang dikelola oleh selain kita, kita masih terjajah secara ekonomi, konstitusi mengamanatkan supaya kita bersatu namun masih kerap terjadi konflik antar agama dan budaya sesama anak bangsa, kita diharuskan untuk berdaulat tapi masih banyak ditemukan kebijakan-kebijakan dan produk undang-undang yang tidak pro rakyat, bagaimana dengan adil makmur? Penegakan hukum masih sering tumpul keatas, tajam kebawah dan angka kemiskinan seakan tak bisa hangus dari bumi subur yang kaya raya ini. Apakah kita tidak punya konsep untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan? Sebenarnya banyak konsep yang bisa dipakai, namun dalam tulisan ini kita akan fokus membahas konsep grand desain yang telah disiapkan jauh hari sebelum merdeka oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal dengan konsep Hubbul Wathon (Cinta tanah air). Lalu apa hubungan antara cinta tanah air dan tujuan kemerdekaan? sebagaimana diketahui bahwa tujuan dari kemerdekaan itu ialah untuk mewujudkan masyarakat adil makmur, dan adil makmur sangat mungkin diwujudkan dengan membumikan konsep cinta tanah air. Bagaimana cara membumikannya? Setidaknya ada dua bentuk Cinta tanah air, Pertama adalah menjaga dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari kaum perongrong yang ingin merusak atau mengubah bentuk negara. Kedua adalah ikut berperan aktif dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Pertama, peran kader NU dalam menjaga dan melindungi NKRI sudah tak bisa diragukan lagi (baca sejarah : NU vs PKI, NU vs NII, DI TII, NU vs Masyumi, NU vs HTI dll). Sejak lama NU antipati terhadap PKI. Menurut Greg Fealy dan Katharine McGregor dalam “Nahdlatul Ulama and the Killing of 1965-66: Religion, Politics, and Remembrance” (dimuat jurnal Indonesia 89, April 2010), sejak didirikan pada 1926, para pemimpin NU secara konsisten menentang komunisme, mencela doktrinnya sebagai ateis, serta cita-cita mengenai kepemilikan kolektif atas kekayaan dan properti sebagai laknat menurut ajaran Islam. Selain menjadi benteng sekulerisasi, NU juga dengan konsisten menentang propaganda bentuk negara khilafah yang sampai detik ini masih santer digaungkan oleh HTI Dkk. Kedua, peran kader NU dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Meski NU memberi andil besar dalam menyeimbangkan perjalanan kapal besar bernama Indonesia, perlu kiranya NU meng-upgrade diri agar tetap mampu mengendalikan kapal besar tersebut di tengah gelombang yang kian tinggi. Sabda Rasulullah saw: Tegaknya Negara ditunjang empat pilar: Pertama bi’ilmil ulama (dengan ilmu ulama). Kedua bi-adillatil umaro (dengan keadilan para pemimpin/pejabat/pemerintah/penguasa). Ketiga bisaqoowatil aghniyaa. Peran para aghniya (orang-orang kaya)/para konglomerat yang memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Keempat, bidu’aail fuqoroo-i wal masaakiin, doanya orang-orang lemah. Hadits Rasullullah di atas menjadi Grand design dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat kokoh dipegang oleh Prof Dr KH. Asep Saefuddin Chalim MA (Ketua PP Pergunu/Putra Pendiri NU sekaligus Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah). Beliau menguraikan, Kader NU kelak diharapkan menjadi ulama atau ilmuwan yang pendapatnya menjadi rujukan kaum birokrat dalam mengendalikan sistem ketatanegaraan. selain itu, Kader NU harus menjadi pemimpin yang menakhodai kapal besar Indonesia dan tetap pada jalur cita-citanya menuju adil dan makmur . Selanjutnya, Kader NU harus menjadi konglomerat yang dermawan, merebut ruang-ruang dagang yang selama ini didominasi oleh kaum kapitalis. Menjadi harapan ketika rakyat kecil membutuhkan topangan agar tetap hidup. Jika ketiga poin yang disebutkan sebelumnya tidak sepenuhnya mampu dilakukan, minimal menjadi tenaga profesional yang berkualitas dan bertanggung jawab di ruang-ruang kehidupannya masing-masing. Kader NU yang menjadi Guru, jadilah guru yang menginspirasi. Menjadi pedagang, jadilah pedagang panutan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Yang menjadi Dokter, jadilah dokter yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Menjadi Budayawan, tetaplah mengawal kearifan-kearifan yang menjadi corak ke-bhinnekaan lewat konsep “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”. Menjadi rakyat biasa, jadilah rakyat yang senantiasa mendoakan tanah air. Selama ini, NU masih terlena dengan kuantitasnya. Sudah saatnya menggunakan kuantitas tersebut sebagai wasilah terwujudnya cita-cita Indonesia merdeka. Karena itu, dimomentum 75 tahun Indonesia, semoga NU menjadi Oase ditengah dahaga ketidakadilan dan ketidakmakmuran, menjadi penawar ditengah dominasi virus sekulerisasi dan arabisasi. Empat poin di atas diharap menjadi pilar tegaknya keadilan dan kemakmuran di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Penulis: Hendra Rizki Rangkuti, S.Sos.,M.Pd Sekretaris PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Sumatera Utara

  • Oleh: Ahmad Faqih Sekretaris PW PERGUNU Jawa Timur Setiap menjelang tahun akademik baru, di tengah masyarakat selalu muncul polemik terkait kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Apalagi di tahun ini regulasi PPDB tak hanya jalur zonasi tempat tinggal tapi juga jalur prestasi, mutasi dan afirmasi. Usia peserta didik dan latar belakang kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan kuota penerimaan. Tapi kenapa polemik PPDB selalu muncul dan berulang? Terlihat sekali betapa calon konsumen lembaga pendidikan begitu mendamba untuk bisa bersekolah di sekolah negeri. Kenapa keberadaan lembaga pendidikan swasta (sekolah dan PT) seolah menjadi kasta kedua dalam peradaban pendidikan di negeri ini? Padahal di manca negara, pada umumnya private school (sekolah/kampus swasta) lebih diminati dari pada public school (sekolah/kampus negeri). Bahkan bagi masyarakat di luar negeri, bersekolah di privet school dianggap lebih bergengsi (prestise). Fenomena PPDB seperti ini, setidaknya menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia kepada sekolah negeri relatif lebih tinggi dibanding kepada sekolah swasta. Umumnya pertimbangan utama konsumen dalam memilih lembaga pendidikan adalah faktor mutu dan biaya. Saat ini, persepsi yang tertanam dibenak mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa sekolah negeri secara mutu “lebih unggul”. Atau mereka menganggap biaya pendidikan di sekolah negeri lebih terjangkau. Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini, terdapat banyak lembaga pendidikan swasta yang mutu dan layanan pendidikannya tidak kalah dengan negeri bahkan mungkin lebih unggul. Bahkan dibanyak daerah, sekolah swasta prestasinya melampaui sekolah negeri. Pada umumnya sekolah swasta lebih menonjol pada aspek layanan pedagogis, aspek penanaman ahlaq, perkembangan kepribadian peserta didik serta pengembangan kreatifitas dan kemandirian (life skill). Beberapa diantaranya mengaplikasikan system pendidikan berbasis boarding school (asrama/pesantren). Dari segi biaya pendidikan, saat ini di berbagai penjuru tanah air, telah banyak berdiri sekolah swasta yang menawarkan layanan pendidikan bermutu dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Sebagian diantaranya juga menyediakan skema beasiswa bagi golongan ekonomi yang kurang mampu. Tapi mengapa hingga hari ini persepsi itu masih tertanam? Mengapa kesetaraan pandang itu belum terjadi. Hingga hari ini, pemerintah tidak memiliki sumberdaya dan energi yang memadai untuk memberikan layanan pendidikan dengan tanpa melibatkan civil society. Karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk “mensejajarkan derajat” sekolah swasta dengan sekolah negeri. Seyogyanya, terlebih dahulu harus dilakukan “zonasi” guru dan tenaga kependidikan” (baca redistribusi). Guru dan PTK yang berprestasi harus terlebih dahulu dipetakan dan disebar untuk memberikan “modal” yang setara antar sekolah. Sehingga kesenjangan antar sekolah bisa diminimalisir. Yang dulunya dianggap tidak favorit bisa memiliki “modal tambahan” untuk merebut trust masyarakat. Sementara guru dan PTK yang kurang qualified, segera dilakukan upgrade melalui pembinaan dan training yang intensif dan sistematis. Pada garapan ini, organisasi profesi guru penting untuk dilibatkan. Perlu juga disiapkan regulasi yang memungkinkan untuk mengeliminasi mereka yang tetap unqualified setelah menjalani proses upgrading. Mereka harus digantikan oleh SDM baru yang sebelumnya telah tersertifikasi /terjamin kualifikasinya. Hal ini menjadi krusial, mengingat lendidikan adalah layanan jasa yang menentukan masa depan generasi bangsa (manusia). Diluar faktor SDM, pemerintah juga dapat melakukan intervensi melalui upaya pemenuhan dan standarisasi sarana prasarana pendidikan di sekolah swasta. Pemerintah harus memunculkan kebijakan afirmasi dibidang ini, baik melalui regulasi maupun realokasi anggaran yang dimiliki. Pendirian sekolah baru harus terlebih dahulu memenuhi syarat minimal ketersedianan sarpras pendukung pendidikan. Sementara sekolah swasta yang terlanjur berdiri harus dipastikan memenuhi standar ketersediaan sarpras pendukung. Bisa melalui skema kerja sama antara institusi penyelenggara dengan pemerintah. Karena keterbatasan anggaran pemerintah yang tersedia, misalnya bantuan dana dari pemerintah hanya bisa diberikan bila institusi pengelola turut serta menyiapkan sekian persen dana yang dibutuhkan untuk pengadaan sarpras tersebut. Disisi lain, kebijakan zonasi dan pagu dalam PPDB, seharusnya juga diterapkan di lingkup madrasah negeri. Dengan cara ini berkah (baca side effect) kebijakan akan mengalir secara optimal ke sekolah/madrasah swasta. Selama ini madrasah negeri dengan “unlimited” zona dan pagu-nya lebih banyak mendapat serapan limpahan murid dari sekolah negeri. Dengan bertambahnya jumlah murid di sekolah swasta, tentu dengan sendirinya mereka akan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan peningkatan mutu dan perbaikan layanan. Yang tak kalah penting, seyogyanya private school diberikan ruang yg lebih luas utk berkreasi dalam menawarkan sajian menu (kurikulum) dan layanan pendidikan. Perlu deregulasi aturan bagi private school agar tercipta keunggulan-keunggulan genuine berbasis kearifan dan potensi lokal. Dengan keunggulan dan keunikan tersebut diharapkan private school akan mampu merebut trust dari masyarakat. Saatnya lembaga pendidikan swasta lebih gigih berjuang untuk membalik persepsi dan keadaan. Saatnya pemerintah mengambil langkah-langkah out of the box untuk mengakselerasi terwujudnya kesejajaran. Dengan begitu, kita bisa berharap akan terwujud perubahan persepsi masyarakat. Bahwa sekolah swasta tak kalah mutunya dari pada sekolah negeri. Bahwa bersekolah di lembaga pendidikan swasta justru lebih bergengsi serta membawa prestise. Wellcome to new normal pendidikan, selamat tinggal abnormal persepsi pendidikan. Bagaimana menurut anda?

  • Pendidikan Karakter di Masa Covid 19 Oleh: Dr. Romi Siswanto, M.Pd* Wabah virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19 tidak hanya memakan banyak korban jiwa, namun juga memporakporandakan semua sektor kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain lain. Semua terdampak. Upaya pemerintah untuk memutus mata rantai virus yang berasal dari Wuhan, Cina itu terus dilakukan. Salah satunya dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Beberapa daerah sudah melakukan PSBB tersebut. Akibatnya, nyaris semua akvitas  lumpuh Semua kegiatan dilakukan dari rumah/work from home (WFH).  Tagline #dirumahsaja pun kemudian menjadi sangat  populer di masa darurat pandemi covid 19. Pada sektor pendidikan, pemerintah menutup sekolah-sekolah pada semua jenjang. Semua aktivitas di sekolah dihentikan. Namun demikian kegiatan belajar harus tetap berlangsung. Guru dan siswa melakukan tatap muka secara virtual. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Mereka harus tetap semangat WFH lewat virtual learning. Harus tetap hadir di dalam kelas maya. Kenyataan ini adalah hal yang baru baik guru maupun siswa. Supaya kegiatan belajar mengajar di rumah berjalan dengan baik,  pemerintah maupun pihak swasta seperti Google Indonesia dan Microsoft bersinergi  menyediakan perangkat aplikasi yang dijadikan platform pembelajaran dalam jaringan (online ). Selain dua perusahaan raksasa itu ada juga pihak swasta seperti Quipper, Kelas Pintar, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius. Sementara pemerintah lewat Kementerian Pendikan dan Kebudayaan menyediakan portal belajar sendiri, yakni Rumah Belajar dan program belajar di TVRI. Selama ini, jauh sebelum wabah Covid 19 melanda negeri ini, kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah secara rutin dilakukan  guru maupun siswa. Hal yang jamak terjadi adalah siswa mengadopsi contoh yang baik dari gurunya lewat sikap maupun tutur kata seorang guru. Hal ini dilakukan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama 3 tahun dan sekolah Menengah Atas selama 3 tahun. Ini rutin dilakukan sejak pukul 07.00 sampai dengan pukul 17.00. Kegiatan ini secara tidak langsung adalah menanamkan pendidikan karakter kepada siswa. Siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Kegiatan kerohanian dan sosial terkontrol oleh warga sekolah (Kepala sekolah, guru dan rekan sejawat siswa). Meskipun kadang juga dijumpai hal-hal negatif terjadi di sekolah seperti perundungan  tindak kekerasan baik terhadap siswa maupun guru begitu sebaliknya. Kasus seperti ini  jarang terjadi. Jumlahnua tidak banyak (tidak mentolerir jumlah) dibanding dengan perbuatan positif yang dilakukan siswa ketika berada di sekolah. Pada masa darurat Covid 19, ada banyak  hikmahnya yang bisa dipetik orang tua. Corona membuka ingatan kita kembali bahwa rumah adalah sekolah yang pertama, orang tua adalah guru yang pertama dan utama.  Sekarang adalah saat yang sangat baik dan tepat memberikan Pendidikan Karakter bagi putra putrinya sendiri yang selama ini mereka melihat karakter baik dari gurunya. Belajar di rumah dan bekerja dari rumah membuat anak  orang tua dan anggota keluarga lainnya lebih banyak waktu bahu membahu menyelesaikan tugas sekolah, tugas rumah maupun target-target anak yang belum tercapai. Misalnya, anak kelas satu yang belum lancar membaca baca tulis baik Latin maupun Arab.  Peran orang tua sangat penting. Ia harus sabar dan telaten membimbing hingga lancar membacanya dengan durasi waktu 24 jam selama darurat Covid 19. Selama ini anak-anak hanya tersedia waktu bercengkrama dengan orang tua hanya dua jam di pagi hari. Sebab malam pun kadang sudah tidak dapat berkomunikasi dengan anak. Masa pandemi covid 19 pada bulan Ramadan ini harus kita jadikan momentum memberikan pendidikan karakter pada anak-anak kita sendiri. Saatnya meraih berkah di tengah wabah. Pertama, mulai dari sahur sudah bercengkrama di meja makan sambil memberikan cerita, kisah-kisah yang baik kepada anak. Mengajarkan etika makan baik sebelum maupun setelah makan. Kedua,  salat subuh berjamaah. Setelah itu tadarus/membaca al quran bersama. Ketiga, mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah (jika tidak ada tugas dari sekolah biasanya istirahat). Keempat, melakukan salat Dzuhur berjamaah. Kemudian bercengkrama sejenak, bercerita berbagi pengalaman bersama.  Kelima, salat Ashar berjamaah, dilanjutkan kerja bareng menyiiapkan hidangan buka puasa. Ada yang membantu ibunya di dapur. Ada jugs yang menata meja makan. Keenam, berbuka puasa bersama keluarga. Diawali membaca doa buka puasa. Kemudian minum dan makan secukupnya, lalu dilanjutkan salat  Magrib berjamaah. Selanjutnya makan bersama sambil bercengkrama menunggu waktu sholat Isya tiba.  Ketujuh, setelah Isya berjamaah dan dilanjutkan salat taraweh berjamaah di rumah. Ayah bisa menjadi imam dan atau anak yang sudah baligh dapat diajari menjadi imam. Ini prnting untuk menanamkan kemampuan dalam memimpin. Rutinitas  di atas merupakan pendidikan karakter yang dilakukan oleh orangtua secara langsung, walapun para orangtua secara formal-pedagogis tidak dibekali 5 pilar Penguatan Pendidikan Karakter;  Kemandirian, Religius, Integritas, Gotong Royong, Nasionalisme. Secara tidak langsung ada kaitan erat antara rutinitas di atas dengan 5 pilar tersebut. Misalnya, Kemandirian;  tadarus/membacara Al-Quran usai salat berjamaah, membersihakan tempat makan sendiri. Religius; melakukan salat berjamaah baik yang wajib maupun yang sunnah, membaca doa-doa seperti doa niat puasa, doa berbuka puasa dan doa mau makan. Integritas; sholat tepat pada waktunya, bertanggungjawab atas segala sesuatu yang anak kerjakan.  Gotong royong;  menyiapkan bersama menu berbuka puasa maupun sahur. Nasionalisme, orangtua menceritakan kisah para pejuang bangsa  melawan penjajah dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghormati dengan cara memperingati hari kelahiran pejuang tersebut lebih baik, seperti RA Kartini, Ki Hajar Dewantoro dan para pahlawan lainnya. Marilah para orangtua, kini saatnya menanamkan karakter di rumah bagi anak-anak kita sendiri di masa darurat kesehatan ini. Hikmah di balik wabah ini, kita sebagai orangtua dapat secara langsung memberikan penguatan pendidikan karakter putra putri kita sendiri. *Penulis adalah: ASN Kemdikbud/Pemerhati dan Praktisi Pendidikan/Ketua PP Persatuam Guru Nahdathul Ulama

Agenda dan Kegiatan