Berita Terbaru

  • Jawa Tengah, PP Pergunu Bantul (25/11/2022), Tak dapat dipungkiri era digital saat ini menuntut kompetensi guru yang mumpuni. Menyikapi program Digitalisasi Sekolah dan Madrasah, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) sebagai salah satu organisasi profesi, berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi guru dan selalu berpihak pada perjuangan pemenuhaan hak-hak guru. Pada momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2022, PW PERGUNU DIY berkolaborasi dengan PC PERGUNU Bantul menyelenggarakan Pelatihan Transformasi Digital Pembelajaran bersama REFO Indonesia. Seperti tagline yang diusung HGN 2022 “Serentak Berinovasi Wujudkan Merdeka Belajar,” kegiatan diadakan sebagai upaya membangun kepercayaan terhadap teknologi dan keahlian memasuki masa depan di era normal baru bagi guru-guru NU di Kabupaten Bantul. Berlangsung di Laboratorium Komputer MAN 3 Bantul, kegiatan pengembangan Literasi Digital ini diikuti sekitar 50-an peserta dari lintas jenjang. Pelatihan yang bertajuk “Overview Pemanfaatan Google Workspace for Education dalam Pembelajaran Bersama REFO” ini dihadiri Pengurus PW PERGUNU DIY, Fauzan Satyanegara, M.Pd.I, Mustamid, M.Pd., dan Iman Wahyudi, S.Pd.I, Ketua umum PC PERGUNU Bantul, Drs. Miftakhul Bakhri, M.Pd. beserta jajaran Pengurus dan anggota PERGUNU Bantul, serta Kepala MAN 3 Bantul, Drs. Syamsul Huda, M.Pd. Bertindak sebagai tuan rumah, Syamsul Huda dalam sambutannya menyatakan sangat mengapresiasi pelatihan semacam ini.  Dia berharap guru-guru yang tergabung dalam PERGUNU terus maju dan sukses, terutama dalam mewujudkan merdeka belajar dan mengajar. Dalam sambutannya, Sekjend PW PERGUNU DIY, Fauzan Satyanegara menyampaikan bahwa tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan penguatan kepada guru-guru NU di Kabupaten Bantul agar lebih cakap berinovasi dalam mengelola pembelajaran digital. “Harapan kami setelah diadakannya pelatihan ini, para guru menjadi cakap mengelola kelas dengan digitalisasi,” ujarnya. Dalam kesempatan ini, Chairis selaku perwakilan REFO mengatakan bahwa REFO memiliki semangat yang sama dalam melakukan upaya peningkatan kapasitas dan kualitas guru demi terciptanya pembelajaran yang lebih baik. Pada sesi overview tentang Google Workspace for Education (GWfE), seluruh peserta mendapatkan akun demo dari REFO. Lead Coach REFO, Steven Sutantro dan Coach Hidayatur Rahman hadir secara langsung melatih para guru bagaimana pemanfaatan GWfE agar merasakan perbedaannya dengan akun pribadi (@gmail.com). Lebih lanjut, coach Steven memberikan demo dan gambaran tentang kelebihan-kelebihan Google Workspace for Education, dibantu coach Hidayat dari Situbondo. Mereka berdua memandu peserta dengan sabar cara menggunakan akun GWfE dan beberapa tool yang ada. Di antaranya bagaimana mengelola dan sharing file dalam penyimpanan Google Drive, pemanfaatan presentasi menarik dengan Google Slides serta berkolaborasi dalam Google Doc. Di akhir sesi, peserta diminta mengisi daftar hadir digital sebagai persyaratan mendapatkan e-sertifikat dari REFO. Ketum PC Pergunu Bantul, Miftakhul Bakhri, dalam testimoninya mengucapkan terima kasih kepada Tim REFO yang berkenan memberikan materi overview kepada guru-guru NU di Bantul dan men-support secara penuh hingga pelatihan ini dapat digelar dengan lancar. Ia berharap jalinan kerja sama dengan REFO dapat berlanjut di kesempatan berikutnya. Hujan deras tidak menyurutkan semangat guru-guru untuk tetap hadir pada pelatihan ini. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak aktif dan antusias mengikuti hingga sesi pelatihan berakhir pada pukul 15.00. Namun mereka menyayangkan durasi pelatihan yang cukup singkat. Kendati demikian, mereka mengaku sangat puas dan senang dapat mengikuti pelatihan ini dan menginginkan durasi waktu pelatihan ditambah serta materinya diperluas lagi. Rina Harwati dari MTsN 6 Bantul yang bertindak sebagai Ketua Panitia mengungkapkan harapannya perlu diadakan pelatihan lanjutan untuk mengeksplor fitur dan tool yang ada di GWfE. “Menyenangkan dan sangat efektif model pelatihannya. Hanya, (durasi waktunya, red) kurang lama. Baru mendapatkan materi overview saja dan belum mengeksplor lebih jauh,” tuturnya. Salah seorang guru SMP Pembangunan Piyungan, Herni Asih, yang menjadi peserta berpendapat bahwa ia dan beberapa teman guru lainnya sangat senang karena mendapatkan banyak ilmu dan langsung merasakan manfaatnya. “Google workspace sangat memudahkan pekerjaan guru. Pelatihan ini sangat menyenangkan, karena langsung praktik sehingga para peserta dapat langsung paham dan juga tidak jenuh,” pungkasnya.

  • Jakarta, PP Pergunu Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP PERGUNU) menggelar Focus Grup Discussion (FGD) Evaluasi dan Penyusunan Laporan Program Pendidikan dan Pelatihan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Berbasis LMS bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekhnologi (KEMENDIKBUDRISTEKDIKTI RI) Jumat-Minggu, (11-13/11/2022) di Hotel Grand Whiz Hotel Trawas Mojokerto, Jawa Timur. Wakil Ketua Umum PP PERGUNU, Ahmad Zuhri menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru Nahdlatul Ulama yang berbasis Aplikasi Mobile dan LMS (Learning Management System) Gurumerdeka.org. Saat ini, guru harus mampu meningkatkan kopetensinya dengan memanfaatkan digital yang dapat membantu para guru dalam menyampaikan materi pelajaran. “Program ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Kedepannya kami harap para guru tetap solid. Sekaligus dapat membantu para guru di seluruh Indonesia dalam mengembangkan digital dalam membantu belajar,” ungkap Zuhri. Zuhri menjelaskan bahwa terdapat beberapa materi yang menjadi konsentrasi uatama program ini antara lain terdiri dari materi kompetensi guru, paradigma guru, dan beberapa kurikulum yang ada di Indonesia. Harapannya, lanjut Zuhri, bahwa guru yang menguasi digital salah satunya harus disesuaikan dengan kurikulum maupun karakteristik pendidikan di Indonesia. “Pergunu juga memiliki dua grand desain program untuk penguatan organisasi, yakni Guru Pemersatu Bangsa dan Teacherpreneur. Dua grand desain program itu dimaksudkan agar para guru mampu bersaing dan siap melahirkan generasi yang unggul serta mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya. Kegiatan semacam ini perlu ditingkatkan dan didukung penuh oleh seluruh guru. Menurut Zuhri, kegiatan semacam ini sangat membantu para guru dalam menghadapi tantangan seperti intoleransi yang harus disikapi oleh para guru. “Perlu diaplikasikan secara massif. Guru Pemersatu Bangsa untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi. Pergunu merupakan wadah yang dapat melahirkan para guru dengan kulitas dan sikap yang penuh kedamaian,” Zuhri menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan akan terus dikembangkan sampai para guru di seluruh Indonesia mendapatkan pelatihan yang sama. Untuk itu, Ia berharap para guru yang sudah tergabung dan mendapatkan pelatihan agar dapat memanfaatkan sebaik mungkin. Sekaligus dapat membuka pelatihan kepada guru yang belum mendapatkan pelatihan. Kontributor : Erik Alga Lesmana

  • Jakarta, PP PERGUNU Program Organisasi Penggerak Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu)-Kemendikbudristekdikti melaksanakan kegiatan Final Tes (Ujian Akhir) Program Pendidikan dan Pelatihan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah pada ahad, 30 Oktober 2022 di Hotel Trend Central, Jl. Pramuka, Natuna. Sebanyak 44 orang peserta mengikuti kegiatan. Dipilihnya Natuna sebagai salah satu lokasi pelatihan tentunya bukan tanpa alasan, saat ini Natuna diharapkan menjadi daerah pemersatu bangsa Indonesia yang maju serta inovatif sehingga pihak Kemendikbud sangat antusias dan menyambut baik program POP Pergunu melalui LMS Gurumerdeka.org ini. Menurut Zuhri selaku penanggung Jawab program menyampaikan bahwa Memajukan Indonesia dari Natuna, pertimbangan kami dan Kemendikbud Natuna merupakan wajah Indonesia dari 3T, bukan lagi Teluar, Terdepan dan Tertinggal tapi Termaju. Dari sini kita bisa melihat wajah Indonesia, harapan kami program ini dapat berimbas baik untuk guru-guru di Natuna khususnya. Program dari Pergunu ini harapannya juga terintegrasi dengan program Guru Penggerak di Kemendikbud, yang lolos dari program tersebut akan mendapatkan sertifikat dan sangat berguna saat penyusunan angka kredit. Selain itu Dede, selaku ketua panitia daerah juga menjelaskan bahwa PP Pergunu akan menyiapkan skema apresiasi, support penunjang pembelajaran yang terbaik melalui beasiswa S1, S2 dan S3 dan alat pembelajaran bagi peserta terbaik. Semoga peserta yang terbaik bisa kita ajak studi bandingkan ke luar negeri untuk melihat bagaimana model pembelajaran di sana.

  • Jakarta, PP PERGUNU Lamongan– Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan Final Test pendidikan dan pelatihan guru melalui Program Organisasi Penggerak (POP), di Hotel Aqiila, Jl.Raya Deket Nomor 1 Gajah Rejosari Minggu (30/10/2022). Program hasil kerjasama dengan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tekhnologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) ini diikuti oleh 70 peserta yang terdiri dari guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah di Kabupaten Lamongan. Person In Charge (PIC) dari POP Pergunu, Dr. Haidar Tantowi menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru Nahdlatul Ulama yang berbasis Aplikasi Mobile dan LMS (Learning Management System) Gurumerdeka.org. “Ini adalah kegiatan tahun kedua, berupa Final Test, kerjasama antara Pergunu dengan Kemendikbudristek, yang durasinya kurang lebih 3 tahun,” ujar Haidar, yang juga Kordinator Bidang Kerjasama PP Pergunu, Minggu (30/10/2022). Ia menambahkan, para peserta yang mengikuti program pelatihan ini harus menyelesaikan 3 kelas. “Dua atau tiga minggu ke depan akan digelar pelatihan lagi 3 kelas yang kemudian pada bulan Oktober mendatang akan dilakukan penilaian akhir. Kegiatan seperti ini juga akan dilanjut pada tahun 2023,” terangnya. Mengenai materi yang diberikan kepada para peserta, Haidar menyebut, antara lain terdiri dari materi kompetensi guru, paradigma guru, dan beberapa kurikulum yang ada di Indonesia. Selain program yang disebutkan, Haidar menjelaskan, Pergunu juga memiliki dua grand desain program untuk penguatan organisasi, yakni Guru Pemersatu Bangsa dan Teacherpreneur. Dua grand desain program itu dimaksudkan agar para guru mampu bersaing dan siap melahirkan generasi yang unggul serta mampu menjawab tantangan zaman. “Hal ini bukan sekadar teori tapi memang perlu diaplikasikan secara massif. Guru Pemersatu Bangsa untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi. Sedangkan Teacherpreneur ini dilakukan agar guru juga bisa mengelola sebuah usaha melalui SIPlah belanja24,” jelasnya. Dalam kesempatan yang sama, Fasilitator Daerah POP Pergunu Lamongan, Dr. Muhammad Asrori menuturkan, melalui kegiatan Final Test POP ini diharapkan nantinya kemampuan manajerial dan pengajaran dari para guru bisa lebih meningkat, utamanya guru yang ada di Kabupaten Lamongan. “Lamongan ini memiliki lembaga sekolah swasta terbanyak, khususnya yang di bawah naungan NU. Maka dengan semakin meningkatnya kemampuan guru ini, maka juga bisa mengungkit kualitas pendidikan secara umum,” kata Asrori. Asrori menegaskan, kegiatan ini tak akan berakhir sampai di sini. Ke depan, pihaknya juga akan melakukan kunjungan ke sekolah secara langsung. “Semoga para peserta pelatihan ini bisa menularkan apa yang didapat kepada guru-guru lainnya,” imbuhnya. Lebih jauh Asrori juga menyoroti bahwa hingga kini kesenjangan antara lembaga atau sekolah swasta dengan sekolah negeri masih terjadi. Oleh karenanya, pihaknya berharap, kebijakan-kebijakan yang digagas oleh pemerintah nantinya bisa segera mengatasi kesenjangan tersebut. “Kesenjangan ini tidak hanya terjadi di Lamongan, namun juga hampir di tiap daerah. Kalau untuk negeri itu fasilitas dan gaji disediakan negara, sedangkan kalau swasta itu bangunan dan kesejahterannya kita fikirkan sendiri,” tandasnya. Sementara itu, Ketua PC Pergunu Lamongan, Suroto S.Ag mengungkapkan, dengan kemampuan dan kompetensi guru NU yang terus meningkat ini diharapkan ketimpangan dalam praksis pendidikan tak lagi terjadi. “Semoga realisasi pemerataan akses dan mutu pendidikan tak hanya berakhir jadi wacana saja. Karena pemerintah punya andil besar dalam mewujudkan pendidikan yang berkeadilan dan tidak diskriminatif, sehingga kebijakan yang digulirkan tidak boleh berpihak hanya pada institusi yang dikelola oleh pemerintah saja,” tegasnya. Dikatakan Suroto, lembaga swasta merupakan sekolah yang dikelola secara swadaya dan turut berkontribusi besar dalam mencerdaskan anak bangsa. Selama ini, tambah Suroto, sekolah swasta telah memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah bawah untuk mendapatkan keseteraan pendidikan. “Oleh sebab itu, dengan peningkatan kualitas dan kompetensi guru ini, tingkat kesejahteraan guru yang mengajar di sekolah swasta juga bisa meningkat. Tak elok jika sekolah swasta ini dianaktirikan atau bahkan dilupakan. Karena amanat konstitusi terkait pendidikan ditujukan kepada semua anak bangsa tanpa dikotomi negeri ataupun swasta,” pungkasnya  

Jurnal Guru Terbaru

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal http://bit.ly/jurnal-skb3menteri-mohamadfaujin

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

  • Oleh: Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd KETIKA-seorang guru memasuki ruang kelas kemudian berdiri didepan kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid tentang mata pelajaran bahasa inggris, tentunya guru berharap bahwa murid antusias dengan pelajaran yang diterangkannya. Hal ini sebagai upaya agar siswa berhasil didalam menuntut ilmu sekaligus sebagai tanggung jawab guru untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Adanya era globalisasi menuntut semua orang untuk mampu berbahasa Inggris. Sehingga bisa tercapai tujuan pendidikan, sebagaimana amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dalam Bab II, pasal 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negarayang bertanggungjawab”. Namun didalam kenyataannya, motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris masih kurang optimal. Kurangnya percaya diri, banyaknya kosa kata baru dan struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat banyak siswa yang malas atau cenderung malu untuk mengikuti pelajaran ini. Ada beberapa siswa seperti phobia terhadap pelajaran bahasa Inggris hingga kemudian ketakutan ini kemudian membuat para siswa tidak suka hingga berakibat hasil belajar siswa dibawah KKM. Oleh karena itu, motivasi berprestasi, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap prestasi belajar. Maka sangat penting bagi guru untuk bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik di sekolah sebab motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Apabila guru dapat memberikan motivasi yang baik hingga terbaik kepada para siswa, maka dalam diri siswa akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik dan sesuai, siswa (sebagai peserta didik) dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Keberadaan motivasi juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri siswa. Hingga selanjutnya, keberadaan motivasi dapat membentuk kebiasaan siswa senang (fun) belajar yang ending-nya prestasi belajarnya pun dapat meningkat. Mari motivasi para siswa kita agar mereka senantiasa senang belajar. *)Ahmad Nasikin S.Ag, S.Pd, M.Pd Korwil Pergunu Ex Karisidenan Semarang dan Staf Pengajar Pesantren Unwahas Semarang

Opini Terbaru

  • Jakarta, PP Pergunu Disertasi berjudul “Naskah Perjuangan Kyai Abdul Wahab: Edisi Teks Dan Kajian Historiografi Nahdlatul Ulama,” akan diujikan besok, 28 Juni 2022 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran. Disertasi ini ditulis oleh Muhammad Al Barra, putra Ketua Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Sastra. Penelitian ini ditujukan Barra untuk menghasilkan teks yang bersih dari kesalahan sebagai dasar pengungkapan peranan tokoh KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdul Halim dalam proses perjalanan berdirinya Nahdlatul Ulama. Disertasi ini hendak membahas tiga buah hal yang menjadi rumusan masalahnya, yaitu: Bagaimana edisi teks naskah Sejarah Perjuangan KH Abdul Wahab yang bersih dari kesalahan? Bagaimana historiografi NU dan pendirinya versi naskah Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab? Dan bagaimana peran KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdul Halim dalam pendirian NU versi naskah Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab? Obyek dan data penelitian disertasi ini berasal dari naskah cetak tua “Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab” karya KH Abdul Halim Leuwimunding Majalengka (1898-1972), seorang saksi dan pelaku sejarah berdirinya organisasi Nahdhatul Ulama. Karya ini ditulis di Leuwimunding, Majalengka pada tahun 1970 yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu berbentuk puisi berirama yang merekam dari dekat kehidupan KH Abdul Wahab Hasbullah  dan semangatnya yang membara dalam membangun kesadaran pentingnya berjam’iyyah. Naskah tersebut lalu dicetak oleh percetakan Baru di Bandung pada tahun yang sama. Peneliti yaitu Muhammad Al Barra memperoleh naskah tersebut secara turun temurun sebagai warisan keluarga. Pengarang karya ini, yaitu KH Abdul Halim yang merupakan kakeknya sendiri. KH Abdul Halim Leuwimunding sendiri merupakan tokoh pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di Surabaya (Jawa Timur). Beliau adalah satu-satunya ulama asal Tatar Sunda yang turut serta membidani proses kelahiran Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di Surabaya, dan terus aktif berkhidmah bagi Jam’iyyah tersebut hingga akhir hayatnya pada tahun 1972. Naskah ini ditulis oleh pengarangnya untuk merekam jejak sejarah NU melalui perspektif tokoh KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1970), yang disebut oleh pengarang sebagai salah satu guru utama, mentor dan inspiratornya, yang juga aktor utama dalam sejarah pendirian NU. Selain itu, ditulisnya karya ini oleh pengarangnya juga sebagai kenang-kenangan yang dapat dipersembahkan kepada khalayak ulama dan peserta Muktamar NU ke-25 yang digelar di Surabaya (Jawa Timur) pada tahun 1971, atau satu tahun setelah karya ini ditulis. Sebelumnya, muktamar NU ke-24 digelar pada tahun 1967 di kota Bandung (Jawa Barat). Naskah Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab ini merupakan naskah tunggal. Naskah diperbanyak dengan mesin cetak stensilan. Teks naskah berbentuk nadoman mengikuti pola ilmu ‘aruď. Dengan menggunakan metode edisi standar, teks yang diduga mendekati aslinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dapat dihasilkan yang akan membuka jalan bagi penelitian berikutnya. Naskah ini juga merupakan bagian dari khazanah naskah Nusantara Islami yang menjadi bukti otentik peran intelektual ulama Nusantara, terkhusus dari Sunda, dalam gerakan penyebaran agama Islam serta kesadaran berbangsa dan bernegara di tanah air kita tercinta ini. Teks Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab mempertegas kiprah besar KH Abdul Wahab yang menggagas berdirinya organisasi da’wah Nahdlatul Wathan (NW) hingga bertransformasi menjadi NU dalam percaturan politik di Indonesia pra kemerdekaan dan setelah kemerdekaan dalam pembangunan politik bernegara dan berbangsa yang setiap saat menghadapi perubahan-perubahan drastis. Lahirnya Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab dapat meminimalisasi distorsi sejarah, khususnya tentang resolusi jihad yang mengilhami perang 10 November di Surabaya yang monumental yang sedikit sekali peran ulama disinggung di dalamnya dalam buku-buku sejarah. Pewarta: Abdul Manap Sumber: https://jabar.nu.or.id/kota-bandung/akan-diujikan-besok-disertasi-naskah-perjuangan-kyai-abdul-wahab-edisi-teks-dan-kajian-historiografi-nahdlatul-ulama-NVpqP

  • Jakarta, PP Pergunu KH Abdul Halim merupakan salah seorang muassis Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir pada 3 Syawal 1304 H yang bertepatan dengan 26 Juni 1887 M di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Ia merupakan putra dari pasangan Kiai Muhammad Iskandar, salah seorang penghulu Kadewanan Jatiwangi dan Ibu bernama Muthmainnah binti Imam Syafari. Riwayat Pendidikan Sebagai putra dari salah seorang Ulama, pengawasan dalam Pendidikan seorang Kiai Abdul Halim terbilang mendapatkan pengawasan ketat. Beliau dituntut untuk bisa menyerap dasar-dasar ilmu keislaman sebagai bekal dakwahnya kelak untuk menggantikan ayahandanya. Selain Pendidikan yang didapat dari ayahnya, kiai Abdul Halim juga belajar di sekolah HIS milik Belanda, sehingga bisa dikatakan beliau juga mahir berbahasa Belanda. Pasca belajar agama di kampung halamannya, Kiai Abdul Halim melanjutkan rihlah pendidikannya ke berbagai pesantren diantaranya Pesantren Ranji Wetan di Majalengka yang diasuh oleh Kiai Anwar, Pesantren Lontong Jaya (Leuwimunding), Pesantren Bobos (Cirebon) yang diasuh oleh KH Sujak, Pesantren Ciwedus (Kuningan) yang diasuh oleh Kiai Ahmad Shobari, Pesantren Kedungwuni (Pekalongan) yang diasuh Kiai Agus. Setelah dari pesantren Kiai Agus, Kiai Abdul Halim berkeinginan untuk kembali mesantren di Ciwedus Pekalongan. Ketika menjadi santri, Kiai Abdul Halim bejualan minyak wangi, batik dan kitab-kitab agama untuk menopang biaya belajarnya. Sehingga, dari hasil jualannya tersebut beliau dalam proses mencari ilmu tidak membebani orang tuanya. Di usia yang ke 22 tahun, beliau memiliki keinginan untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya menuju Haramain yang menjadi induk kota Pendidikan Islam. Di Hijaz inilah, Kiai Abdul Halim belajar kepada berbagai ulama yang menggelar halaqahnya di Masjidil Haram. Di sana, ia mendapat ilmu melalui para guru yang diantaranya Syekh Mahfudz at-Turmusi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, dan Syekh Ahmad Khayyat. Selain belajar kepada guru yang memiliki karakteristik berfikir tradisionalis yang tetap menjaga tradisi lama tanpa harus menafikan kemajuan zaman yang tidak terelakan, ia juga berguru kepada kiai yang berfikir modernis. Hal tersebut dikarenakan pentingnya mempelajari laju pemikiran ulama-ulama modern seperti beberapa karya yang dimiliki kiai Abdul Halim yakni kitab Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Meski pola pemikiran mereka dipelajari bukan berarti harus diikuti. Beliau lebih suka mengikuti pola pikir Tradisionalis yang tidak mudahmenuding salah terhadap amalan-amalan yang sudah mengakar dan sudah diseleksi oleh pendahulunya yang telah menyebarkan agama islam di Nusantara. Tidak hanya sampai disitu, selama di Hijaz beliau juga bertemu dengan KH Wahab Hasbullah, Kiai Mas Manshur, Kiai Bisri Syansuri, dan lain-lain yang nantinya akan memiliki pengaruh besar di Nusantara. Saking akrabnya setelah berteman disana, mereka memiliki kesamaan misi dan hobi yang sama, yakni menyukai pencak silat. Kiai Abdul Halim juga menguasai Bahasa China yang dipelajari dari salah seorang China muslim yang mukim di Mekkah. Dari kelincahan Kiai Abdul Halim dalam berbahasa China, Belanda, Arab, dan Melayu maka beliau menguasai empat Bahasa yang mempermudah urusannya dalam berkomunikaqsi dengan orang asing yang tidak berbicara menggunakan Bahasa melayu. Katib Tsani PBNU 1926 Kedekatan antara Kiai abdul Halim dan Kiai Wahab Hasbullah berlanjut hingga mereka pulang ke Nusantara. Karena ada kesamaan misi yang diemban yakni memperjuangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka dengan antusiasnya Kiai Abdul Halim menyambut ide Kiai Wahab Hasbullah yang ingin mendirikan sebuah organisasi yang nantinya akan menjadi motor kelompok Islam Tradisionalis. Maka, pada tahun 1922 Kiai Wahab mengumpulkan beberapa ulama se-Jawa untuk berkumpul di kediaman Kiai Mas Alwi bin Abdul Aziz. Kiai Abdul Halim pun dating dari Jawa Barat menuju Surabaya yang ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih sebelas hari. Meski dalam pertemuan tersebut tidak langsung membuahkan hasil, akan tetapi dirinya terus berdoa agar hasil jerih payah para Kiai dibalas dengan balasan yang lebih baik. Ketika NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926, Hadratusyekh Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar NU menempatkan posisi Kiai Abdul Halim sebagai Katib Tsani atau Sekretaris kedua di struktur NU untuk mendampingi Kiai Wahab Hasbullah. Penempatan tersebut dianggap tepat sebab keduanya akrab sejak nyantri di Negeri Hijaz. Saat beliau mengemban amanah tersebut, tugas yang diberikan kepada beliau pun dikerjakan dengan penuh seksama dan keikhlasan. Beliau sering mengantar surat atau pesan yang akan disampaikan kepada para kiai NU se-Jawa dan Madura, seperti halnya surat undangan Ketika akan mengadakan sebuah acara Muktamar NU. Karya Tulis Keaktifan di berbagai organisasi termasuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dengan diamanahi sebagai anggota Dokuritsu Zyunbi Choosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bertugas untuk membuat Undang-undang Dasar, Kiai Abdul Halim juga meluangkan waktunya untuk membuat sebuah karya tulis. Menurut salah satu sumber, Kiai Abdul Halim memiliki beberapa karya tulis, namun raib Ketika ada agresi militer Belanda dan yang tersisa hanya tiga yakni Kitab Petunjuk Bagi Sekalian Manusia, Ekonomi dan Koperasi Dalam Islam, dan Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikan Ulama. Untuk karya tulis yang terakhir, merupakan sebuah karya bunga rampai, sedangkan kiai Abdul Halim menjadi ketua timnya. Kembali ke Rahmatullah Dalam berdakwah dan mengajar antar sesame menuju agama Allah, beliau selalu menggunakan metode kearifan. Jika terjadi ketidakcocokan dengan temannya dalam suatu pandangan tentang disiplin keilmuan, maka beliau akan menghindari adu mulut yang dapat mengakibatkan pertikaian. Hal itu membuat beliau disegani dan dipercayai untuk mengemban banyak amanah yang ada kaitannya dengan umat. Semua yang mengenali sosok kiai Abdul Halim merasa kehilangan saat Allah SWT memanggilnya pada 1962 M.   Muhammad Rizqy Fauzi Sumber: Muassis NU, Manaqib 26 Pendiri Nahdlatul Ulama. Sumber: https://jabar.nu.or.id/tokoh/26-juni-1887-kh-abdul-halim-leuwimunding-lahir-8OHWn

  • Oleh: Imam Syafe’i* Selama tahun 2000 sd 2003, di sela-sela melaksanakan Tugas Belajar Program Doktor di Universitas Negeri Jakarta, saya dapat kesempatan di Direktorat Madrasah Kementerian untuk menjadi Konsultan Manajemen program Kerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB). Fokus pekerjaannya ketika itu mendampingi MAN Model Samarinda, Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) MAN Model dan Madrasah Development Center (MDC) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur. Hampir setiap hari selama empat tahun berintaraksi terus dengan Kepala Madrasah, Pengawas, Guru, dan Bidang Madrasah. Tidak hanya dengan para pengelola, penggiat, dan pemerhati madrasah yang ada di Kalimantan Timur kami mendiskusikan madrasah tetapi kami juga cukup intens  bertemu dengan teman-teman dari pelbagai daerah dari seluruh tanah air. Saat itu, yang didampingi tidak hanya Madrasah Aliyah Negeri Model saja tetapi dalam waktu yang bersamaan Kementerian Agama juga sedang menangani Program Science and Technology Project-Two (STEP-2) pada sekitar 33 Madrasah Aliyah Swata di seluruh Indonesia yang mencoba mengembangkan program ketrampilan dalam pelbagai jenis. Program ini terobsesi dengan keberhasilan program STEP-1 pada dua madrasah yakni MAN IC Serpong dan Gorontalo yang diinisiasi oleh BPPPT dan kemudian diserahkan pada Kementerian Agama. Saya tidak ingin bercerita lebih lanjut tentang proyek dan program tersebut tetapi hanya ingin menceritakan sekelumit cerita inspiratif yang pernah disampaikan peserta di tengah-tengah pelatihan. Di sela-sela beristirahat pada pelatihan pengawas waktu itu, ada salah seorang dari mereka yang menceritakan pengalaman menarik di saat melaksanakan tugas kepengawasan. Anda jangan membayangkan pengawas dulu dengan sekarang. Saat itu saya sering dilibatkan mewancarai calon pengawas. Mereka berasal dari pelbagai latar belakang. Banyak diantara mereka yang belum pernah memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Makanya dulu sering disebut program NU (Nambah Umur) untuk memperpanjang pensiun. Bisa dibayangkan mereka yang tidak pernah sama sekali mengajar di kelas dan menjadi kepala sekolah tiba-tiba harus mensupervisi guru dan manajerial kepala madrasah. Tetapi lagi-lagi SK itu bisa membuat pantas segalanya. Berbeda dengan pengawas madrasah/sekolah sekarang. Pengawas sekarang merupakan karir puncak guru. Dimulai dari guru, wakil kepala, kepala, dan pengawas. Karena karir puncak, maka setiap guru ingin jadi pengawas sebagaimana Guru Besar adalah karir tertinggi seorang dosen. Guru mestinya karir tertingginya adalah Guru Besar. Kenapa guru tidak bisa menjadi Guru Besar? Karena gelar ini sudah duluan diambil dosen. Saat ini para guru yang ingin menjadi pengawas tidak bisa dengan tiba-tiba. Kalau tidak bisa berjenjang dari guru, wakil kepala, kemudian kepala, beberapa tahun terakhir ini Kementerian Agama juga memberikan kesempatan beasiswa Calon Pengawas bagi guru. Kompetensi yang diperoleh pada jenjang pendidikan Strata Dua (S2) ini dianggap sama dengan kesempatan mendapatkan amanah sebagai wakil atau kepala madrasah. Kemudian untuk memastikan kompetensinya mereka harus mengikuti Pelatihan Calon Pengawas yang dilaksanakan oleh Pusdiklat Balitbang-Diklat Kementerian Agama RI. Kembali kepada cerita yang ingin saya sampaikan terkait kisah unik seorang pengawas tempo dulu. Pengawas ini, meskipun tidak memiliki pengalaman yang memadahi tentang kepengawasan, maklum tidak pernah jadi guru, wakil kepala, kepala dan juga belum pernah mendapatkan diklat kepengawasan, akan tetapi berkat orangnya jujur, disiplin, dan selalu berprasangka dan berbuat baik dengan orang lain Beliau diangkat menjadi Pengawas. Meski orangnya baik, ternyata di lapangan tidak semua yang dihadapi baik. Ada di satu sekolah Pengawas yang baik ini menemukan guru yang tidak baik. Kebiasaan guru ini setiap masuk kelas meminta salah satu muridnya untuk maju ke depan menuliskan materi pelajaran untuk ditulis kembali oleh murid-murid lainnya. Sementara guru yang bersangkutan tidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja hingga belajaran berakhir. Guru-guru model seperti ini memang banyak di zaman ketika guru harus menyampaikan pelajaran dengan menulis di papan tulis. Tidur di depan murid seperti ini sudah menjadi kebiasaan guru ini. Meski sering diingatkan berkali-kali masih tetap dilakukan. Pada suatu hari ada Tim dari Inspektorat Jenderal yang ingin menginspeksi di sekolah tempat guru ini mengajar dan ingin melakukan Kunjungan Kelas (Visiting Class). Tidak di duga sama sekali, tim inspektorat mengajak kepala sekolah dan pengawas mengunjungi kelas yang kebetulan pas mata pelajarannya diampu oleh guru yang memiliki kebiasaan tidur di meja depan siswa-siswanya. Kejadian ini betul-betul mengagetkan ketika rombongan itjen dan pengawas memasuki pintu kelas dimana sang guru sedang tertidur. Wajah pengawas yang damping rombongan ini seketika pucat, bingung dan tidak tau harus ngomong apa dengan tim. Dia menyadari ketidak profesionalannya menjadi pengawas karena belum punya pengalaman mengajar dan menjadi kepala sekolah. Tetapi untung dia orang yang baik, selalu berprasangka baik dan tidak pernah ingin memalukan apalagi menjatuhkan orang lain termasuk kepada guru yang diawasi. Seketika itu muncul dalam batinnya niat dan strategi yang baik bagaimana jangan sampai menjatuhkan guru meskipun yang bersangkutan memiliki kebiasaan yang tidak baik. Sebelum tim itjen dan kepala sekolah mengomentari kondisi ini, pengawas yang baik ini beranjak maju cepat ke arah guru yang sedang tertidur itu dengan menggedorkan tangannya di meja  guru sambir berucap, “Kamu ini sudah dikasih tau kalau sakit-sakit dilarang mengajar kok masih tetap mengajar, istirahat saja dulu di rumah”. Suasana di kelas seketika itu berubah. Murid-murid semua kaget dan merasa aneh, yang pasti sang guru yang gelagapan karena digedor mejanya di depan tim itjen dan kepala sekolah. Susana ini menjadikan rombongan itjen menampakkan wajah yang kasihan dan salut kepada guru yang dalam keadaan sakit tetap berangkat ke sekolah dan mengajar. Perasaan simpati ini yang menjadikan rombongan tidak meneruskan visitasinya di kelas dan mereka kembali ke kantor. Sebaliknya perasaan sang guru yang gundah gulana, gelisah dan takut mendapatkan sangsi baik dari inspektorat maupun kementerian karena pas dikunjungi yang bersangkutan sedang lelap tidur. Setelah kejadian ini, beberapa hari kemudian guru ini Nampak gelisah karena ditegur terus oleh pengawas dan kepala sekolah dan diancam diberikan sangsi karena kebiasaan yang tidak baik ini. Seminggu kemudian, tepatnya hari Sabtu setelah seminggu peristiwa ini terjadi, sang guru duduk di beranda rumah dengan wajah sedih terus menyesali kebiasaannya. Makin bertambah panas dingin dan pucat wajahnya karena dari kejauhan terlihat seorang tukang pos mengontel sepedanya memasuki halaman rumahnya. Guru ini yakin dia akan mendapat surat pemecatan dari Kantor Kementerian. Tukang pos turun dan mengulurkan sebuah amplop kepada sang guru. Makin gemetar dan pucat pelan-pelan surat ini dibukanya. Dengan terus menggetarkan bibirnya seraya berdoa memohon yang terbaik kepada Allah SWT. Baris demi baris isi surat ini dibacanya hingga akhir.

  • Oleh : Heri Kuswara* Santri dan Kesenjangan Digital Santri  merupakan salah satu elemen bangsa terdepan dalam turut serta memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti banyak sejarah mengungkap tentang kisah heroik santri sebagai garda terdepan dalam berjuang untuk kemerdekaan ini. Santri yang merupakan siswa dari pondok pesantren sangat komprehensif dalam mempelajari berbagai ilmu keagamaan khususnya mempelajari kitab kuning sehingga melahirkan santri yang berilmu dan berakhlak. Namun demikian, era globalisasi yang sangat super cepat, salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya teknologi digital  berdampak pada kesenjangan yang sangat tinggi antara santri dan kemampuannya dalam memanfaatkan teknologi digital. Kesenjangan digital ini, merupakan tantangan bagi santri untuk mampu menjadikannya peluang sebagai media strategis dalam menjawab tantangan jaman. Melalui teknologi digital akan lahir generasi santri yang bukan saja cerdas dan ahli dalam ilmu agama namun cerdas dan terampil dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media strategis dalam pembelajaran dan pengamalannya. Santri sering diidentikan dengan sebutan  pelajar atau siswa disebuah pesantren yang gaptek atau kurang menguasai teknologi informasi dan komunikasi (teknologi digital). hal ini, dikarenakan model dan metode pembelajaran dipesantren terutama pesantren salaf yang terkesan masih tradisional dan menggunakan cara-cara manual. Namun demikian beberapa peneliti membuktikan bahwa dewasa ini santri sudah mulai melek teknologi, meskipun dipandang masih minoritas. Hasil dari observasi yang dilakukan oleh Mantyastuti YA (2021:3) misalnya menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya santri pada Pondok Pesantren Salaf tidak memanfaatkan teknologi informasi, hanya saja pemanfaatan teknologi informasi dibatasi, yaitu tidak diperkenankan menggunakan teknologi informasi dengan bebas ketika berada dilingkungan pondok pesantren. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (teknologi digital) belum digunakan sepenuhnya oleh  santri sebagai sarana efektif dalam mengupdate ilmu pengetahuan dan ilmu agamanya. Era globalisasi yang ditandai dengan lahirnya era Revolusi Industri 4.0, era VUCA (Volatile Uncertainty, Complexity, Ambiguity), era society 5.0, dan era disruptif (Disruptive Innovation) menjadi tantangan tersendiri bagi santri untuk merubah paradigma pembelajarannya dari yang berbasis manual, tradisional ke yang berbasis digital. perubahan paradigma ini tidak dimaksudkan untuk meninggalkan tradisi dan budaya santri dalam pembelajarannya  yang selama ini  dilestarikan sebagai identitas santri dipesantren. Santri harus tetap beridentitas lokal (local wisdom) namun wajib berdaya saing global.  perubahan paradigma kyai dan santri didalam pesantren sangat dibutuhkan agar santri sebagai generasi milenal mampu menjadi santri milenial yang dapat menjawab tantangan jaman yang serba digital. Oleh karenanya, kyai sebagai pimpinan pesantren tentu harus visioner dan bijak dalam  melihat perkembangan jaman yang serba digital ini agar santri dapat memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana efektif dalam pembelajaran dan pengamalannya. Kesenjangan digital bagi santri merupakan konsep mengenai kesenjangan digital yang dikemukakan oleh Van dijk sejauh ini menjadi konsep yang melengkapi konsep kesenjangan digital yang dikemukakan oleh beberapa penulis  mengenai kesenjangan digital yang sebelumnya. Konsep tersebut memberikan gambaran bahwa kesenjangan digital tidak hanya persoalan kesempatan akses dan kemampuan akses melainkan secara lebih luas Van Dijk menjelaskan bahwa kesenjangan digital dapat dilihat dari empat faktor, yaitu motivation, physical and material access, skills access, and usage access. (van dijk dalam Mantyastuti YA (2021:4). Keempat faktor tersebut penulis  jelaskan sebagai berikut. 1). Faktor Motivasi. faktor motivasi untuk melihat sejauhmana santri mempunyai keinginan yang kuat untuk menggunakan dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dalam pembelajarannya di pondok pesantren. Santri harus mempunyai motivasi yang kuat untuk menggunakan dan memanfaatkan teknologi digital. 2) faktor sosial dan faktor psikologis.  Faktor sosial ini harus  mengarah pada ketertarikan atau ketidaktertarikan santri memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajarannya. Kesenjangan ini muncul bisa karena santri tidak diberikan akses terhadap teknologi informasi. Sedangkan faktor psikologis adalah dorongan dari dalam diri karena kurangnya motivasi dari santri untuk memanfaatkan teknologi informasi. Faktor ini muncul lebih karena melihat dampak negatif dari teknologi digital. 3) Faktor Keterampilan akses. Faktor ini  adalah kemampuan untuk mengelola perangkat keras dan perangkat lunak. Dalam hal ini keterampilan dibedakan menjadi dua, yaitu information skills dan strategic skills. Information skills adalah keterampilan untuk mencari, memilih, dan memproses informasi dalam komputer dan jaringan. strategic skills didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan komputer dan jaringan sebagai sarana untuk tujuan tertentu dan untuk tujuan umum untuk meningkatkan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Faktor yang paling berpengaruh dalam keterampilan akses ini adalah usia dan pendidikan. Dari sisi usia santri menurut teori generasi manusia masuk kedalam generasi milenium/millenial (generasi Y), generasi Igeneration/Generasi Net/Internet (Generasi Z) dan Generasi Alpha sehingga sebenarnya Generasi inilah “penguasa” teknologi digital. Namun dari sisi pendidikan, santri yang notabene ada pada generasi pembelajar (siswa/mahasiswa) masih banyak yang tidak berpendidikan formal terutama dipesantren-pesantren salafi (tradisional). Inilah yang menjadi faktor kesenjangan santri dengan dunia digital. Selanjutnya faktor keempat yang juga berpengaruh terhadap kesenjangan santri terhadap teknologi digital adalah keguanan akses. Santri merasa bahwa teknologi digital tidak berperan signifikan pada proses pembelajaran dipesantren. Hal ini mengingat pembelajaran dipesantren khususnya dipesantren salafi hanya mengajarkan Kitab Kuning kepada santri dengan bimbingan Kyai. Proses pengajaran meliputi metode tradisional, seperti sorogan dan bandongan. Namun saat ini “Pengajaran dan pedagogik modern mulai memengaruhi metode pengajaran di pesantren ketika masyarakat mulai menuntut pengembangan metode ajar di pesantren. Beberapa pesantren mulai mengembangkan kurikulum mereka dengan memasukkan kurikulum nasional, seperti matematika, sejarah, bahasa Inggris, dan ilmu keagamaan. Banyak pesantren yang juga menawarkan kursus-kursus kejuruan untuk keahlian pertanian, reparasi kendaraan, wiraswasta, dll.” Tan dalam Azzahra NF, 2020:8) Peraturan pesantren yang membatasi bahkan melarang santrinya untuk mengakses teknologi digital selama dipesantren dan keempat faktor yang dikemukakan diatas menjadi penyebab terjadinya kesenjangan santri terhadap informasi yang up to date  yang dapat diakses dengan teknologi digital. oleh karenanya, dijama yang serba digital ini, pesantren, kyai dan santri harus mampu mengatasi kesenjangan digital ini dengan mengkolaborasikan dan mensinergikan  pola pembelajaran yang selama ini dilaksanakan dengan bantuan media digital. tentu perlu digarisbawahi kekhasan dari model pembelajaran pesantren tetap dilestarikan dan dibudayakan sebagai identitas pesantren. Tantangan dan Peluang Santri di Era Digital Pada era digital ini,   santri dihadapkan pada dua kondisi yang harus saling bersinergi, disatu sisi santri harus tetap istiqomah melestarikan dan membudayakan tradisi kekhasan pesantren sebagai identitas santri disisi lain santri dihadapkan pada tantangan perubahan jaman baik perubahan  sistem sosial maupun perkembangan teknologi  yang super cepat.  kyai yang dalam hal ini sebagai pimpinan dan pemegang kebijakan tertinggi dipesantren harus luwes, arif dan bijak melihat kebutuhan santri akan

Agenda dan Kegiatan