Berita Terbaru

  • Jakarta, PP Pergunu Oleh : Aris Adi Leksono* Merespon pengaduan masyarakat, serta pro kontra publik terkait dugaan karya sastra bermuatan kekerasan, serta dianggap tidak ramah anak, yang telah direkomendasikan masuk kurikulum, KPAI telah meminta klarifikasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud Ristek), Up. Kepala Pusat Perbukuan,  bertempat di Ruang Rapat KPAI pada Jumat, 31 Mei 2024. KPAI berpandangan bahwa sebagaimana amanah Konvensi Hak Anak, serta UU Perlindungan Anak, bahwa setiap anak berhak mendapatkan informasi yang bermanfaat dan dipahami anak. Selain itu anak juga wajib mendapatkan perlindungan pada satuan pendidikan, salah satunya dalam bentuk mendapatkan sumber belajar yang ramah; tidak mengandung unsur kekerasan fisik, psikis, seksual, intoleransi, serta diskriminasi. KPAI menegaskan bahwa dalam UU No. 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan telah diatur syarat isi buku; tidak bertentangan dengan Pancasila, tidak diskriminatif, tidak mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan ujaran kebencian. Maka buku sastra yang direkomendasikan harus memenuhi syarat isi tersebut. KPAI menjelaskan bahwa rekomendasi buku sastra masuk kurikulum harus memperhatikan prinsip dasar perlindungan anak; non diskriminasi, mementingkan kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup atau kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta penghargaan terhadap pendapat anak. Maka setiap proses kurasi, review, uji keterbacaan, serta uji publik harus melibatkan anak, sebagai pihak pengguna buku tersebut. Atas dasar telaah dan koordinasi tersebut, serta perlu kecermatan dalam proses perbaikan ke depan, maka KPA merekomendasikan tiga hal penting, sebagai berikut: Pertama, memastikan buku sastra yang direkomendasi masuk pada kurikulum tidak bermuatan sara, kekerasan fisik/psikis, pornografi, kekerasan seksual, diskriminasi, dan intoleransi. Kedua, dalam proses pemilihan buku sastra dan perbaikan buku panduan pengguna harus memperhatikan prinsip dasar perlindungan anak; non diskriminasi, mementingkan kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup atau kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta penghargaan terhadap pendapat anak. Ketiga, dalam proses pemilihan buku sastra dan perbaikan buku panduan pengguna akan melibatkan psikolog anak, agamawan, pemerhati anak, pakar pendidikan, ahli sastra, guru, serta forum anak. * Penulis merukapan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Klaster Pendidikan, Waktu Luang, Budaya dan Agama. Sekaligus Sekretaris Umum PP Pergunu.  

  • Waketum PP Pergunu Achmad Zuhri

    Jakarta, NU Online Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) menyampaikan keprihatinan mendalam atas dikeluarkannya Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sebab, panduan tersebut mengandung unsur kekerasan, baik verbal maupun fisik, serta konteks seksual yang berpotensi membahayakan. Wakil Ketua Umum PP Pergunu Achmad Zuhri menyatakan bahwa isi dari panduan tersebut belum mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang menjunjung tinggi etika yang positif. Untuk itu, perlu perbaikan terlebih dahulu karena belum mencerminkan tujuan pendidikan sebagai fondasi masa depan bangsa. https://nu.or.id/nasional/ada-unsur-kekerasan-seksual-pergunu-minta-kemdikbudristek-perbaiki-panduan-buku-sastra-9oYde

  • Jakarta, PP Pergunu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bekerjasama dengan organisasi profesi guru Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) menyelenggarakan Seminar Nasional dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional secara daring pada Kamis (02/05/2024). Seminar ini membahas topik “mewujudkan keseimbangan layanan pendidikan dan perlindungan anak pada satuan pendidikan”. Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menjelaskan bahwa latar belakang topik ini dibahas diantaranya karena semakin tingginya angka kekerasan anak pada satuan pendidikan. Data pengaduan KPAI menunjukkan kekerasan yang terjadi pada satuan pendidikan menempati posisi kedua setelah data kekerasan yang terjadi pada lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. “Ironis, pendidikan diharapkan mampu menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan generasi emas di masa yang akan datang, tapi justru lingkungan pendidikan diwarnai kekerasan oleh oknum tertentu,” ujar Aris yang juga Sekretaris Umum PP Pergunu itu. Lebih lanjut, Aris mengungkapkan bahwa data KPAI menunjukkan jenis kekerasan yang sering terjadi pada satuan pendidikan adalah; kekerasan seksual, kekerasan fisik/psikis (bullying/perundangan), intoleransi, serta kebijakan yang berdampak terabaikan pemenuhan hak pendidikan bagi anak. Faktor penyebab kekerasan itu terjadi pada lingkungan satuan pendidikan, diantaranya masih belum maksimal perhatian pemerintah daerah dan satuan pendidikan terkait upaya pencegahan dan penanganan kekerasan pada satuan pendidikan; masih banyak Pemda dan satuan pendidikan tidak menindaklanjuti implementasi Permendikbud 46 tahun 2023 secara serius. “Selain itu, tumbuh kembang anak dihadapkan pada tantangan negatif media sosial, serta lingkungan sosial yang kurang peduli terhadap perlindungan anak. Pada faktor lain nilai ethik untuk penguatan pendidikan karakter yang ter-insert dalam kurikulum dan pembelajaran tidak dapat tertanam secara maksimal, akibatnya anak terlambat menemukan ‘konsep diri’ secara filter prilaku baik atau buruk dalam keseharian,” ungkap Aris. Menurutnya, maka mutlak untuk mewujudkan harapan pendidikan sebagai instrumen dasar dalam pembentukan konsep diri, karakter, dan akhlak mulia anak, serta transfer pengetahuan dan keterampilan, diperlukan perubahan paradigma dalam bentuk memperkuat layanan pendidikan dengan layanan perlindungan anak pada satuan pendidikan. Seminar tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi diantaranya: Mengoptimalkan Gerakan Literasi Perlidungan Anak; Sosialisasi, pembinaan, dan edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan pada satuan pendidikan hingga menyentuh lingkungan tri pusat pendidikan. Pemerintah Daerah dan Satuan Pendidikan secara masif memberikan pelatihan kepada Satgas dan Tim PPKSP terkait Konvensi Hak Anak, Satuan Pendidikan Ramah Anak, Disiplin Positif, kompetensi dasar konseling anak, kesehatan mental, serta bentuk program lain yang berdampak pada upgrading skill SDM yang terlibat pencegahan dan penanganan kekerasan pada satuan pendidikan. Guru BK pada satuan pendidikan harus porporsional, dan atau setiap guru diberikan penguatan keterampilan dasar psikologi dan konseling Kementerian dan lembaga, serta pemerintah daerah menyediakan dukungan anggaran untuk mengoptimalkan kinerja perlindungan anak pada satuan pendidikan Bersama secara intensif melakukan pengawasan dan evaluasi berkala Hadir dalam seminar ini sebagai narasumber; Prof. Dr. Warsito (Deputi VI Bidang Peningkatan Mutu Pendidikan dan Moderasi Agama Kemenko PMK), Dr. Aris Adi Leksono (Komisioner KPAI), dan Hena Rustiana, S.Psi, CFP (Ketua Himpunan Psikolog Kesehatan Mental Indonesia). kegiatan ini dihadiri lebih dari 500 guru seluruh indonesia.  

  • Jakarta, PP Pergunu Berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting Kegiatan Halal bi Halal dan Sosialisasi Beasiswa Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) tahun 2024 di Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto pada Jumat (10/05/2024). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang se-Indonesia. HM. Faojin selaku moderator membuka kegiatan dan membacakan susunan acaranya dengan apik dan runtut, sehingga semua peserta sudah bersiap dan fokus untuk mengikuti acara dengan seksama. Dengan ciri khas dari Pergunu yaitu adanya pembacaan Tahlil singkat dengan dipimpin oleh Ahmad Faqih, berlangsung dengan khusyuk dan khidmat. Mewakili Sambutan dari Katua Umum PP.Pergunu, Aris Adi Leksono selaku Sekretaris Umum PP. Pergunu menyampaikan rasa syukur bisa bertemu dengan semua pengurus dari berbagai tingkatan meskipun secara daring. Aris berharap akan direncanakan pertemuan secara luring. “Alhamdulillah bisa bertemu secara daring dan harapan kami akan bisa bertemu secara luring. Salam dari Ketua Umum KH Asep Saifuddin Chalim di momen halal bi halal ini, atas nama PP. Pergunu mengucapkan mohon maaf lahir batin, minal aizdin walfaizdin kullu amin wa antum bi khoir. Semoga diterima puasa kita, ibadah kita, diberikan panjang umur dan ditakdirkan berjumpa pada ramadhan yg akan datang dan kita ditakdirkan berjumpa dengan lailatur qadar di setiap bulan ramadhan. Serta dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Untuk itu dengan permohonan maaf ini semoga ke depan menjadi penyemangat untuk membangun organisasi ini menjadi lebih baik, tidak hanya untuk NU tapi untuk Islam Rahmatan Lil a’lamin”, ujar Aris. “Terima kasih kepada pengurus PC dan PW yang sudah aktif membuat kegiatan, kaderisasi membuat PKGNU, PPGNU sudah terlaksana. Tim SDM hebat yang dipimpin Bapak Faojin, tidak henti-hentinya mengadakan kegiatan Peningkatan SDM baik guru, KS, Asesor, Pengawas hingga merespon isu-isu terkait bagaimana memajukan pendidikan di Indonesia dan alhamdulillah hampir setiap bulan kegiatannya. Di momen halal bi halal ini sekaligus akan disampaikan Sosialisasi Beasiswa dari Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto. Semoga seleksi di tingkat PW bisa dilaksanakan secara selektif dan sesuai harapan dari Ketum Pergunu “, pungkasnya. Selanjutnya sambutan dari Rektor Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto, Mauhibur Rokhman menyampaikan bahwa universitas mempunyai kewajiban untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pergunu yang berkenan mempercayai sebagai salah satu kampus yang mengelola beasiswa dari Pergunu. Menurutnya, kampus tersebut dari awal dibentuk bisa menjadi seperti Al-Azhar. Dari sisi lulusannya memunyai kemampuan penguasaan agama yang baik dan dari sisi keilmuan paling tidak bisa berkembang secara akademik. “Namun ada hal yang berbeda  di kampus ini, ada kewajiban sholat malam, kewajiban sholat berjamaah, mengaji dan lain sebagianya, Jadi mahasiswa yang terpilih harus memiliki pemahaman yang utuh tentang itu. Terakhir, terima kasih atas segenap bantuan, dedikasi pengurus PC dan PW Pergunu se-Indonesia. Mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam mengemban amanah ini. Semoga dengan kekurangan ini bisa membuat kami menjadi tumbuh lebih besar dan menjadi lebih baik lagi”, pungkasnya. Lebih lanjut, terkait dengan penjelasan teknis beasiswa Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto, Dr Affan Hasnan menyampaikan ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran pengurus Pergunu dari berbagai tingkatan yang telah mengirimkan para mahasiswa ke kampus tersebut. Sehingga banyak lulusannya bisa membantu mengabdi bahkan sudah menjadi guru, pendamping di banyak lini lembaga pendidikan, dan bahkan menjadi dosen. “Terkait teknis Beasiswa tahun 2024 perlu saya sampaikan beberapa hal penting yaitu Beasiswa PP Pergunu tidak boleh dicampuradukkan dengan beasiswa lain atas nama Pergunu. Semua beasiswa untuk mahasiswa rekomendasi dari Pergunu harus tinggal di Asrama. Perkuliahan dilaksanakan secara langsung dan berada di kampus baik tingkatan S1, S2, dan S3. Bagi mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa melalui Pergunu dan akan di wisuda di tahun 2024 ini, akan ada pengabdian dulu selama 1 tahun. Wajib mengikuti tes akademik universitas dan dinyatakan lulus (Pengetahuan Umum dan Agama) dan tidak terindikasi pelanggaran berat,” tegas Affan. oleh : Rahmat Sarjito/Faojin

Jurnal Guru Terbaru

  • Jakarta, PP Pergunu Oleh : Muhammad Imam Styawan* ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kemampuan membaca peserta didik, (2) Peran guru dan orang tua pada minat belajar dalam kemampuan membaca peserta didik, (3) Faktor pendukung dan penghambat guru dan orang tua pada minat belajar dalam kemampuan membaca peserta didik. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode atau pendekatan studi kasus Berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) Kemampuan membaca peserta didik tergantung dari kemauan peserta didik untuk belajar membaca. Hal ini disebabkan karena adanya faktor orang tua, keluarga dan kesadaran siswa masih rendah dalam belajar membaca. (2) Peran guru pada minat belajar dalam kemampuan membaca siswa yaitu yaitu guru sebagai organisator, guru sebagai fasilitator, guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing dan guru sebagai motivator. Kata Kunci: Peran Orang Tua dan Guru, Minat Belajar, Kemampuan Membaca. A. PENDAHULUAN Menurut Rulam Ahmadi (2014:38) bahwa pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusia dengan lingkungannya yang berlangsung secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan segala potensinya, baik jasmani (kesehatan fisik) dan ruhani (pikir, rasa, karsa, cipta, dan budi nurani) yang menimbulkan perubahan positif dan kemajuan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang berlangsung secara terus-menerus guna mencapai tujuan hidupnya. Pendidikan sebagai wahana pembudayaan harus mampu melahirkan insan berbudaya dan beradab, yang dapat mengembangkan kecerdasan pikiran (olah pikir), kreativitas karsa (olah karsa), dan ketangkasan olahraga (olah raga). Dengan kata lain, pendidikan sebagai proses pertumbuhan kapabilitas berbudaya dan beradab itu adalah pendidikan budi pekerti atau pendidikan berkebudayaan. Lewat proses pendidikan yang berkebudayaan, anak-anak sebagai benih harapan itu bisa tumbuh menjadi pohon yang sehat, dengan akar yang menghunjam dalam, batang pohonnya tinggi menjulang, cabang dan rantingnya terjurai rapi, daun yang rindang, dan buah yang lebat-bernas. Akar yang kuat adalah karakter yang tangguh; batang yang tinggi menjulang adalah wawasan pengetahuan yang luas; cabang dan rantingnya adalah kompetensi dan kreativitas tata kelola; daun yang rindang adalah kemampuan kerja sama semangat bhinneka tunggal ika; sedang buah yang lebat-bernas adalah kreativitas yang bermanfaat bagi diri dan sesama (Yudi Latif, 2020: 27). Pendidikan sebagai basis utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Peserta didik harus memiliki karakter yang baik dan jiwa yang sehat. Yang diibaratkan sebagai pohon yang memiliki akar yang kuat; batang yang tinggi menjulang; cabang dan ranting; daun yang rindang; serta buah yang lebat. Sehingga mampu menjawab tantangan zaman yang semankin canggih dan berkembang. Perhatian utama dalam pendidikan mengarah pada peserta didik. Peserta didik merupakan anak didik yang butuh bimbingan dan arahan seorang guru. Keberhasilan peserta didik adalah harapan guru. Untuk dapat melaksanakan secara baik guru harus memahami peserta didik seutuhnya agar guru dapat memberikan layanan secara profesional kepada peserta didik. Sebagaimana dijelaskan dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2016 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah “Setiap lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah memiliki kompetensi pada tiga dimensi yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Adapun dimensi keterampilan dalam hal ini khususnya pada jenjang pendidikan dasar sebagai berikut: 1) kreatif; 2) produktif; 3) kritis; 4) mandiri; 5) kolaboratif; 6) komunikatif. Proses kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan baik serta tercapai tujuan pembelajaran apabila ada peran orang tua dan guru. Hal ini dharapkan dapat berdampak meningkatkan minat belajar dan kemampuan membaca peserta didik. Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik agar memahami dan mengetahui materi yang dipelajari. Hasil penelitian The United Nation Educational, Scientific And Cultural Organization (UNESCO) minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan hanya 0,001 %. Sedangkan menurut Program For International Student Assessment (PISA), Indonesia menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki tingkat literasi rendah di tahum 2019, peringkat ke 62 dari 70 negara. Dalam hal ini perlu meningkatkan kemampuan membaca terutama pada jenjang sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah karena berpengaruh terhadap hasil belajar serta sangat penting bagi kehidupan selanjutnya. Untuk itu diperlukan peran guru dalam kemampuan membaca serta motivasi dari orang tua. Keluarga adalah madrasah pertama anak. Peranan orang tua begitu sangat penting. Anak perlu dibekali dan diberikan dorongan oleh orang tua agar memiliki prinsip hidup. Tanggung jawab orang tua mendidik dan membina anaknya, suapaya anak dapat mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan zaman serta memiliki kualitas hidup yang baik. Sedangkan tugas guru di sekolah berpengaruh terhadap minat belajar anak. Sehingga guru juga berperan memotivasi peserta didik dan memberikan perhatian lebih bagi peserta didik yang belum aktif di kelas. Berdasarkan asumsi di atas, peneliti tertarik meneliti lebih lanjut tentang peran orang tua dan guru dalam kemampuan membaca peserta didik. Selanjutnya mengangkat dalam sebuah penelitian dengan judul “Peran Orang Tua dan Guru Pada Minat Belajar Dalam Kemampuan Membaca di MI Nurul Mutaallimin”. Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi fokus penelitian yaitu: peserta didik kelas VI, orang tua peserta didik kelas VI, beserta guru wali kelas VI. Jumlah peserta didik kelas VI adalah 13 peserta didik. Kemudian peneliti hanya mengambil 3 peserta didik yang menjadi sampel penelitian, di mana terdapat 3 peserta didik yang belum lancar dalam membaca. B. KAJIAN TEORI Peran Orang Tua Lembaga yang paling penting dalam membentuk kepribadian anak adalah keluarga. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa esensi pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sedangkan sekolah hanya berpartisipasi (M. Sochib, 2000). Orang tua memiliki peran paling besar untuk mempengaruhi anak pada saat anak peka terhadap pengaruh luar, serta mengajarnya selaras dengan temponya sendiri. Orang tua adalah sosok paling mengenal kapan dan bagaimana anak belajar sebaik-baiknya (Dwi Sunar, 2007). Orang tua terdiri dari ibu dan ayah. Yang mengandung dan membesarkan serta mempunyai tanggung jawab besar untuk membimbing dan mengasuh anaknya yang memiliki tanggung jawab masing-masing dengan cara memberikan contoh dan sikap yang baik. Rosyi Datus Saadah mengungkapkan bahwa orang tua adalah salah satu institusi terkecil yang terdiri dari ayah dan ibu di dalam rumah tangganya yang terjalin hubungan interaksi antar sesama yang sangat erat (Ahmadi Farid, 2021: 65). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua atau keluarga merupakan lingkup terkecil di dalam suatu masyarakat yang terdiri dari ayah dan ibu yang memiliki tanggung jawab untuk mengasuh dan membimbing anaknya. Minat Belajar Minat merupakan motivasi dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif yang dipilihnya suatu obyek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan dan lama-kelamaan akan

  • MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI IMPLEMENTASI  KONSEP SEKOLAH DENGAN KEUNGGULAN SCIENCE DAN RISET (Studi Kasus Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar)     Oleh : AHMAD FAQIH, SP. Pendidik di Sekolah IT Misykat Al-Anwar Jombang Jawa Timur   PENDAHULUAN Salah satu tuntutan hidup di zaman globalisasi adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kepemilikan wawasan yang luas. Untuk menuju ke arah itu, dibutuhkan tradisi literasi yang kuat. Secara ringkas, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Bagi mayoritas masyarakat indonesia, kebiasaan membaca dan menulis belum begitu tertanam dalam kesehariannya. Berdasarkan publikasi hasil penghitungan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) tentang Indeks Alibaca.  Diketahui bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50. Hasil penelitian PISA tahun 2018 yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, menyebutkan bahwa  Indonesia berada pada peringkat 10 besar terbawah (baca : 69 terbawah) dari 79 negara, yang diperoleh dari kemampuan literasi membaca dengan nilai 371, kemampuan matematika sebesar  nilai 379, sedangkan kemampuan sains  dengan nilai 396. Selaras dengan itu, hasil TIMSS tahun 2015, yang dipublikasikan tahun 2016 memperlihatkan prestasi siswa   Indonesia di bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. Dasar pengukuran TIMSS bidang matematika dan sains sendiri terdiri dari dua domain, yaitu domain isi dan kognitif. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tentang indikator sosial budaya diketahui bahwa hanya  17.66 %  penduduk indonesia yang berumur 10 tahun keatas  yang mengaku pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah. Angka ini sangat kecil bila dibanding kan dengan jumlah penduduk yang meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi, yaitu sebanyak 91.68 %  atau yang meluangkan waktu untuk mendengarkan radio (18.57 %). Menyadari akan hal itu, maka sejak tahun 2015 di gelorakan gerakan literasi berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimana salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)”. Makalah ini mencoba menguraikan salah satu best practice upaya penumbuhan budaya literasi di sekolah melalui implementasi konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset berdasarkan Pengalaman Sekolah Islam Terpadu Misykat Al-Anwar.   PEMBAHASAN Definisi budaya literasi Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).  Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi dalam Koentjaraningrat (1986) menuliskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada sisi lain kebudayaan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran dan kehidupan manusia. Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Trini Haryanti (2014), mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa budaya literasi adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan aktifitas berupa kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Ada banyak cara untuk menumbuhkan budaya literasi. Secara umum adalah melalui penyediakan fasilitas baca tulis seperti buku bacaan, internet dll. Mempermudah akses untuk memperoleh bahan bacaan dan tulisan melalui ketersediaan perpustakaan gratis yang  lokasinya terjangkau serta murahnya harga-harga buku dan bahan bacaan yang bermutu. Hal lain yang juga penting adalah penciptaan lingkungan yang mendukung dan nyaman untuk beraktifitas baca dan menulis. Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi lahan subur untuk penyemaian budaya literasi. Di sekolah seharusnya tersedia fasilitas perpustakaan yang dapat diakses siswa secara gratis. Perpustakaan sekolah sepatutnya memiliki koleksi buku dan bahan bacaan lainnya yang bermutu dan mampu menggugah selera baca warga sekolah. Sekolah seharusnya hadir sebagai lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk menjadikan siswa tergerak untuk membaca dan menulis sebagai wujud kanalisasi “dahaga ilmiah” mereka.  Diantara ikhtiar yang dapat dipilih untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung budaya literasi adalah melalui konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset. Konsep sekolah dengan keunggulan science dan riset dan budaya literasi Berdasarkan tolak ukur kuantitatif, pembangunan pendidikan di Indonesia telah mampu mewujudkan penambahan jumlah sekolah, mendorong meningkatnya akses bersekolah serta meningkatkan angka partisipasi belajar pada semua level pendididikan. Namun, bila ditinjau secara kualitatif, mutu pendidikan di Indonesia  masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD, seperti AS, Jepang, Jerman bahkan Singapura. Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) adalah sebuah organisasi tingkat negara-negara yang beranggotakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa. Salah satu faktor penunjang rendahnya mutu pendidikan adalah kurang dikembangkannya keterampilan berpikir dan ketrampilan proses sains di dalam kelas. Keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jika keterampilan berpikir tersebut tidak dilatih terus menerus dalam kegiatan belajar dapat dipastikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan akan sangat minimal dan kurang berkualitas. Keterampilan proses sains melatih siswa dalam proses berpikir dan membentuk manusia yang mempunyai sikap ilmiah. Sekolah sesuai dengan fungsi asalnya adalah lembaga untuk mendidik dan mentrasfer ilmu, budaya, seni dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kearifan kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar dan pembimbingan di lingkungan sekolah. Guna memperkuat fungsi tersebut, sekolah perlu senantiasa mengembangkan diri dengan memperhatikan aspek kebendaan, manusia, dan perkembangan lingkungan sekelilingnya. Aspek kebendaan meliputi sarana/fasilitas sekolah dan kondisi keuangan sekolah; aspek manusia meliputi kemampuan guru dan pengelola sekolah, input siswa, dan kondisi/kemampuan orang tua dan masyarakat; aspek lingkungan meliputi kondisi daerah, karakter lokal, dan kebutuhan masyarakat. Pada kisaran periode tahun 1980-an di beberapa negara maju muncul istilah Sekolah Berbasis Riset (SBR). Pada intinya, konsep ini memiliki sebuah target tersembunyi yaitu membangun semangat dan budaya meneliti di kalangan guru. Konsep SBR bermula dari dua komponen utama yaitu, guru dan kegiatan riset. Konsep SBR memposisikan guru dan pimpinan sekolah sebagai lokomotif utama penelitian. Pada umumnya tema penelitian yang dikembangkan dalam konsep ini adalah hal-hal

  • SKB 3 Menteri Tahun 1975: Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas Pada Pendidikan Madrasah Mohamad Faojin Mahasiswa Program Doktor Universitas Wahid Hasyim Semarang  Abstract This paper confirms that the politics of national education has a strong influence on the development of madrasah in Indonesia. Even marginalized by the political madrassa education in Indonesia who are concerned and care about the school system. As a result, the alumni madrasah are not allowed to compete with school graduate or equivalent. Attempts to obtain state recognition done by the madrasah. Extitantion of Madrasah was slightly gained recognition with the publication of the Joint Decree (SKB) Three Ministers in 1975. The government’s political orientation in 1980 until the 1990s that is more accommodating to Muslims make significant changes to the current madrasah trip. The climax, the school became part of the educational system after the enactment of the National Education System Law No. 20 in 2003. Implication of the true struggle madrasah to be part of the national education system is not free. There is a cost to be paid by the madrasah for recognition. Knowingly or not, almost like the madrasah school curriculum even more such as school. Madrasah has lost the spirit. Islamic sciences trimmed, on the pretext of simplification, for recognition. So, it is too early to conclude that the struggle madrasah was over. Effectivition of Madrasah should be part of the national education system, but do not lose the spirit and erode the values and teachings of his religion, but the national education has a value and spiritual. Keywords: SKB 3 Menteri 1975, Extitantion, Implication, efetivitation, Madrasah School. Abstrak Tulisan ini menegaskan bahwa politik pendidikan nasional memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan madrasah di Indonesia. Bahkan madrasah termarginalkan oleh politik pendidikan Indonesia yang mementingkan dan mempedulikan sistem sekolah. Akibatnya, alumni madrasah tidak diperkenankan untuk bersaing dengan lulusan sekolah yang sederajat. Upaya untuk mendapatkan pengakuan negara dilakukan oleh madrasah. Eksistensi madrasah pun sedikit mendapat pengakuan dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Orientasi politik pemerintah tahun 1980 hingga 1990-an yang lebih akomodatif terhadap umat Islam membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perjalanan madrasah saat itu. Puncaknya, madrasah menjadi bagian dari sistem pendidikan setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Implikasinya perjuangan madrasah untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional tidaklah gratis. Ada cost yang harus dibayar oleh madrasah untuk mendapat pengakuan. Disadari atau tidak, madrasah nyaris mirip sekolah secara kurikulum bahkan makin tersekolahkan. Madrasah telah kehilangan ruh. Ilmu-ilmu keislaman dipangkas, dengan dalih penyederhanaan, untuk mendapat pengakuan. Maka, terlalu dini menyimpulkan bahwa perjuangan madrasah telah usai. Efektivitas Madrasah menjadi bagian sistem pendidikan nasional tidak kehilangan ruh dan terkikis nilai-nilai serta ajaran-ajaran agamanya, namun pendidikan pendidikan nasional mempunyai ruh, nilai-nilai dan ajaran agamanya. Kata Kunci: SKB 3 Menteri Tahun 1975, Eksistensi, Implikasi dan Efektivitas. Download lengkap Jurnal

  • ليس شيخك من سمعت منه Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja. وإنما شيخك من أخذت عنه Tapi, dia adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlaq و ليس شيخك من واجهتك عبارته Bukanlah guru sejati , seseorang yang hanya membimbingmu dengan retorika وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu. وليس شيخك من دعاك الى الباب Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu. وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya. وليس شيخك من واجهك مقاله Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu وإنما شيخك الذى نهض بك حاله Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat. شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى Guru adalah Cahaya yang menginpirasi Untuk mencapai tujuan dan impian, Karena inpirasi itu melahirkan Generasi yang berguna Bagi Nusa Bangsa dan agama, شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa membuat cermin hatimu jernih,sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.. وﷲ اعلم… TERIMAKASIH GURU

Opini Terbaru

  • Jakarta, PP Pergunu Oleh : Sholihin H.Z.* Moderasi Beragama, dua kata yang memiliki makna yang dalam apalagi kala digandengkan sehingga menjadi satu pengertian yang perlu pemahaman secara jelas dan komprehensif. Moderasi dimaksud dalam tulisan ini adalah jalan tengah (Tanya Jawab Moderasi Beragama, 2019: 1). Secara etimologi lainnya, moderasi adalah wasathiyah atau wasit sebagai orang yang menengahi satu kompetisi. Karena sebagai wasit maka ia berada di tengah-tengah. Kala dihubungkan dengan kata ‘beragama’ maka ia kemudian memiliki makna orang yang berpikiran tidak cenderung ke kanan atau ke kiri namun ia pada posisi pertengahan, cara berpikir ini diwujudkan dalam memahami sikap beragama. Sekali lagi, penekanannya adalah pada sikap beragama bukan pada agama itu sendiri. Hakikatnya, agama sudah mengajarkan sikap untuk ber-wasathiyah seperti halnya sikap seorang yang dermawan adalah baik karena orang yang dermawan berarti ia berada diantara dua sifat yaitu sifat boros dan sifat kikir. Sebagai penegasan pada tataran konsep dan definisi. Perlu penulis kemukakan makna antara moderasi beragama dan moderasi agama. Samakah keduanya? Sudah disebutkan di atas bahwa ajaran agama itu sudah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan dan keseimbangan. Maka pada istilah ini, bukan agama yang harus dimoderasi melainkan cara penganut agama dalam menjalankan agamanya itu yang harus dimoderasi. Semakin soleh seseorang maka semakin bermnafaat kehidupannya bagi sekitarnya bukan menjadi boomerang dan bagian dari masalah. Jika yang terjadi adalah dengan beragama justru menjadi kekacauan maka ada yang keliru dalam memahami agamanya sendiri. Beragama secara moderat dapat dimaknai pada dua sifat dasarnya yaitu adanya pola pikir yang wasathiyah dan sikap atau tindakannya yang mencerminkan wasathiyah itu sendiri. Namun sesungguhnya yang esensial dari dua hal di atas pada pola piker seseorang. Cara berpikir seseorang atau mindset dalam memandang sesuatu jika sudah diawali oleh konstruksi berpikir yang didasari atas asumsi (negatif), praduga yang kemudian tidak di-tabayyun (diperjelas) maka akan menggiring yang bersangkutan menjadi terpolarisasi antara dua sisi apakah cenderung ke kanan (radikalsime) atau ke kiri (liberalisme). Kesalahan memahami teks-teks keagamaan sebagai efek dari sikap yang inklusif menjadikannya sikap memvonis siapapun di luar pemahamannya mudah terjadi. Disinilah perlunya menjadikan moderasi beragama sebagai cara memahami agama secara wasathiyah bagi para tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh, tkokoh informal. Bahkan lebih dari itu para pengambil keputusan (anggota DPR/D; Presiden, Menteri, Gubernur dan dibawahnya) harus mendorong program ini menjadi gerakan kultural. Gerakan kultural moderasi beragama. Dengan demikian, sejatinya, moderasi beragama harus melibatkan semua stakeholder yang bukan hanya sebagai penonton tapi ia sebagai pelopor. Siapapun itu. Pelopor moderasi beragama dan siapapun memiliki tanggungjawab untuk mengenalkan agama secara ramah penuh dengan cinta kasih dan anti kekerasan. “seorang dengan lainnya ibarat satu tubuh, jiak ada bagian yang sakit maka lainnya iktu merasakan sakit”, inilah gambaran sederhana kita adalah bagian lainnya. Pernyataan ini bisa diperluas dimana kita memposisikan diri sehingga kemudian muncul istilah persaudaraan seakidah (islamiyah), persaudaraan sebangsa (wathaniyah), yang kemudian meluas menjadi persaudaraan sesama manusia (basyariyah). Penulis terinspirasi dengan pernyataan ulama sekaligus budayawan negeri yang dikenal dengan Gus Mus (KH. Mushthofa Bisyri), “Aku mencintaimu karena engkau adalah manusia dan meskipun engkau berbuat jahat aku akan tetap mencintaimu karena aku adalah manusia”. Dasar kemanusiaan menjadi bingkai spirit kebersamaan. Agenda besar atas dasar kemanusiaan akan menghilangkan sekat-sekat primordial. Kekejaman Israel pada bangsa Palestina dengan merebut tanah dan kebebasan rakyat Palestina adalah menjadi gerakan global kemanusiaan bahwa Palestina adalah tragedi kemanusiaan. Siapapun pasti menginginkan kedamaian dan kesejukan. Disinilah pentingnya moderasi beragama menjadi dasar pijak dalam pengambilan sikap dan langkah bagi siapapun. Mengenalkan wajah agama secara utuh dengan bekal keilmuan menjadi prasyarat agar pesan-pesan keagamaan dapat diterima secara baik. Dengan keilmuan yang cukup, maka pesan yang akan disampaikan tidak hanya bagaimana merancang kualitas informasi itu tapi juga mendesign cara bagaimana cara menyampaikan pesan itu sendiri. Pesan kebaikan dengan cara tidak etis dan cenderung mengarah kepada kekerasan maka bisa saja pesan itu akan berdampak negatif bahkan penolakan dan demikian juga sebaliknya konten yang kurang baik namun disampaikan dengan teknik dan metode yang simpatik tentu akan berpengaruh pada komunikannya. Syarat lainnya sebagai cara mengenalkan agama dengan ramah adalah melibatkan pihak yang memiliki kepentingan bersama dalam rangka moderasi beragama. Keterlibatan perempuan, tokoh adat (informal) dan pelaku kearifan sosial menjadi keniscayaan. Ketiganya termasuk modal sosial yang harus dirawat. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap merawat membutuhkan keseriusan dan kekompakan karena kebersamaan pasti berawal dari perbedaan yang perbedaan dan keragaman itu jika tidak dikelola secara arif dan bijaksana justru akan menjauhkan dari makna moderasi beragama itu sendiri. Akhirnya, kita harus sepakat bahwa moderasi beragama adalah cara mengenalkan agama dengan lebih ramah dan santun atas dasar kemanusiaan dengan sikap adil dan berimbang. * Penulis merupakan Ketua PC Pergunu Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat  

  • Jakarta, PP Pergunu Oleh : Sholihin H.Z.* Moderasi Beragama, dua kata yang memiliki makna yang dalam apalagi kala digandengkan sehingga menjadi satu pengertian yang perlu pemahaman secara jelas dan komprehensif. Moderasi dimaksud dalam tulisan ini adalah jalan tengah (Tanya Jawab Moderasi Beragama, 2019: 1). Secara etimologi lainnya, moderasi adalah wasathiyah atau wasit sebagai orang yang menengahi satu kompetisi. Karena sebagai wasit maka ia berada di tengah-tengah. Kala dihubungkan dengan kata ‘beragama’ maka ia kemudian memiliki makna orang yang berpikiran tidak cenderung ke kanan atau ke kiri namun ia pada posisi pertengahan, cara berpikir ini diwujudkan dalam memahami sikap beragama. Sekali lagi, penekanannya adalah pada sikap beragama bukan pada agama itu sendiri. Hakikatnya, agama sudah mengajarkan sikap untuk ber-wasathiyah seperti halnya sikap seorang yang dermawan adalah baik karena orang yang dermawan berarti ia berada diantara dua sifat yaitu sifat boros dan sifat kikir. Sebagai penegasan pada tataran konsep dan definisi. Perlu penulis kemukakan makna antara moderasi beragama dan moderasi agama. Samakah keduanya? Sudah disebutkan di atas bahwa ajaran agama itu sudah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan dan keseimbangan. Maka pada istilah ini, bukan agama yang harus dimoderasi melainkan cara penganut agama dalam menjalankan agamanya itu yang harus dimoderasi. Semakin soleh seseorang maka semakin bermnafaat kehidupannya bagi sekitarnya bukan menjadi boomerang dan bagian dari masalah. Jika yang terjadi adalah dengan beragama justru menjadi kekacauan maka ada yang keliru dalam memahami agamanya sendiri. Beragama secara moderat dapat dimaknai pada dua sifat dasarnya yaitu adanya pola pikir yang wasathiyah dan sikap atau tindakannya yang mencerminkan wasathiyah itu sendiri. Namun sesungguhnya yang esensial dari dua hal di atas pada pola piker seseorang. Cara berpikir seseorang atau mindset dalam memandang sesuatu jika sudah diawali oleh konstruksi berpikir yang didasari atas asumsi (negatif), praduga yang kemudian tidak di-tabayyun (diperjelas) maka akan menggiring yang bersangkutan menjadi terpolarisasi antara dua sisi apakah cenderung ke kanan (radikalsime) atau ke kiri (liberalisme). Kesalahan memahami teks-teks keagamaan sebagai efek dari sikap yang inklusif menjadikannya sikap memvonis siapapun di luar pemahamannya mudah terjadi. Disinilah perlunya menjadikan moderasi beragama sebagai cara memahami agama secara wasathiyah bagi para tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh, tkokoh informal. Bahkan lebih dari itu para pengambil keputusan (anggota DPR/D; Presiden, Menteri, Gubernur dan dibawahnya) harus mendorong program ini menjadi gerakan kultural. Gerakan kultural moderasi beragama. Dengan demikian, sejatinya, moderasi beragama harus melibatkan semua stakeholder yang bukan hanya sebagai penonton tapi ia sebagai pelopor. Siapapun itu. Pelopor moderasi beragama dan siapapun memiliki tanggungjawab untuk mengenalkan agama secara ramah penuh dengan cinta kasih dan anti kekerasan. “seorang dengan lainnya ibarat satu tubuh, jiak ada bagian yang sakit maka lainnya iktu merasakan sakit”, inilah gambaran sederhana kita adalah bagian lainnya. Pernyataan ini bisa diperluas dimana kita memposisikan diri sehingga kemudian muncul istilah persaudaraan seakidah (islamiyah), persaudaraan sebangsa (wathaniyah), yang kemudian meluas menjadi persaudaraan sesama manusia (basyariyah). Penulis terinspirasi dengan pernyataan ulama sekaligus budayawan negeri yang dikenal dengan Gus Mus (KH. Mushthofa Bisyri), “Aku mencintaimu karena engkau adalah manusia dan meskipun engkau berbuat jahat aku akan tetap mencintaimu karena aku adalah manusia”. Dasar kemanusiaan menjadi bingkai spirit kebersamaan. Agenda besar atas dasar kemanusiaan akan menghilangkan sekat-sekat primordial. Kekejaman Israel pada bangsa Palestina dengan merebut tanah dan kebebasan rakyat Palestina adalah menjadi gerakan global kemanusiaan bahwa Palestina adalah tragedi kemanusiaan. Siapapun pasti menginginkan kedamaian dan kesejukan. Disinilah pentingnya moderasi beragama menjadi dasar pijak dalam pengambilan sikap dan langkah bagi siapapun. Mengenalkan wajah agama secara utuh dengan bekal keilmuan menjadi prasyarat agar pesan-pesan keagamaan dapat diterima secara baik. Dengan keilmuan yang cukup, maka pesan yang akan disampaikan tidak hanya bagaimana merancang kualitas informasi itu tapi juga mendesign cara bagaimana cara menyampaikan pesan itu sendiri. Pesan kebaikan dengan cara tidak etis dan cenderung mengarah kepada kekerasan maka bisa saja pesan itu akan berdampak negatif bahkan penolakan dan demikian juga sebaliknya konten yang kurang baik namun disampaikan dengan teknik dan metode yang simpatik tentu akan berpengaruh pada komunikannya. Syarat lainnya sebagai cara mengenalkan agama dengan ramah adalah melibatkan pihak yang memiliki kepentingan bersama dalam rangka moderasi beragama. Keterlibatan perempuan, tokoh adat (informal) dan pelaku kearifan sosial menjadi keniscayaan. Ketiganya termasuk modal sosial yang harus dirawat. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap merawat membutuhkan keseriusan dan kekompakan karena kebersamaan pasti berawal dari perbedaan yang perbedaan dan keragaman itu jika tidak dikelola secara arif dan bijaksana justru akan menjauhkan dari makna moderasi beragama itu sendiri. Akhirnya, kita harus sepakat bahwa moderasi beragama adalah cara mengenalkan agama dengan lebih ramah dan santun atas dasar kemanusiaan dengan sikap adil dan berimbang. *Penulis merupakan Ketua PC Pergunu Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat.

  • Jakarta, PP Pergunu Oleh : Dr. KH. Nasrulloh Afandi Lc, MA* Perspektif Maqashid Syariah, selepas Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan. Syariat Illahi menegaskan, bahwa esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa takwa. Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Selepas karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya. Dari masing-masing “peserta” ada yang mendapatkan hasil maksimal ada yang sederhana. Strategi Mengontrol Takwa yang Terlupakan Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama bernama takwa. Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah. Harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am: 162) Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu. Banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah menggapai takwa. Karena itulah, sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa. Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan. Namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun. Kenapa Takwa menghilang selepas Ramadhan? Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya). Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa (Takwa) Itu. Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” selepas Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan? Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi. Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah) yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa. Untuk apa sih Takwa setelah Ramadhan? Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman kemudian tidak perlu saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya. Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: “Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi.” Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu tidak sia-sia. Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina spesial bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai ditandai dengan hari Raya Idul fitri sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya. Diantara point tujuan (maqshod) disyariatkannya ibadah Romadhan adalah diharapkan setelah Ramadhan takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya. Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya. Sungguh kerugian besar jika selesai Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu. Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan. Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat” . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu. Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa? Nabi saw pun bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri? Waspadalah! Itulah fenomena

  • Pontianak, PP Pergunu Oleh: Sholihin Hz* Ramadan 1445 H sudah dilewati dengan berbagai amal sholeh di dalamnya. Tidak ada daya dan kuasa kita, kecuali atas izin-Nya kita bisa membersamai Ramadan hingga akhirnya. Ramadan sudah berakhir. Ramadan datang dengan membawa ampunan, kemaafan dan pesan untuk peduli dengan sesama makhluk. Kini Ramadan telah meninggalkan kita. Pertemuan yang akan datang? Hanya akan ada dua pilihan. Kita masih ada sehingga bisa menemui Ramadan atau kita tidak akan ketemu karena kita telah berpindah alam berikutnya. Sejatinya, Ramadan terutama pada akhir Ramadan, ibarat sebuah pekerjaan maka ia akan mendekati titik akhir dengan finishing dan penghalusan. Digembleng oleh Ramadan untuk menjadi pribadi yang tepat waktu melalui tepat waktu saat berbuka puasa. Dibina untuk menghidupkan malam-malam yang dilewati dengan sholat malam melalui tarawih/ witir dan tahajjud. Dilatih untuk mengendalikan sesuatu yang halal melalui didikan menahan makan dan minum siang hari Ramadan. Dibimbing untuk dekat dengan Al-Quran karena mulianya Ramadan salah satunya karena di dalam bulan ini al Quran diturunkan, pesannya adalah jika ingin mulia maka bersahabatlah dengan al Quran meskipun di luar Ramadan. Dalam hadits shohih disebutkan, diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya Al Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya”. Akhir Ramadan kita dijanjikan ampunan dan kemuliaan dengan adanya “lailatul qadar” atau malam kemuliaan. Yang beribadah pada malam itu dan dikehendaki-Nya bagi seorang hamba maka berbagai kemuliaan didapatkannya dan status keadaan saat itu adalah khairun min al fi syahrin atau lebih baik dari seribu bulan. Bersumber dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari) Demikian juga sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban “sesungguhnya amal itu di penghujung”. Pesan yang dapat diambil dari hadits ini adalah semangat beramal salah satunya dengan menjaga kekonsistensian kita dalam beramal. Konsistensi atau istiqamah dan menjaga semangat Ramadan sejak awal, saat pertengahan dan akhir dari perbuatan itu sendiri. Terkait yang terakhir ini adalah, kebanyakan kita semangat di awal Ramadan dan datang paling awal namun di akhir Ramadan nampak sekali penurunan drastis dari pola hidup yang penuh dengan spiritual berpindah menjadi fokus material. Allah SWT dengan rahman dan rahim nya sangat menyayangi kita, hanya kita yang tidak tahu bagaimana memahami kasih sayang-Nya. DIA sangat tahu dengan kondisi kita hanya kita yang tidak tahu bagaimana menempatkan diri kita saat berhadapan dengan-Nya. DIA Pemilik jiwa raga kita, Dia yang mengatur dan memberi rezeki kita dan kita diingatkan hanya untuk bersyukur. Meskipun nyatanya IA sindir kita dengan qoliilan maa tasykurun (sedikit sekali yang bersyukur). Sangat banyak pelajaran yang bisa kita ambil manakala kita mau sejenak merenungkan diri untuk muhasabah Ramadan. Bukankah setiap perintah yang diwajibkan-Nya pasti banyak kebaikan dan kemaslahatan di dalamnya. Demikian juga larangan yang dikeluarkan-Nya adalah mengandung kebaikan untuk hamba-Nya. Selama 11 bulan kita beraktifitas dengan berbagai situasi dan keadaan, dengan pergaulan sekitar kita yang kita ketahui haramnya, kita ketahui halalnya namun kadang terlewatkan dengan yang syubhatnya maka Ramadan dihadirkan-Nya seakan bak charge keimanan agar terjaga fitrah kesucian kita. Dibuka-Nya pintu ampunan, dilipatgandakan-Nya segala kebaikan, disediakan-Nya moment-moment istimewa untuk simpuh menangis dan menyesali segala dosa. Ramadhan tidak hanya sebatas ibadah ritual untuk investasi pribadi, Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan bahwa di sekitar kita ada anak-anak yatim yang perlu disantuni, ada janda-janda miskin, ada panti asuhan yang perlu bantuan, ada orang tua papa yang tidak dipedulikan oleh anak-anaknya. Ramadan seakan angin segar bagi orang-orang lemah (mustadh’afin) yang menjadi ladang amal bagi siapapun yang ingin menyucikan hartanya melalui zakat baik zakit fithrah, mal maupun infaq dan shadaqah. Bulan Syawal 1445 H. ini yang dimaknai kembalinya kita kepada fitrah manusia dengan makan dan minum seperti biasanya. Jangan kita nodai hari yang fihtri ini dengan mengumbar nafsu syahwat kita dengan menghalalkan apa yang diharamkan agama. Jaga keluhuran fitrah kita dengan berpakaian sebagai aturan syariat Islam, bukan sekedar bagus dan mahalnya tapi pertanyaannya apakah pakaian kita menutup aurat atau tidak. Kita sudah melewati Ramadan dan sebenarnya tugas kita lebih berat lagi yakni menghadirkan nilai-nilai Ramadan pada 11 sesudah Ramadan. Mari kita tetap dermawan dengan zakat, infaq dan shadaqah meskipun di luar Ramadan. Mari kita tetap hidupkan dan makmurkan masjid meskipun Ramadan sudah berakhir dan mari kita jaga lisan, mata dan seluruh panca indera kita dari yang merusak keimanan kita meskipun sudah di luar Ramadan. Hati kita sudah dilembutkan dengan berbagi pada sesama maka mari nilai-nilai itu kita terapkan pada bulan-bulan sesudah Ramadan. Kita sudah menjadwalkan untuk dekat dengan al Quran maka mari jadikan jadwal membaca al Quran ini juga pada bulan sesudah Ramadan. Kita hadir diberbagai kajian keilmuan melalui kultumnya, kuliah subuhnya, peringatan NQ-nya bahkan i’tikafnya maka mari semangat untuk menuntut ilmu tetap hadir dalam jiwa kita sehingga kita dipermudah jalan menuju surga. Semoga amaliah Ramadan 1445 H diterima oleh Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekurangannya dan disampaikannya kita menemui Ramadan 1446 H dalam keadaan sehat lahir dan batin. * Penulis merupakan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat sekaligus Ketua PC Pergunu Kota Pontianak.

Agenda dan Kegiatan